Rain

19 4 0
                                        

    Sadarlah Azeela, sudah semestinya begini.
Gadis itu terdiam, menatap tiap tets hujan yang jatuh kebumi. Hujan belum juga reda sejak sore tadi. Beberapa orang memilih berteduh dan Sebagian ada yang menerjang hujan dengan motornya. "Semoga hujan tidak berniat berhenti." Gumannya pelan.

   Ia baru saja pulang sekolah bersama Arkan. Tiba-tiba hujan turun jadi mau tidak mau mereka berteduh untuk memnghindari basah terkena hujan.

  "Ini, pakai jaketku. agar badanmu hangat." kata Arkan. Lelaki itu duduk disamping Azeela, memasangkan jaket yang tadi ia tawarkan. 

  "Sepertinya hujannya akan bertahan lama Az."
Mereka sedang berteduh dipinggiran kota yang memang sudah tutup karea turun hujan. Kemilau basah lampu-lampu jalan, papan reklame, suara klakson moil dan motor, juga payug-payung yang menerjang hujan, semuanya adalah perpaduan indah saat hujan bagi Azeela maupun Arkan.
   Azeela masih diam. Air hujan sesekali mengenai mereka. Ia tidak menghindari air hujan itu, membuat helai rambutnya menempel dikening dan pipinya, napasnya tertahan, dan matanya sayu. Lelaki itu tahu betul apa yang gadis ini sedang rasakan, setelah semua kejadian yang ia alami beberapa bulan terakhir ini, hanya jika bersama Arkan ia merasa seperti memiliki seseorang yang bisa Azeela jadikan tempat pulangnya. 

   Hujan sudah mulai mengajak kawanan awannya untuk pergi dari kota ini, padahal Jakarta jarang sekali kedapatan hujan seperti tadi, hanya panas dan polusi dimana-mana setiap harinya. tapi tetap saja Jakarta selalu istimewa bagi Azeela.

  "Pulang yu Zeel.." Arkan berdiri, lalu mengulurkan tangannya kepada Azeela. Gadis itu menatap uluran tangan Arkan, entah kenapa ia cepat sekali merasa terharu dengan sikap Arkan beberapa bulan terakhir ini. Ia meraih uluran tangan itu dengan senang hati. 

  "aku udah pulang kok Ar." ucapnya pelan. Arkan merogoh saku celananya untuk mengambil kuci motornya, lalu menyalakan motornya dengan satu tangannya, karena tangannya yang lain sibuk megenggam tangan Azeela. Seperti taku sekali gadis itu hilang jika ia melepaskan genggamannya.
   Arkan melajukan motornya dengan pelan, sangat hati-hati karena jalanan licin setelah diterjang hujan yang lumayan lebat tadi. Hening, tidak ada yang bicara antara Azeela maupun Arkan. Azeela tenggelam dalalm pikirannya, sedangkan Arkan fokus mengendarai sepeda motornya itu.
***

when i lost youCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang