Love and Reality

32 5 3
                                        

 Saya akan menceritakan seorang pemimpi, penolong, dan pemberani, seorang wanita yang menurut saya tepat dengan kata sempurna. Memiliki paras secantik bulan, hati seputih salju, tangan selembut sutra, dan tekad sekuat baja. Seseorang yang akan mengubah hidupku, dia bernama Bella.

Bella merupakan anak yang tak terlalu istimewa bila dilihat dari sudut pandang ekonomi maupun keluarganya. Ayahnya seorang pemabuk sementara ibunya seorang kupu-kupu malam dan keadaan ekonominya tak terlalu bisa mendukung hidupnya, meskipun dalam keadaan gelap tersebut Bella dapat melihat sisi cerah. Tak pernah mengeluh ataupun menangis, dia bermimpi bahwa suatu hari dia akan menemukan pangeran impiannya yang akan membawanya keluar dari mimpi buruk ini.

20 tahun berlalu.

Bella keluar dari mimpi buruknya tanpa sedikitpun bantuan dari pangeran impiannya, Bella memiliki mimpi lainnya yaitu menjadi seorang dokter, tetapi dengan ekonominya Bella pun merelakan mimpi tersebut dan berakhir menjadi relawan di salah satu Panti Sosial. Meskipun begitu Bella selalu bersyukur karena di tempat tersebut Bella dapat membantu orang-orang yang membutuhkan bantuannya.

Kehidupannya pun berjalan dengan apa yang diharapkan Bella, suatu hari Bella pergi ke Swalayan untuk membeli perlengkapan dan kebutuhan lainnya untuk Panti Sosial. Namun, disana Bella melihat seorang lelaki, seseorang yang menurut Bella merupakan Pangeran impiannya. Dipandangan Bella lelaki itu terlihat seperti seseorang yang menunggangi kuda putih yang baru saja keluar dari cerita dongeng. Bella hanya terdiam kagum oleh ketampanannya, lelaki itupun menyadari Bella tak bisa berhenti menatapi dengan mulutnya yang melongo.

"Halo, apakah Kaka tidak apa-apa?" sambil mengalambaikan tangan ke muka Bella yang masih melongo, dan saat Bella tersadar bahwa sekarang lelaki itu sekarang berada di hadapan mukanya, muka Bella pun berubah menjadi merah tomat dan merasakan malu yang sangat.

"eeh?......AaaaAaaaHh" dengan begitu Bella berlari sekencang mungkin meninggalkan barang beliannya dan lelaki tersebut.

"Kak! Barangnya tertinggal!" tetapi Bella tetap tidak medengar ucapan dari lelaki tersebut.

Sesampainya Bella tiba di Panti Sosial, Bella tersadar bahwa barang beliannya tertinggal di Swalayan, sebenarnya Bella bisa saja kembali untuk membawa kembali barangnya tapi dia sangat malu seakan-akan dia lebih baik mati daripada kembali ke Swalayan tersebut.

Broom...broom...suara mobil terdengar dari kejauhan, mobil berwarna putih berhenti didepan Panti Sosial, dan saat pintunya dibuka, betapa kagetnya Bella melihat orang yang keluar dari mobil tersebut.

"Kamu ?! bagaimana kamu bisa tahu aku ada disini ?! untuk apa kamu kesini ?! dan mengapa kau membawa barang belanjaanku, kembalikan !!" napanya tidak teratur, keringat dingin keluar dari tubuh Bella, cara bicara yang terkesan cepat, dan tanpa basa-basi Bella langsung mengambil barang belanja dari tangan lelaki tersebut.

"ehhh...Sama-sama" lelaki itu hanya terdiam ditempat sambil melihat Bella berjalan masuk kedalam.

"TERIMA KASIH" lalu menutup pintu dengan keras, akhirnya Bella pun melepaskan nafas yang ditahan daritadi. Bella melihat dari celah pintu dan melihat lelaki itu tetap berdiri diluar seperti menunggu Bella. Karena Bella memiliki rasa bersalah, Bella pun keluar untuk meminta maaf kepada lelaki tersebut.

"Maaf...kelakuan ku terhadap kamu tidak pantas" tetapi anehnya lelaki itu malah menjulurkan tangannya ke hadapan Bella.

"Tidak apa-apa, nama ku Edward"

Dengan malu-malu Bella pun menjawabanya "Namaku Bella"

Beberapa orang berkata bahwa cinta datang dari tatapan, sentuhan, dan perkataan pertama, dan mungkin itu benar. Setelah kejadian tersebut, Bella dan Edward pun menjalin hubungan selama 2 tahun lamanya.

Ini merupakan hal-hal yang diimpikan oleh Bella, yaitu mengencani pangeran impiannya yang Bella impikan semenjak kecil. Tetapi tak semua dongeng memiliki akhir yang Bahagia, cerita dongeng Bella berubah menjadi mimpi buruknya kembali saat sang Pangeran mulai menyerupai ayahnya.

"Bisakah kau berhenti?!"

"Hmmm?...oh hai sayang" bau alkohol yang menusuk hidung, matanya yang merah, dan gerakan badan yang teratur mengingatkan Bella kembali pada sosok ayahnya.

"Mengapa kau jadi begini? 2 tahun kita Bersama dan kau tak pernah seperti ini, apa yang terjadi Edward?!"

"Shhhttt...!! Aku pusing" hanya 2 kata Edward kembali meminum barang haram tersebut.

"Mungkin sebaiknya kita akhiri ini, aku tak bisa kembali ke mimpi burukku lagi, Ed"

Mendengar itu Edward berhenti meminum, mungkin pendengaranya masih memproses kata yang baru saja dilontarkan oleh Bella.

"HahahaHAHAHAHA Bella...Bella...Bella, Putus? Apakah aku mengingatkan mu kepada ayah mu?!!"

"Kau berubah, aku kira kau...kau...aku mencintaimu, aku berikan seluruh hati untuk mu, aku bersedia melakukan apapun untuk mu, aku kira kau adalah Pangeran yang akan membawaku kedalam cerita dongeng mu-..." air mata berlinangan dari mata Bella.

"Dongeng hanyalah cerita fiski, hayalan, dan impian mu memiliki Pangeranmu yang sempurna itu tidak nyata. Dunia kejam dan akan selamanya begitu...jadi terimalah kenyataan nya. Dan jika kau benar-benar mencintaiku seharusnya kau takkan melontarkan kata berakhir. Dewasalah Bella" perkataanya yang membuat hati Bella ditusuk 100 pisau.

"Aku memang mencintaimu, Ed. Tapi aku tak bisa jika kau berubah menjadi seseorang yang sudah lama aku lupakan"

"Jika itu yang kau inginkan, baiklah...aku tidak butuh kamu, ada banyak wanita yang menunggu dekapan ku"

Dengan itu maka kedua benang yang saling mengikat kedua insan tersebut terputus, cinta hanyalah dongeng yang diceritakan untuk mengalihkan pandangan dari jahatnya dunia.

"Aku harap kau sadar bahwa dunia tak sepenuhnya jahat, selamat tinggal Edward"

Bella pergi meninggal kan Edward yang masih mabuk dan terkapar dilantai, tanpa melihat kebelakang, Bella melanjutkan hidupnya berharap bahwa masih ada pangeran yang menunggunya dan terus melanjutkan peranya sebagai pemberi cahaya harapan di dunia yang gelap ini.

Aku sudah lama tidak menemui Bella semenjak kejadian tersebut, mungkin Bella sudah menemukan seseorang yang memperlakukanya bak sang Putri, dan mungkin Bella benar bahwa masih ada kebaikan dan harapan dikelamnya dunia ini.

Kepergian sering kali dapat memberikan tujuan baru dalam kehidupan, terima kasih Bella, kau telah menyadarkan ku akan hal itu. Dan pilihan mu untuk meninggalkan ku sangat tepat, karena aku takkan bisa dan tidak akan pernah mendapatkan cintamu yang murni.

Penuh Cinta,

E. 

 

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
BELLA"love and reality"Stories to obsess over. Discover now