"Kalau sudah takdirnya kita bisa apa?? Serahkan semuanya kepada Allah SWT... "
.
.
.
.
.
Pagi hari...
Suara kicau burung terdengar merdu di kendang telinga menyapa di pagi hari, matahari yang cerah pun tak kalah menyapa. Meski mata masih mengantuk tak membuat halangan untuk wanita ini, ia begitu giat dalam bekerja tak pernah putus asa. Di umurnya yang 24 tahun ini membuatnya giat dalam bekerja, sedangkan kedua orangtuanya itu menginginkan sang anak untuk segera menikah. Bukan Yumna namanya jika dirinya tidak bisa membujuk kedua orangtuanya itu untuk tidak mengungkit pernikahan didepannya.
Yumna Salsabila wanita cantik berparas Turki dan Sunda karena kedua orangtuanya berasal dari sana. Hobinya bekerja, menggambar dan menjahit. Karena kerja kerasnya Yumna panggilannya sudah mempunyai toko pakaian muslim yang cukup besar dan bisa membawa kedua orangtuanya pergi untuk ibadah haji. Yumna mempunyai adik laki-laki yang bernama Evan Marvino berumur 19 tahun dan sekarang bersekolah di salah satu sekolah tinggi menengah yang berkelas dan mengambil jurusan Al-Qur'an islami di Turki. Yap adiknya memilih bersekolah jauh di sana dan tinggal seorang diri di asrama dari tempatnya sekolah. Saat ini, Yumna bersiap-siap untuk ke butik nya karena ada janji dengan sepasang calon pengantin.
Tap Tap Tap....
Suara sepatu yang ia kenakan beradu dengan ubin lantai warna putih itu. Suara tersebut mengalihkan kedua orangtuanya serta bibik atau biasa di sebut art. Senyuman manis nya tak pernah absen untuk ia perlihatkan kepada keluarga dan teman dekatnya saja. Kecuali yang dia kenal dan pelanggan butik nya Yumna akan bersikap dingin. Bukan bermaksud sombong ia bersikap seperti itu, Yumna hanya ingin menjaga dirinya dari orang yang bukan muhrimnya.
"Pagi ma, pa"sapa cerianya sembari menarik kursi lalu ia duduk di samping sama mama.
"Pagi sayang"balas kedua orangtuanya serempak.
Yumna mengambil dua lembar roti tawar lalu ia mengolesinya dengan mentega saja, jika orang lain memakan roti beserta selai buah agar rasanya lebih nikmat tapi tidak dengan Yumna dimana ia paling anti memakan selai rasa buah dan lebih suka memakannya dengan mentega saja.
"Permisi non"ucap si bibi menuangkan segelas susu putih kedalam gelasnya Yumna.
Yumna mengangguk ramah sembari tersenyum"Makasih bik"
"Iya non"
Selesai mengolesi kedua roti nya Yumna segera memakannya dengan perlahan sembari memainkan ponselnya. Hal itu tak luput dilihat oleh kedua orangtuanya.
"Nana... Kalau makan ponselnya di taruh dulu atuh, gak baik"tegur sang mama dengan nada lembut.
Yumna pun melihat dengan tampang nyengirnya"Hehe maaf ma soalnya klien ku lagi chat gitu bicarain desain gaun buat nikahannya gitu"
"Iya mama tau anak mama ini sibuk banget sama kerjaannya, tapi alangkah baiknya kalau makan itu jangan sambil bermain ponsel.."kata mamanya sembari mengusap kepala Yumna yang tertutup oleh khimar.
Yumna yang tak mau membantah perkataan dari sang mama pun menurut ia langsung meletakkan ponselnya di meja lalu ia meminum susu putih nya.
"Kamu pagi-pagi udah rapi aja mau ke butik, Na?"tanya sang papa yang usai menyeruput kopi nya.
Yumna menganggukkan kepalanya sambil mengelap bibirnya usai makan"Iya pa, ini mau ke butik soalnya ada janji sama klien buat bicarain desain gaun pengantin yang mau di pake gitu."
YOU ARE READING
Takdir Hidupku
Non-FictionKetulusan hati seorang wanita itu begitu murni dalam diri sendiri. Wanita mempunyai 2 sifat yang melekat dalam diri, yaitu ketulusan dan kesabaran. Benar kata orang jika wanita itu adalah malaikat atau bidadari karena sama-sama mempunyai sifat yang...
