01. Rookies

1K 122 20
                                        

Wendy duduk di samping Taeyong yang terlihat sedang memandang langit sore dari atap gedung. Gadis muda itu tanpa ragu menarik pergelangan tangan pria muda itu dan menempelkan plaster luka di sana. Gadis itu kini meneliti wajah Taeyong kalau-kalau ada luka goresan di sana. Ia menemukan sedikit goresan di atas wajah tampan itu, di pipi kiri. Wendy mengeluarkan sebuah salep kemudian mengoleskannya pada luka itu. Taeyong mengerutkan alisnya. "Perih." Ucap pria muda itu. Wendy hanya tersenyum menanggapi keluhan Taeyong.

"Meganya indah." Ucap Wendy. Taeyong melihat wajah Wendy dari samping, ia tersenyum. "Langit selalu indah untuk dipandang." Taeyong menimpali. Seulgi yang sedang merebahkan dirinya bersama Irene tak jauh dari tempat Taeyong dan Wendy duduk sedari tadi mengeluh bahwa ia lapar. Gadis itu memprotes jatah makan trainee perempuan lebih sedikit dibandingkan trainee laki-laki. "Seulgi noona, aku bisa membagi jatah makanku untukmu." Ucap Taeyong. "Benarkah?" Seulgi senang bukan main. Taeyong mengangguk. "Yey!" Seulgi bersorak. "Diamlah Seulgi, suaramu bisa di dengar oleh seluruh penghuni gedung ini." Ucap Irene yang sedari tadi murung. Irene tiba-tiba menangis. "Aku lelah, aku ingin segera debut." Ucap Irene disela isakannya. Seulgi memeluk Irene erat.

Pemandangan itu entah mengapa membuat Wendy mengingat sesuatu yang terjadi beberapa hari yang lalu. Hari Senin yang lalu, ia dipanggil oleh salah seorang staf. Staf itu mengatakan bahwa Wendy akan dimasukkan ke dalam line debut. Mengingat hal itu, Wendy merasa bersalah pada Seulgi dan Irene yang terlebih dahulu menjadi trainee.

🌹🌹🌹

Wendy sedang memetik gitarnya di tengah bunga yang bermekaran kala musim semi. Ia menyenandungkan lagu cinta ditemani dua ekor rusa yang duduk tak jauh darinya. Seekor kupu-kupu bersayap kuning hinggap di salah satu hidung rusa itu dan membuat rusa itu bersin. Wendy tertawa keras dibuatnya.

Gadis itu berhenti tertawa saat melihat seorang berpenampilan layaknya pangeran dari negeri dongeng. Pria itu menuntun kuda putihnya yang menawan ke arah Wendy. Wendy mengenal siapa pria itu, ia sangat mengenalnya.

Pria itu duduk di samping Wendy tanpa permisi. "Langit selalu indah untuk dipandang bukan?" Ucap pria itu yang Wendy rasa pernah diucapkan oleh pria itu sebelumnya tapi entah kapan. "Benar." Wendy menimpali pria itu. Pria itu menggenggam jemari Wendy, Wendy tak keberatan akan hal itu, ia justru menyandarkan kepalanya di atas bahu pria itu.

Wendy membuka matanya ketika perlahan pria itu mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Wendy. Langit-langit putih astrama, oh astaga itu hanya mimpi. Wendy menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan mungil miliknya. Ia ingat siapa pangeran itu. Oh tidak, ia masih mengingat wajah pria itu ketika akan menciumnya.

Wendy berjalan menuju dapur dan menegak air dingin. Ia masih terus mengingat ekspresi pangeran itu, menggelikan tapi ia ingin itu terjadi di kehidupan nyata meski itu adalah sebuah ketidakmungkinan.

🌹🌹🌹

Taeyong menundukkan wajahnya ketika pelatih memarahinya karena ia melakukan kesalahan kecil. Semua trainee terkadang merasa iba pada Taeyong karena seolah-olah para pelatih menganaktirikan pria muda itu. Semua trainee tentu sering dimarahi tapi tak sesering pria muda bermarga Lee itu.

Pria muda itu kini menghirup oksigen di dalam ruang latihan dengan rakus. Ia terduduk kemudian tidur terlentang di atas lantai yang dingin. Pria muda itu lelah.

Peluh membuat baju yang dikenakan oleh pria muda itu menjadi basah. Malam ini, ia tertidur di ruangan ini sendirian dengan lampu yang masih menyala terang.

Seseorang masuk ke dalam ruangan itu dengan mimik wajah khawatir. "Kau tak apa?" Tanya Wendy pada Taeyong. Taeyong membuka matanya lalu tersenyum pada Wendy. Taeyong tersenyum lagi melihat mimik wajah Wendy. "Aku baik-baik saja." Taeyong mendekatkan dirinya pada Wendy, ia hampir saja mencium gadis itu. "Ma-maaf. Aku akan tidur di sofa. Noona silahkan berlatih." Taeyong meninggalkan Wendy yang masih gugup dengan apa yang baru saja terjadi. "Itu terlalu dekat." Gumam Wendy. "Noona mengatakan sesuatu?" Tanya Taeyong yang kini sudah merebahkan dirinya di atas sofa ruangan itu. "Tidak, aku tak mengatakan apapun." Jawab Wendy.

Taeyong justru tidak bisa tidur. Ia justru memperhatikan Wendy yang sedang berlatih. Ia mendekati gadis itu dan mengajarinya agar gerakan gadis itu semakin bagus. Kini mereka berdua sama-sama berlatih hingga jam menunjukkan pukul sembilan malam.

Mereka berdua berada dalam lift yang sama dengan tujuan yang sama pula yaitu pulang ke asrama. Mereka memakai jasa antar jemput yang disediakan oleh perusahaan. Di dalam mobil itu keduanya sama-sama diam, bukan karena canggung tapi karena lelah.

"Soal tadi----" Ucap Taeyong dan Wendy berbarengan. Mereka kembali diam. "Besok aku ingin makan es krim." Ucap Wendy yang berusaha mengalihkan pembicaraan. "Ingat berat badanmu. Pelatih bilang begitu." Taeyong terkekeh pelan.

"Kenapa kamu selalu terluka?" Tanya Wendy yang kini mengoleskan salep ke tangan Taeyong. Taeyong menggenggam jemari Wendy dan membuat gadis itu menatapnya. "Karena aku bekerja keras." Taeyong tersenyum. "Itu bagus, memang harus seperti itu." Wendy ikut tersenyum.

🌹🌹🌹

Behind The CamerasWhere stories live. Discover now