Tubuhku gemetar melihat seorang yang muncul di hadapanku. Apalagi saat ia membuka penutup wajahnya.
"Masih ingat siapa aku?" ucapnya. Jari-jemarinya yang panjang melepas penutup wajahnya perlahan. Sial! Keringat dinginku menetes setiap kali ia mnyeringai licik mengagumi dirinya. Tubuh tinggi dengan Pundak yang begitu bidang dengan otot-otot yang menghiasi dirinya sertak otaknya yang cemerlang, pantas saja kalua ia mengagumi dirinya. Aku mengeluh dalam hati mendapati tantangan yang benar-benar tak kusangka. Kukira selama ini semuanya berjalan di bawah rencanaku. Tapi ternyata, semuanya berjalan di bawah rencananya. Hfft, jadi apakah aku hanya bisa menggigit bibir dan melangkah mundur? Berjalan menuju ketidaksuksesan? Tidak! Tidak! Aku tak pernah mau lagi mundur untuk kekalahan setelah kejadian itu!
"Kau pasti sedang menyumpahi kelicikanku, kan? Hahaha, sudahlah sumpahi saja aku semaumu! Aku sudah mempersiapkan diriku untuk berlapang dada menerima segala bentuk penghinaan atau apalah itu," cerocosnya. Cih! Lagi-lagi ia menyeringai.
Sial! Aku menggertakkan gigi-gigiku. Otot rahangku mengeras menahan segala emosi yang bercampur. Apa yang harus kulakukan?
"Kau bertanya apa yang sebaiknya kau lakukan? Sudahlah, mundur saja. Kurasa itu pilihan yang sangat tepat. Mundurlah dan jangan ganggu aku, lalu nikmati dunia ini penuh kemenangan. Oh ya, akan lebih baik lagi, jika kamu ikut bersamaku. Kamu kan memiliki pertahanan fisik yang kuat, siapa tahu kau berguna. Hahaha...", timpalnya. Dasar! Dia bisa menebak arah pikiranku! Aku memilih untuk mendengarkan "nasehat" yang ia lontarkan untuk setelahnya bertindak. Aku belum tahu rencana yang tepat dan hanya memohon takdir berkata lain.
***
AOC a.k.a Agent of Change, merupakan salah satu organisasi internasional rahasia yang ada di muka bumi. Masyarakat umum sudah banyak mendengar tentang organisasi ini. Namun, mereka tidak pernah tahu, di mana markas-markas mereka, siapa pemimpin mereka, pembesar, anggota, serta keluarga anggota. Semua yang sudah terjalin hubungan dengan organisasi itu wajib bungkam atas hal tersebut. Sekali ketahuan, hukumannya adalah dikeluarkan dari keanggotaan dan dihapus segala memorinya tentang AOC. Organisasi ini bersistem seperti akar pohon. Ketua besar mereka akan mengurus bawahannya dan membentuk menjadi satu tim. Kemudian, bawahnnya membimbing bawahannya lagi hingga seterusnya ke bawah. Satu tim beranggotakan 5 orang, dengan satu ketua, 4 anggota lainnya. Sampai saat ini aku belum tau bagaimana mereka merekrut anggota baru. Yang jelas, aku bergabung dengan mereka saat menduduki tahun kedua di jenjang sekolah menengah atas. Suatu malam ayahku mendapatkan amplop surat perihal permohonan izin perekrutan anggota baru. Saat itu aku benar-benar bodo amat dengan semua itu. Tiba-tiba saja, ayahku berteriak-teriak tidak jelas, "Ya Tuhan! Anakku?! Kenapa bisa?! Si bandel goblok ini bahkan terpilih jadi salah satu dari mereka?! Baiklah, aku akan setuju kalau begitu! Semoga anakku berkembang baik" Aku hanya mendengar heran sambil bertanya-tanya apa yang terjadi padanya. Jadi, aku hanya cuek tentang teriakan ayah waktu itu. Tetapi, esok sore orang asing berjaket hitam dengan memakai topi hitam menjemputku ke suatu tempat. Ayahku menyuruhku untuk ikut dengannya. Jadi, kupatuhi saja permintaan lelaki yang berteriak-teriak kemarin. ***
BRAAKK!!! Seorang berotot besar itu berhasil memecahan 5 tumpukan batu bata yang tersusun. Namaya Crimson. Bukan namanya sih, tapi kode nama. Kita tidak boleh saling mengenal nama asli kita. Hanya kode nama. Sore ini kita sedang berlatih fisik di lapangan yang ada di tengah-tengah markas cabang daerah ini. Karena si Crimson itu memang sudah pakar dari dia lahir, makanya Navy – ketua timku – memerintahannya untuk menjadi contoh bagi kita bertiga yang belum terlalu jago. "Good job," seru Navy seraya menepuk pundak kiri Crimson. Ia tersenyum bangga mendengar pujian dari ketuanya sendiri. Tepuk tangan lain menyusul dari ketiga temannya yang menyaksikan bakat Crimson. Tentu saja dengan hanya melihat hal kecil itu sudah membuat kami terpukau."Wah, bagaimana bisa kamu melakukannya dengan sangat mudah? Batu itu bertumpuk-tumpuk dan kau.... benar benar luar biasa!" cerocos Turquoise, rekan laki-lakiku yang memang sangat cerewet. Kalau yang satu ini, jangankan otot besar, daging yang ada pada tubuhnya saja pas-pas an. Tinggi badannya juga jauh di bawahku. Tapi, jangan salah! Begitu-begitu dia itu sangat jenius. Ia pernah hampir dipenjara gara-gara saat kecil sempat berhasil meretas jaringan intelejen internasional. Tapi karena saat itu ia masih berumur 6 tahun dan dengan alasan hanya bermain-main, untung saja aparat setempat memutuskan untuk memaafkannya dan hanya menasehatinya agar tidak bermain yang aneh-aneh. Sedangkan rekanku yang satu lagi, ia jago mengutak-atik perkabelan, pokoknya lebih ke susunan suatu teknologi. Ia pandai membuat robot-robot dan alat teknologi canggih. Kode namanya Azure. Ia bukan perempuan yang cimit-cimit dan manja. Ia lebih terlihat seperti perempuan yang tegas, teguh pendirian, dewasa dan mungkin ....galak. Tapi, aku tidak tahu juga. Karena kita baru bertemu kurang lebih seminggu. Ya, mereka semua seumuran. Dan setelah lewat satu minggu ini, bakat-bakat luar biasa mereka mulai terlihat. Namun, apesnya kenapa aku sama sekali tidak menemui bakat terpendamku ya? Apa memang aku yang tidak memilki bakat kecuali bermalas-malasan dan kabur dari pelajaran. Tuh kan, aku ini tidak tahu kenapa aku dicebloskan di organisasi rahasia ini. Padahal, sehari-hari aku sering bolos sekolah. Nilai pelajaranku? Hampir semuanya merah! Ekstrakulikuler? Jangan tanyakan itu. Aku tidak ikut ekstrakuliker dan keorganisasian apapun. Ayahku selalu dipanggil pihak sekolah gegara perilaku burukku. Aku tidak ada spesial-spesialnya kan? Maka karena itu, keluarkan aku dari sini! Woi, jangan diam saja! Cepat, keluarkan aku! "Chartreuse," Navy memanggil kode namaku saat waktu istirahat. "Aku ingin bicara empat mata denganmu," "Ada apa, Navy?" tanyaku padanya. "Hmm, seperti yang kita lihat dalam seminggu ini, kurasa perkembangan kita sangat baik..." ia mulai membuka obrolan. Oke, terus. "Tapi sayangnya, mengapa aku tidak melihatnya padamu ya?" (Baca : Ah, kamu payah sekali dan tidak memilki bakat apapun!)GUBRAK!!! Ya, kan benar. Navy juga berpikiran begitu. Maka karena itu, cepat batalkan perekrutanku! "Jadi, kuputuskan, kau akan berlatih tiap sore setiap hari oke?!" ucap Navy santai tanpa ragu.Eh, apa aku tidak salah dengar? Latihan tiap sore?! Padahal yang lain hanya berlatih 3 kali dalam seminggu. Hei kenapa kau tidak men-drop out ku saja. Mengapa malah membebaniku dengan kegiatan-kegiatan yang melelahkan?! Hfft, ya sudahlah. Lagian aku melakukan ini demi ayahku yang sangat menginginkan perkembangan baik dariku. Aku sudah sangat kasihan dengannya yang sudah tua. Setidaknya aku bisa membuatnya bahagia dan bangga memilki anak sepertiku. "Kau tidak keberatan kan, Chartreuse?" tanya Navy. "Kau kan juga tidak memiliki teman dekat yang akan bertanya tentang keberadaanmu" Dasar orang ini merayuku atau menghina sih? Tapi memang ada benarnya juga sih. Dia tau dari mana ya kalau aku tidak punya teman? "Baiklah," kataku pada akhirnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Find the Impostor
Short StoryIni adalah sebuah cerpen yang bercerita tentang sebuah organisasi rahasia yang ingin menyelamatkan dunia. tetapi, ternyata di antara mereka ada seorang pengkhianat. Siapakah pengkhianat itu? Baca selengkapnya di cerita ini. Semoga menghibur anda ter...
