Part 10

44.1K 1.5K 244
                                    

***

deleted

***

Kulihat Abay—yang sudah lebih dulu mandi— duduk di pinggiran ranjang, mengamatiku dari atas sampai bawah ketika aku memasuki kamar. Aku tahu ini pertama kalinya aku tidak menggunakan kerudung di hadapannya. Kali ini aku mengenakan piyama panjang, tapi kenapa diliatin sampai segitunya? Mbok ya... biasa aja. Aku nyengir ke arahnya sekadar untuk menghilangkan rasa canggung. Kok rasanya aneh gini tiba-tiba mendapati seorang lelaki asing—selain Papa dan Oka—ada di kamarku, bahkan mulai hari ini kami harus berbagi kamar.

Abay balas tersenyum lembut, membuatku sedikit salah tingkah. Aku bergegas menuju meja rias dan mulai menyisir, tak kusangka ia beranjak dari duduknya dan mulai mendekatiku. Uh-oh. "Aku pikir rambut kamu pendek," ujarnya sambil mengelus kedua pundakku lembut. Membuat aku merasa merinding dan secara reflek kutepis kedua tangannya yang tadi bertengger di bahuku. astaga! kenapa rasanya aneh banget, ya?

"E...eh maaf," ujarku lirih takut-takut, takut Abay tersinggung. Bukan maksudku menolak sentuhannya, hanya itu benar-benar reaksi reflek dan kaget.

Kulirik dari cermin ia tersenyum simpul. Mata kami bertemu dalam pantulan cermin.

"Kamu nggak suka cewek rambut panjang, ya?" tanyaku berusaha mengalihkan perhatiannya.

Ia tersenyum lagi,"Aku suka kamu berambut panjang."

Meski menatap melalui pantulan cermin, tapi kenapa rasanya tatapan Abay itu nembus ya, sampai aku kembali merasa merinding. Serius, aku mulai berpikir jangan-jangan di kamar ini ada sesuatu yang lain selain kami berdua.

"Tapi aku nggak suka cewek berambut panjang kalau bukan kamu,"Aku meringis geli, dia lagi menggombal? Abay? Menggombal?

"...soalnya biasanya yang berambut panjang itu kuntilanak sih..."

Ngek!

Ternyata dia nggak menggombal! Hadeh!

Abay tersenyum kecil. Sementara aku manyun.

"Kita sholat dulu...?" ajaknya yang lebih bernada menawarkan. Aku mengangguk cepat, buru-buru aku beralih menghindari tatapannya yang... maaaak... nggak kuaaat.

Seusai melaksanakan sholat, ia membalikkan tubuhnya dan kembali menatapku, membuatku harus menahan napas dan akhirnya memilih untuk menunduk untuk membuang napas. Bisa sesak napas aku kalau lama-lama membalas tatapannya malam ini.

Tangannya meraih daguku, membuatku lagi-lagi kaget, merinding, deg-degan, dan akhirnya kembali menepis tangannya secara reflek. Aku melotot saat mendapati Abay kaget dengan tindakanku.

Aku meringis menunjukkan wajah menyesal dan mengambil kedua telapak tangannya dan meletakkannya lagi di kedua pipiku.

"Maaf, reflek... ini nggak ditepis lagi kok, janji." jawabku sungguh-sungguh.

Lagi-lagi Abay tersenyum geli dan mengangguk pelan seolah memahami kelakuanku yang sudah dua kali menepisnya. Abay mengelus kedua pipiku dengan sayang, tapi tetap tak bisa menghilangkan rasa merinding juga deg-degan yang kualami.

Ia kemudian mengecup keningku lembut, lalu membacakan doa kebaikan untukku yang ku-aamiin-i sepenuh hati.

Abay kembali menatapku sambil tersenyum, " Sholat udah, baca doa udah, selanjutnya..."

Selanjutnya? Aku mengerjap-ngerjapkan mataku bingung. Selanjutnya... tidur! Emang mau ngapain lagi malam-malam begini? Capek pula.

Tapi rupanya pemikiran yang tak sempat kusuarakan itu bukan pemikiran yang sama yang ada di otak Abay. Menatapku dengan tatapan yang tak biasanya dan mulai mendekatkan wajahnya padaku, membuat alarm dalam otakku berbunyi keras. Mau ngapain dia? Pertanyaan bodoh Fika! Emangnya dia mau ngapain lagi kalau nggak mau cium kamu? Apa? Cium? Mataku melotot lebar dan dengan sigap telapak tanganku menutupi bibirnya sebelum menyentuh bibirku.

Abay menatapku penuh tanda tanya. Aaaa... aku segera menurunkan telapak tanganku dari bibirnya begitu ia kembali menegakkan tubuhnya. Aku merutuki diriku sendiri, dan sungguh aku nggak nyangka kalau ternyata pertahanan diriku cukup bagus, terbukti dengan berbagai pertahanan—yang seharusnya tak perlu kulakukan—ketika Abay berusaha menyentuhku sejak tadi.

Aku menggigit bibirku penuh penyesalan. Abay masih menatapku bingung.

"A...aku keluar dulu," putusku kemudian. Meninggalkan Abay yang masih terdiam.

***

deleted

***

tbc


Cintaku itu Kamu, Halalku [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang