Chapter 12: Secrets and Myth?

1.2K 56 27
                                    

Orang bilang jika setiap bunga memiliki artinya masing-masing. Di mana setiap bunga membawa makna yang mengejutkan di setiap bentuk dan warna mereka. Mawar putih. Sebuah mawar yang sering dilambangkan sebagai lambang perdamaian, kematian, dan kesetiannya cinta. Terdengar manis, kan?

            Perayaan Tahunan Mawar Putih diselenggarakan secara turun temurun setiap tahunnya. Satu hari di mana semuanya terlihat putih oleh mawar-mawar di sepanjang jalanan kota London. Kakakku pernqah bercerita mengenai sejarah perayaan besar ini. Dia berkata bahwa pada zaman dahulu ada dua buah bangsawan yang saling bermusuhan. Namun, anak dari dua bangsawan itu saling jatuh cinta. Ya, tentu saja kedua keluarga mereka menentang keras mengenai hal tersebut. Tapi, pada akhirnya ketika sang putri sedang dalam bahaya karena bandit-bandit masih bebas berkeliaran, sang pangeran melindunginya hingga membuat dirinya kehilangan nyawanya. Sebelum dia mati, sang pangeran memberikan sebuah mawar putih yang telah berlumuran darah pada sang putri dan berkata, ”mawar ini adalah hal terakhir yang dapat kuberikan padamu. Kuharap semuanya akan baik-baik saja ketika aku pergi.” Semenjak saat itu, kedua bangsawan memutuskan untuk menghentikan semua pertikaian karena berhutang budi pada sang pangeran. Dan hari di mana pangeran itu mati dikenal sebagai Perayaan Tahunan Mawar Putih. Uh, andaikan kehidupan cintaku bisa seperti itu. Saling mencintai dan penuh kebahagiaan.

”Hei, Allison!” seru sebuah suara membangunkan lamunanku.

”Uh ah eh, ah halo, Kak Louis!” balasku setengah gelapan ketika aku mendapati Kak Louis tengah berdiri di sampingku sambil menggendong Hazza. Ya, kucing hitam putih pemberian Harry kemarin sore.

”Kau bengong. Sedang memikirkan apa?”

”Um, tidak. Hanya memikirkan tentang perayaan minggu depan,” kuusap leher belakangku dengan tangan kananku. ”Kak Louis tidak menyebarkan undangan perayaan itu pada bangsawan yang lain?” yap, tahun ini perayaan tersebut diselenggarakan di mansion kediaman keluarga Rainsworth. Setiap tahun perayaan itu diselenggarakan di tiap mansion mansion yang berbeda. Yah, sekedar untuk mendekatan para bangsawan yang dalam sejaraha pernah saling bertikai dengan hebat.

”Kemarin aku sudah pergi ke mansion keluarga Hendric. Yah, membahagiakan sekali mereka menjamuku dengan kue-kue manis penuh gula itu,” jawab Kak Louis sambil melirik ke arahku. Kuberikan tatapan aneh sambil memecingkan kedua mataku.

”Ya, ya, ya, hari ini aku menyuruh Liam untuk pergi ke kediaman keluarga Nightray,” Kak Louis terlihat tidak terlalu nyaman dengan pertanyaan yang kuberikan menyangkut keluarga Nightray.

”Mengapa bukan Kak Louis saja yang pergi ke sana saja?”

Kak Louis memalingkan pandangannya dan membiarkan Hazza berlari ke sisi lain mansion. ”Aku malas bertemu dengan keluarga Nightray.”

”Memang mengapa? Kakak membenci Harry?” tanyaku lagi melihat Kak Louis yang sedang menundukkan kepalanya. Helaan nafas panjang Kak Louis memecah keheningan yang tercipta.

”Tidak. Aku tidak membencinya,” tangan besar Kak Louis mengusap-usap kepalaku dan hampir merusak tatanan rambutku. Uh, kali ini aku maafkan kau, kak.

”Kak Lou-Bear,” ucapku setelah sekitar sepuluh menit keheningan kembali menyergap kami berdua.

”Panggilan macam apa itu?!” seru Kak Louis terdengar kaget (yah, tentu saja dengan gayanya yang sedikit berlebihan).

”Panggilan sayangku. Protes?” kujulurkan lidahku pada Kak Louis yang hanya terlihat menyerah sambil memutar kedua bola matanya.

”Ya, ya, ya Ali-Bear,” kuputar kedua bola mataku menerima pembalas yang setimpal dengan apa yang aku lakukan. ”Kenapa harus ’bear’? Ada apa dengan binatang besar berwarna coklat itu, sih?”

Turn Back The PendulumTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang