SIR | Doyoung

Por ikangdoyi

618K 38.2K 12K

❝come here, let me teach you❞ 𝙈𝙖𝙩𝙪𝙧𝙚 𝙘𝙤𝙣𝙩𝙚𝙣𝙩 konten delapan belas coret. Más

Bagian 1 - Him
Bagian 2 - Her Touch (+18)
Bagian 3 - brothers
Bagian 4 - Shock
Bagian 5 - Intimidation
Bagian 6 - Talk
Bagian 7 - Bulan dan bintang
Bagian 8 - Komitmen
Bagian 9 - Perundungan
Bagian 10 - Things we don't know
Bagian 11 - Pillow Talk (+18)
Bagian 12 -"Issue"
Bagian 13 - Teror dan Belenggu
Bagian 14 - Belenggu rasa.
Bagian 15 - Jarak
Bagian 16 - A Fact
Bagian 17 - Tentang Rasa dan Asa.
Bagian 18 - Gadis kecil.
Bagian 19 - Painkiller
Bagian 20 - Kelabu.
Bagian 21 - Perkara Bahagia.
Bagian 22 - Kepada semua luka.
Bagian 23 - Keluh Kesah Rindu.
Bagian 24 - Egois.
Bagian 25 - Beautiful Disaster
Bagian 26 - Let's revealed.
Bagian 27 - Our Senses (+18)
Bagian 28 - Decision
Bagian 29 - Cinta dan Rahasia.
Bagian 30 - Invitation
Bagian 31 - Special Day
Bagian 32 - Our (+18)
Bagian 33 - Love and Hate Relationship
Bagian 34 - Funny Stripe
Bagian 35 - Extra-Care
Bagian 36 - Special Chapter[flashback]
Bagian 37 - Heal, learn, grow, love
Bagian 38 - Dorayaki
Bagian 39 - Long time no see
Bagian 40 - Decap Kasih Sayang
Bagian 41 - Sakit hati dan masa lalu.
Bagian 42 - Sweet Liar
Bagian 43 - Afeksi dan Duka
Bagian 45 - Time Description
Bagian 46 - Birth
Bagian 47 - Touch, Lust, and Desire [18+]
Bagian 48 - The Hidden Reason
Bagian 49 - Never stop the End in one start.
[S2] Bagian 55 - Presence

Bagian 44 - Make A Wish

3.6K 379 146
Por ikangdoyi

Kejora

Aku terbangun di pagiku yang selalu kulalui setiap hari dan terus berulang. Ditemani laki laki baik yang selalu menjagaku dan menemani anak kami. Namun akhir - akhir ini tidurku tak nyenyak .. sebab pergerakan bayi kami selalu mengganggu Mima dan Ayahnya ketika tidur. Lebih tepatnya untuk Mimanya.

Terkadang ketika aku bisa menidurkan tubuh ini hanya sekejap saja namun saat itu terjadi, aku bisa langsung tiba tiba terbangun karena rasa panas yang menghinggap ke seluruh area tubuh. Terutama bagian punggung.

Frekuensi ke kamar mandi jadi lebih sering, belum lagi kram dan nyeri punggung yang luar biasa menyakitkan.

Mamah mengatakan bahwa itulah hal yang akan terjadi disaat seorang wanita hendak melahirkan. Mengingat perut ini sudah sangat membesar. Aku bahkan tahu, anak kami selalu berbisik seperti ini. "Mima .. dedek kapan keluar ya? Enggak sabar lihat Mima dan Ayah yang sempurna kayak kalian, yang dipenuhi cinta dari kalian."

Ah aku menangis lagi.

Bahkan ini terlalu sempurna untuk menjadi sebuah alur kehidupan layaknya di film. Kami akan berakhir bahagia selamanya.

Bukankah semua orang akan seperti itu? Mendapatkan akhir yang bahagia. Aku rasa semua alur kehidupan manusia akan mengarah kepada hal yang baik .. jika memang manusia itu telah menabur benih kebaikan di sisa hidupnya.

Aku mengedarkan pandangan ke sekitarku, mencari Mas Doyoung yang sepertinya sudah bangun lebih dulu, tapi dia tetap tidak ada.

Aku mencoba memanggilnya beberapa kali, handphonenya dia letakkan di atas nakas di sebelah ranjang kami tapi orangnya tidak ada. Aku masih mencarinya ke seluruh ruangan.

Napasku sedikit sesak karena aku terus membawa perut besar ini sepanjang pencarian pagiku untuk menemukan keberadaan Mas Doyoung. Jendela rumah kami begitu berisik, seperti ada yang melempari batu dari luar sana. Aku memberanikan diri untuk mengecek keadaan di luar. Aku menyeka dahiku yang mulai banyak mengeluarkan keringat dingin karena aku mulai panik saat mencoba melihat keadaan luar rumah kami.

Semoga aja Mas Doyoung nggak kenapa kenapa.

Derap langkah kaki menyusuri jejak menapakku saat ini. Aku bisa merasakan seseorang mengikuti gerak tubuhku semakin menyusuri. Gerakannya yang lincah juga diiringi oleh cepatnya kaki ku melangkah, aku memberanikan diri untuk berbalik badan.

"Selamat ulang tahun istriku"

Mas Doyoung menangkapku tepat di hadapan tubuhnya. Napasku menggiring perlahan merasakan sensasi yang amat lega luar biasa .. walaupun agak menakutkan. Mas Doyoung memelukku dengan erat, menciumi dengan hangat ujung kepala serta mengusap punggungku dengan nyaman.

Ah dia tau caranya agar menenangkan hati istrinya yang sedang dendam terhadapnya.

"Mas .."

Isakku, saat dia menenggelamkanku pada dadanya lebih dalam. Aku mencengkeram kemeja Mas Doyoung karena aku begitu ketakutan.

"Takut Mas." Ujarku aku menangis keras di hadapan Mas Doyoung. Dia terkekeh melihatku menangis ketakutan seperti ini. Padahal istrinya saja sedang ketakutan .. bisa bisanya dia anggap ini cuma bercandaan. Untungnya suami sendiri.

"Surprise!"

"Enggak lucu Mas!"

"Mas bukan pelawak sayang, jadi wajar aja enggak lucu. Mas itu pinter, ganteng, setia, penyayang, cerdas .. dan apalagi ya?"

"Mesum!" Tambahku di sela sela perbincangan kami, Mas Doyoung tertawa lebar saat itu. Aku melihat rentetan gigi putihnya yang begitu manis saat dia tersenyum seperti itu.

Mas Doyoung memelukku semakin erat, dia membawaku ke suatu tempat yang bahkan aku sendiri tidak tau suamiku ini akan membawaku kemana. Kedua mataku ditutup olehnya. Aku hanya mengikuti arahan kemana Mas Doyoung menggerakanku.

Aku membuka kedua mataku saat Mas Doyoung melepaskan kedua telapak tangannya. Aku terkejut dalam diam.

Kamar kami dipenuhi untaian pernak pernik indah yang dihiasi lampu temaram yang redup tapi menghasilkan cahaya kuning yang gemerlang layaknya kunang kunang.
Di tengah tengah kami ada sebuah meja kecil menghiasi dan sebuah kue yang kutaksir diameternya 30 cm bernuansa cokelat dan bertuliskan, "Happy Birthday Mima, You're the best Mima in the world".

Rasanya aku ingin menangis lagi, tapi kali ini tangisan bahagia. Aku menatap binar kedua mata suamiku dan menatap maniknya yang begitu meyakinkan .. Mas Doyoung adalah suami yang baik, Ya Tuhan aku beruntung memiliki suami seperti dirinya. Rasanya ingin memecah saja semua air mata yang sudah kukumpulkan dari beberapa detik yang lalu. 

"Mima pilih satu pesan yang digantungkan di balon itu, lalu bacakan dengan keras." Titahnya, kemudian aku mengangguk dan memilih beberapa kertas disana.

Aku mulai membacanya.

Kepada perempuan terhebat, yang sudah Saya nikahi .. dan akhir tahun ini adalah perjalanan pernikahan kita yang sudah masuk pada tahun kedua.

Terima kasih karena sudah mau menunggu, mau bertahan dan bersabar. Setelah semua yang kita lewati telah tercapai .. rasanya belum cukup untuk merasakan semua kebahagiaan itu.

Saya berdoa agar Saya dan istri saya diberikan waktu yang panjang untuk kami bisa tetap bahagia bersama-sama.

Biarkan kami menerjang derasnya air, dihantam ombak, gemuruhnya karang yang saling bertimpa dan bertubrukan.

Asal bersama Kejora, Saya siap dengan segala risiko apapun.

Ketika suatu hari nanti, setelah habis masa kami .. dan maut akan membawa kami pulang bersama kembali.

Merayakan kekalnya hidup di penantian yang abadi.

Tertanda
Suamimu.

Air mataku luruh sedalam dalamnya saat membacakan kata demi kata yang Mas Doyoung tuliskan disana. Tulisannya begitu jelas dan indah, belum lagi semua kalimat yang diutarakannya penuh dengan rasa kasih dan sayang yang tulus.

Tanpa menunggu aba aba Mas Doyoung sudah mendekapku dengan begitu lekat. Aku memecah semua tangisnya disana. Aku memegangi surat itu semakin mencengkeram. Mas Doyoung sendu melihatku menangis karenanya. Dia terlihat tenang dan menangkup seluruh wajahku dengan tangan besarnya.

Aku bisa merasakan lembab bibirnya saat rasa hangat itu menjalar lewat tautan bibir kami. Dia melumatiku dengan lembut dan penuh perasaan. Tengkukku dia tahan dan mengikuti gerak kepalanya yang sedikit bermain dengan tempo yang sangat lambat. Dia menciumiku penuh sayang, menghisapku penuh kasih sayang. Aku terbuai saat Mas Doyoung mengangkatku dan memindahkanku ke atas ranjang kami. Dia dengan posisi di atas dan aku dikungkung oleh tubuh besarnya.

Mas Doyoung menghirup aroma tubuhku lebih dalam terutama area leherku. Kulitnya dia hisap intens tanpa terlewatkan, dan aku hanya menggeram saat Mas Doyoung menyesap kulit leherku begitu kencang.

Kini wajah kami saling beradu pandang.

Aku mengusap seluruh permukaan wajahnya sambil menelisik pupil matanya yang mengarah padaku penuh.

Banyak hal sekali yang tidak bisa diungkapkan. Lebih dari ucapan terima kasih, aku ingin membayarnya dengan membalas penuh rasa kasih sayang suamiku sampai kapanpun.

"Make A Wish Mima?"

Dia membantuku bangun dan menyalakan lilin kecil untukku. Ada tiga lilin berdiri disana.

Pancaran cahaya yang berasal dari lilin itu membuat temaram kamar kami menjadi suasana yang lebih damai. Dia mengarahkan lilin lilin itu dan aku mengangkat tanganku penuh sambil berdoa dalam hati.

Setelah lilin kutiup, Mas Doyoung bersorak untukku. Dia mengecup lagi pipi kananku sambil mengucapkan "Selamat ulang tahun sayang".

Ada bahagia yang menghinggap di dalam sini .. yang tak bisa diutarakan sama sekali. Rasa bersyukurku yang penuh membuatku tak akan pernah habis mengucapkan bahwa aku adalah orang yang beruntung .. salah satunya.

"Mima minta apa?" Tanya Mas Doyoung setelah kami menempatkan kue besar itu kembali di meja. Aku memotongnya menjadi bagian per-bagian untuk bisa kami makan bersama sama.

"Emang boleh kasitahu?"

Mas Doyoung memutar bola matanya ragu. "Tapi Ayah penasaran.."

"Ayah mah kepoan huuu" ledekku, dia semakin menyibirkan bibirnya lucu. Dia itu benar benar menggemaskan.

"Mima minta sama Tuhan .. supaya persalinan Mima lancar.. Mima minta sama Tuhan, semoga bayi kita selalu dalam keadaan yang sehat." Ucapku sambil mengusap perut besar ini.

"Mima tenang aja, anak kita itu kan strong, kuat, tangguh kaya Ayahnya, mainan super heronya juga udah banyak, walaupun itu yang minta Mimanya sih" Mas Doyoung sedikit mengedipkan mata, aku tau dia menyindirku perihal miniatur super hero yang kuminta tempo hari.

"Mas percaya, anak kita setangguh itu, bahkan lebih tangguh dari Ayahnya, perjuangan Ibunya mungkin dia lebih merasakan itu, kamu mengambil peran besar ketika menjadi seorang Ibu" Mas Doyoung mengusap kepalaku dengan lembut, seakan mengerti sulitnya mengalami peran Ibu hamil.

***


"Kita mau kemana Mas?" Tanyaku, masalahnya Mas Doyoung hanya mengajakku saja tapi aku tak diberitau kita akan pergi kemana.

"Ada yang mau ketemu sama Mima." Ucapnya penuh keseriusan.

"Siapa sayang?"

"Nanti Mima tau sendiri kok"

Aku mengangguk dan mengikuti arahan suamiku. Siapa yang mau bertemu menjelang malam malam begini? Lagipula kenapa dia nggak kerumah aja?

Aku sudah agak sesak di dalam mobil menunggu sendirian. Kaca mobilnya kubuka penuh guna untuk mendapatkan oksigen lebih banyak.

Mas Doyoung keluar sebentar untuk menemui orang itu, dia berkata aku hanya harus menunggunya lima menit disini. Di mobil yang sedang kami gunakan, rupanya ada mobil lain menyusul dan berhenti tepat di depan mobil kami.

Bayangan samar samar dan gelap membawa netraku pada sosok wanita dan pria yang tengah berbicara di depan sana bersama Mas Doyoung. Wanita itu menghampiriku berjalan perlahan. Mas Doyoung dengan tatap matanya yang tegas tak berhenti menatapku dari kaca mobil kami. Pasalnya lampu di dalam mobil memang dinyalakan dari tadi, Mas Doyoung memperingatiku kalau lampu mobil tidak boleh dimatikan sama sekali. Aku juga tidak tau kenapa.

Suara pintu mobil terbuka menampakkan seorang wanita yang juga sedang hamil, tapi kutaksir usia kandungannya berjalan empat atau lima bulan.

Tidak masuk akal, Mas Doyoung mengizinkan Hany untuk bersamaku di dalam mobil. Kami hanya berdua di dalam sini.

Tanganku berkeringat dingin saat Hany sudah duduk tegap dihadapanku saat ini. Pandangannya turun, aku hanya melihatnya dari samping. Kami tak berinteraksi dengan baik.

Dia mulai membuka suaranya memangil namaku.

Lamat lamat dia mulai berani mengarahkan netranya kepadaku kami saling bertukar pandangan satu sama lain. Mataku membulat sempurna saat menatap mata wanita itu.

Hatiku sakit bukan main. Masih banyak irisan pedih yang dia tinggalkan disini. Meninggalkan banyak kenangan buruk tentang kami.

"Tolong .. maafin aku." Aku mulai mendengar suaranya lagi.

"Hidup aku selama ini enggak pernah bahagia, aku hidup penuh luka, kesakitan, penyesalan, rasa bersalah."

"Semenjak hamil, aku merasa dunia membalasku. Membawa semua rasa bersalah aku sama kamu, kamu nggak tau Ra apa yang aku alami. Aku kesulitan, kesakitan, ini nggak adil buat aku. Kenapa harus aku yang menjalani hidup kayak gini? Aku juga pengen hidup tenang kayak kamu Ra."

"Aku bahkan nggak tau lagi harus gimana caranya buat bertahan. Kalau bukan karena Jefry, aku udah bisa bebas Ra."

"Aku bebas buat ninggalin dunia ini,"

Aku mengepalkan dua tanganku, aku bahkan sudah tidak mempercayai lagi orang ini. Aku tau, Hany itu licik. Dia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.

"Tapi ada satu alasan kuat buat aku harus terus bertahan sampai sini."

Aku memancarkan netraku ke arah jalan yang ada di seberang kami. Pasalnya kami memang ada di pinggir jalan sekali.

"Kamu mau maafin aku kan Ra?" Tanyanya.

Aku terdiam. Tidak mau menjawab. Aku bahkan nggak mau membuka mulutku sedikitpun di depannya.

Bahunya turun, aku melihat ada air bening turun di pelupuk matanya.

Dia menggenggam tanganku mengerat. Penuh rasa bersalah dia mengucapkan kata maaf yang bahkan aku tidak bisa merasakan ketulusannya dimana.

Mas Doyoung masih memperhatikan kami dari sana. Dia tak melepas sorot matanya sekalipun.

Suara benturan besar terjadi di depan kami. Api yang besar berhasil memuat satu jalan di depan yang dipenuhi dengan retakan dan sisa dari truk pengangkut barang beserta mobil lain. Membuyar, semuanya. Kecelakaan itu tepat terjadi di depan mataku. Membawaku pada masa tragis yang pernah menyebabkan traumatik yang begitu besar. Aku terdiam, kaku dan hampir tidak menarik nafas karena syok akan suara benturan yang menggema dan menarik semua atensiku dari sekitar.

Aku menggerakan bahuku agar bisa segera mendapatkan asupan oksigen yang cukup. Sesak didada terasa menyakitkan, pasalnya degup jantungku menjadi tak normal untuk kesekian kalinya. Aku tidak tau kondisi apa yang membawaku sekarang. Seperti dejavu, aku nggak tau apa yang aku lakukan saat ini, apa yang sedang terjadi di sekitarku. Bahkan aku hampir tak mengenali siapa diriku untuk sesaat.

Yang aku tau, sekarang mobil ini bergerak melaju perlahan.

Apa? Siapa? Sedang apa?

Kesadaranku perlahan kembali saat aku mengingat suamiku. Bukan Mas Doyoung yang mengendarai mobil ini, melainkan Hany.

Aku tersadar tanganku diborgol dan tak bisa menggerakan seleluasa tadi. Aku berteriak, Hany tak menjawab, dia hanya fokus pada jalanan yang ada di depan kami. Aku mencoba mencekiknya spontan tapi dia menepisku hingga tubuhku terhuyung menabrak kaca pintu mobil. Aku ketakutan, aku ingin keluar, aku ingin bertemu Mas Doyoung saat ini juga.

Mas.. tolong selamatkan aku sama anak kita.

Tak sampai disana, aku mencoba menggertakan borgol besiku ke kaca dan memberikan suara yang cukup nyaring. Aku tidak tahu ini akan berhasil atau tidak, yang kutahu aku hanya ingin keluar dari mobil ini sekarang juga. Aku sadar aku di luar batas kendali sebab aku mengoyakkan tubuhnya kesana kemari tanpa sadar dia sedang mengendarai mobil yang kami tumpangi.

Hany memberhentikan mobilnya di sisi jalan, dia menamparku hampir ke lima kalinya. Aku menangis semakin keras sembari memegangi perutku yang semakin mengencang. Hany mendorongku hingga kepalaku terbentur kaca jendela mobil. Kepalaku terasa pening dan pusing. Semuanya hampir menjadi gelap dan pandanganku membuyar. Seseorang menarikku ke belakang, kini kakiku juga terikat. Aku masih bisa merasakan perutku yang bereaksi cukup meningkat.

"Dedek kuat ya sayang, inget kan apa kata Ayah? Dedek itu lebih tangguh dari Ayah, Dedek bisa jagain Mima lebih dari Ayah, dedek itu pelindungnya Mima, Mima berharap dedek mau bertahan sebentar lagi, ya?"

Aku memejamkan mataku secara perlahan, tubuhku sakit, tangan kakiku sudah mulai tak berfungsi dengan baik.

Ini masih hari ulang tahunku kan?

Bolehkah aku membuat sebuah harapan sekali lagi?

"Anak ini adalah anak yang sangat diinginkan dan dinantikan oleh Ayahnya. Tolong jangan biarkan kami gagal untuk kedua kalinya, jika diberikan pilihan untuk menyelamatkan salah satu dari kami, tolong selamatkan Doyoung junior. Ayahnya ingin bertemu dengannya lebih dari apapun yang ada di dunia ini."

















"Ayah.. Mima tiba tiba pengen pakai baju waktu kita menikah"

"Tapi perut kamu kan udah besar Mima, bajunya pasti nggak muat lagi?"

"Tapi Mima pengen banget pakai baju itu lagi Yah .. itu salah satu moment terbahagia yang pernah Mima rasakan, menjadi istri dari lelaki sesempurna kamu."












TANGAN SAYA TREMOR DARI KEMAREN GARA2 GABISA FOLLOW IGNYA DOYI. TP SEKARANG UDAH BISA AAAAA😭

Jadi guys nanti malem aku rencananya mau double up kira kira ada yang nungguin nggak?

Pokoknya ya akutuh seneng banget Doyi punya IG, berasa makin deket aja sama jodoh😭

Doyoung semakin di depan🤓

Udahlah, saya disuruh mundur duluan sama Kejora nanti, saya kan kentank😭

Ketemu nanti malam yaaa!

Seguir leyendo

También te gustarán

279K 23.7K 26
[𝔣𝔱 𝔫𝔞 𝔧𝔞𝔢𝔪𝔦𝔫] I'm so sorry for loving you ©worldofgeeno April 2020
294K 9.6K 53
hati - hati Dia dingin trus galak lagi 🏅#1 - manusiaes 🏅#1 - Tiway mengandung unsur dewasa🔞
8.7K 565 29
❛❛katakan pada senja bahwa kita akan bertemu lagi di sana suatu saat nanti❛❛ - Lee raina ©Pica_28
126K 7.2K 98
Please Stay With Me
Wattpad App - Desbloquea funciones exclusivas