"Dia terlalu lelah dan memikirkan banyak hal. Kondisi tubuhnya terakhir kali masih cukup lemah karena kesulitan menerima asupan makanan"
James mengingat dengan jelas perkataan Karen melalui panggilan v-callnya. Setelah memutuskan mengalah dan memilih mengikuti kemauan Anne yang ingin kembali ke villanya, James tidak tahu bahwa perempuan itu tengah merasakan pusing hebat yang mendera kepalanya.
Ia hanya berniat memastikan langkah perempuan itu aman dan berhati-hati sepanjang perjalanannya kembali ke villa. Namun melihat Anne tampak terhuyung dan terjatuh tidak sadarkan diri, membuatnya setengah berlari untuk menangkap tubuhnya tersebut.
Memanggil Hans dan memastikan segera untuk membawa Anne dengan mobilnya menuju villa, membuatnya sadar bahwa sepanjang perjalanan tubuh perempuan itu terasa sangat dingin. Bahkan buku-buku jarinya nampak keriput menahan suhu dingin yang mulai terasa di Lembang jika malam hari.
Tiba di villa, James meminta bantuan Lorry untuk mengganti pakaian Anne dengan pakaian yang lebih hangat. Ia memutuskan untuk menelfon Karen dan bertanya mengenai apa yang harus dilakukannya. Meski terlihat cukup kaget, mendapati James menelfonnya, Karen memberitahukan dengan sangat baik tindakan apa yang bisa dilakukan oleh James.
Anne seperti tertidur dengan lelapnya. Nafasnya terdengar lebih teratur dan suhu tubuhnya nampak lebih baik dari sebelumnya. James baru menyadari jika Anne terlihat lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu. Stress itu yang menjadi fikiran James saat ini. Sepertinya perempuan itu banyak memikirkan masalah mereka dan berdampak jelas pada kondisinya saat ini. Meski Karen mengatakan bahwa ini merupakan gejala morning sickness yang wajar dirasakan oleh perempuan yang tengah hamil muda, tapi James jelas sangat khawatir melihatnya.
Lorry mengatakan Anne tidak bisa mengkonsumsi makanan di hari itu. Bukan karena tidak ingin, tapi setelah mengkonsumsi makanan yang diinginkannya ia langsung memuntahkan makanan tersebut. Sejaun ini yang bisa dikonsumsi perempuan itu hanya segelas susu.
James memutuskan menemani Anne di kamarnya dan menunggui kondisi perempuan itu. Beberapa panggilan ribut dari kedua ayahnya justru diabaikan begitu saja saat tadi sore James mengatakan bahwa ia telah menemukan Anne.
Mengerjapkan matanya dengan pelan, Anne membuka matanya dengan perlahan. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah kamar tidurnya yang berada di villa. Oh pastilah dia sudah pingsan dan James membawanya kemari.
Berusaha untuk duduk, Anne mengabaikan tatapan pria yang kini tengah mengamatinya dengan tatapan penuh kerinduan. James berdiri sambil menyandarkan dirinya di tembok sebelah ranjang tidur Anne.
Anne merasa lapar dan haus dalam waktu yang bersamaan. Biar bagaimanapun ia perlu mengisi perutnya yang kosong. Anne tidak ingin kejadian pingsannya terulang kembali seperti sore tadi.
Berusaha untuk berdiri, nyatanya langkahnya masih limbung dan goyah jika saja tidak ada tangan tegap yang kini ikut membantunya berdiri dengan benar. James.
"Aku akan membantumu" James mengucapkan kalimat itu dengan pelan seraya menaruh sebuah lengan Anne pada pundaknya.
"Aku bisa melakukannya sendiri" Anne mengelak dan tetap pada pendiriannya. Tak ingin menggantungkan harapannya pada pria di sebelahnya.
Tak berkata apapun, James justru mengangkat tubuh Anne dengan mudahnya dan menggendongnya dalam sekejap untuk membawanya turun ke ruang makan di lantai bawah. Pria itu benar-benar memaksa dengan caranya kali ini.
Terdiam. James mendudukan Anne di kursi makan dan menata beberapa makanan yang sudah sejak tadi dihangatkannya di dalam microwafe.
"Dimana Lorry ?" Anne akhirnya bertanya pelan saat tidak melihat keberadaan perempuan yang biasanya membantunya.
"Aku menyuruhnya pulang dan beristirahat. Aku yang akan menemanimu disini" James menjawab sambil terus melakukan tugasnya.
Menata piring, memotong buah, dan menghangatkan beberapa side dish yang mungkin saja akan disukai oleh Anne. Melihat pemandangan itu, Anne menitikkan air matanya dan menunduk dengan cepat memandangi perutnya. Betapa bahagia seandainya ini adalah simulasi keadaan pernikahannya dengan James.
Tak ingin berlarut dengan pemikiran itu, Anne menghapus sedikit air matanya dan menatap meja makan yang penuh dengan makanan. Ia melihat James memandanginya saat ini dengan tatapan menilai.
"Makanlah" James menyodorkan piring yang kini berada di hadapan Anne. Membuat Anne bertanya-tanya permainan apa yang sedang dilakukan pria itu.
"First you need eat Anne, talk latter" James seolah menjawab keraguan dalam wajah Anne.
James ingin bicara. Sungguh !! Tapi pertama-tama ia harus mengisi perut perempuan itu dengan makanan. Setidaknya kondisinya harus lebih baik saat mereka membicarakan masalah mereka nantinya.
Anne mengambil sesendok kecil pasta carbonara ke dalam piringnya. Ia mencoba menikmati makanan favoritnya tersebut dalam diam. Tapi lagi-lagi rasa mual menghantam tenggorokannya. Setengah berlari Anne memuntahkan isi perutnya yanh hanya tinggal berupa cairan bening itu ke dalam closet yang ada di dekat dapur.
Matanya mengerjap-ngerjap karena mengeluarkan air mata dari rasa perih di perut dan tenggorokannya. James bahkan menggosok punggungnya secara perlahan untuk meredakan rasa sakit yang dirasakannya. Sebuah perhatian yang justru membuat Anne terisak pelan dalam diamnya.
Membuat James lantas memeluknya dan mengelus punggungnya dengan erat. Merasakan kehangatan dan aroma lembut perempuan dalam dekapannya tersebut. Anne rindu namun terlampau sakit mengutarakan semua hal yang dirasakannya. Membuatnya hanya mampu terisak dan justru mengeluarkan air mata dari kedua pipinya.
"Please, dont cry again Anne. Aku tidak tahan melihatmu seperti ini" James melepaskan pelukannya dan menghapus air mata di wajah perempuan itu.
Mengajak Anne duduk di salah satu sofa yang terletak diujung ruang tamu. Membiarkan sejenak perempuan itu mengontrol dirinya dan rasa mualnya. James setengah berlutut agar dapat berbicara pelan sambil menatap wajah perempuan itu.
"apa yang ingin kamu makan Anne ? Aku akan berusaha mencarikannya" James berkata dengan lembut.
Anne hanya terdiam dan menggeleng pelan. Dia bahkan tidak tahu makanan apa lagi yang bisa dikonsumsi olehnya.
"Kamu menunggu sebentar disini tak apa ? Aku akan membuatkan sesuatu yang mungkin mengurangi rasa mualmu" James beranjak ke dapur setelah mendaratkan sebuah kecupan di kening Anne.
Ruang tamu yang ditempati Anne berhadapan langsung dengan pantry dan dapur tempatnya memasak. Otomatis setiap kegiatan yang dilakukan di dapur dapat dilihat dari arahnya duduk saat ini.
Dan James kini tampak mengeluarkan sebuah juicer dan memotong beberapa buah untuk dimasukan ke dalamnya. Tidak berselang lama, pria itu membawa sebuah tumbler berupa gelas lengkap dengan tutup dan sedotannya.
Ia berjongkok di hadapan Anne dan menyodorkan gelas tumbler itu ke hadapannya.
"Smoothies. Mungkin tak seenak buatanmu, tapi aku rasa ini bisa kamu konsumsi dan mengganjal perutmu sementara waktu" James menawarkannya pada Anne.
"Thanks James" Anne menerimanya. Menyadari dengan cepat bahwa janinnya membutuhkan asupan gizi.
Ia meminumnya dengan perlahan. Merasakan dan berusaha menelan seteguk dua teguk smoothies buatan James untuknya.
"Bagaimana ? Apa masih mual ?" James bertanya ragu-ragu, berharap Anne bisa mengkonsumsi minuman yang dibuatnya.
Tersenyum. Perempuan itu tersenyum dan menatap James penuh kelegaan. Hal terindah yang didapati James hari ini. Ternyata senyuman Anne dapat mendatangkan sukacita yang teramat besar untuknya.
"Ini enak" Anne memuji sembari terus menghabiskan smoothies buatan James. Bahkan tidak sampai lima menit satu gelas tumbler smoothies yang dibuat oleh James habis dan tak bersisa.
Setidaknya sudah ada sedikit makanan yang masuk dalam perut Anne. Membuat James menjadi sedikit lega dan senang melihatnya.
"Apa aku boleh memintanya lagi ?" Anne mengeluarkan permintaannya. Sebuah pernyataan yang manis yang membuat James lantas tersenyum. Janin itu menyukai minuman sederhana buatan ayahnya. Sebuah kebanggaan untuk James saat ini.
James lantas membuatkan smoothies dalam jumlah yang cukup banyak. Ia memasukan beberapa varian buah agar Anne dapat menikmati banyak smoothies dengan rasa yang berbeda-beda. Menyetoknya dan memasukannya dalam lemari pendingin. James memilih rasa strawberry untuk diberikan kepada Anne. Perempuan itu terlihat antusias dan sangat manis. Persis seperti gadis kecil yang mendapat makanan favoritnya.
"Pelan-pelan Anne" James memperingati Anne karena perempuan terlihat terburu-buru menghabiskan minumannya. Bahkan beberapa smoothies itu tampak mengotori daerah sekitar mulutnya.
Anne tampak terus melanjutkan kegiatannya dan nampak puas setelah menandaskan 2 gelas smoothies berukuran besar buatan James.
"Feel better ?" James bertanya sambil membersihkan sisa-sisa smoothies yang ada di mulut Anne menggunakan tissu.
"Thanks James" Anne mengucapkan terima kasih dengan tulus. Selama sebulan terakhir sungguh Anne tidak bisa menikmati makanan apapun sepuas hari ini.
James membantu Anne berdiri dan membawanya kembali ke kamar. Menyalakan lampu kamarnya dan membuka tirai jendela, keaadaan Lembang di malam hari sebenarnya sangatlah indah.
James menumpuk beberapa bantal dan membiarkan Anne duduk dengan nyaman sambil bersandar di bantal-bantal tersebut. Sementara James mengganti kemejanya yang masih melekat di tubuhnya dengan t-shirtnya yang berwarna abu-abu.
James duduk menghadap ke arah Anne dan menatapnya dalam diam. Memastikan kondisi perempuan itu baik-baik saja dan cukup kuat untuk membicarakan perihal masalah mereka.
"Can we talk now ?" James bertanya dengan lembut. Melihat Anne tampak bergerak dan membenarkan posisi bersandarnya agar terasa lebih nyaman.
"Yeah" Anne menjawab dengan singkat.
"Kamu ingin berbicara duluan ?" James menawari Anne kesempatan pertama. Ingin mengukur sejauh mana perempuan itu menanggapi keberadaannya saat ini.
Anne terlihat menatap James tidak nyaman. Terlihat matanya cukup berkaca-kaca dan sebisa mungkin mengutarakan keinginnannya lebih dulu.
"Aku akan menandatangi surat perceraian itu"
Deg !!
Perkataan Anne tadi jelas mengorek lebih dalam rasa sakit yang juga dirasakan oleh James. Tapi James membiarkan perempuan itu untuk menggunakan kesempatan berbicaranya terlebih dahulu. Ingin mengetahui sejauh mana kata-kata yang akan diucapkannya.
"Aku tidak akan meminta apapun darimu, kecuali anak ini. Dia akan ikut bersamaku. Aku juga tidak akan membatasi waktumu untuk bertemu dengannya" Anne mengucapkan pelan kata-katanya.
Jelas perempuan itu merasakan sakit saat mengemukakan pendapatnya. James tak ingin menanggapi pemikiran Anne soal perceraian tersebut. Jangankan untuk mewujudkannya, untuk memikirkannya saat ini pun James jelas akan menolak.
"Kamu sudah selesai ?" James bertanya seolah meyakinkan Anne apakah ia sudah mengeluarkan semua pendapatnya. Perempuan itu menganggukan kepalanya dengan lemah. Tampak menghindari kontak mata dengan James.
"Look at me !!" James berkata dengan tegas kepada Anne. Berusaha meyakinkan perempuan itu melalui tatapan matanya.
"Look at me Annelise !!" James bahkan mengangkat dagu perempuan itu agar dapat melihat jauh ke dalam matanya.
"Apakah kamu melihat niatku untuk menceraikanmu ?" James bertanya dengan parau. Anne hanya terdiam dan menahan air matanya agar tidak tumpah.
"Apakah jarak sejauh ini yang kutempuh hanya untuk memintamu bercerai dariku ?" James bertanya lagi dengan rahangnya yang mengetat. Pria itu berusaha menahan egonya sekeras mungkin. Sadar, jika Anne hanya akan lebih menjauhinya jika emosinya ikut meledak.
Menunduk, Anne tampak memegangi erat perutnya dengan kedua tangannya. James sadar, jika suaranya jelas sudah menjadi lebih tinggi dan membuat perempuan itu ketakutan. Anne kini bahkan sudah memeluk dirinya sendiri dan terisak pelan.
"Please dont !!" Anne menolak saat James berniat mendekapnya. Memeluknya karena kesalahan yang baru saja dibuatnya.
"Maaf aku meninggikan suaraku padamu" James terlihat sadar jika apa yang dilakukannya jelas membuat Anne menolaknya.
"Sulit sekali untukku membuatmu yakin bahwa aku hanya takut kehilanganmu Anne" James menurunkan intonasi suaranya. Tangannya memegang jemari kecil Anne yang berada di atas perutnya tersebut.
"Maaf membuatmu menyatakan perasaanmu lebih dulu padaku" James mengucapkan lagi isi hatinya dengan pelan. Berusaha menghapus sisa air mata yang nampak membasahi wajah Anne.
"Maaf membuatmu melewati banyak hal sendirian, maaf karena aku terlalu egois dan bodoh memikirkan masa laluku yang terlampau kelam. Maaf membuatmu harus berjuang sendirian dalam pernikahan ini, maaf membuatmu banyak sekali meneteskan air mata karena ulahku" James mengatakan perasaannya sambil menunduk pasrah. Tak ingin lagi memaksakan diri agar Anne mau mendengarnya.
"Aku yang terlambat menyadari bahwa kamu yang sebenarnya lebih berarti dari semua impian semu yang ingin ku kejar. Aku nyaris ingin mati mendapatimu pergi dari hidupku Annelise. Untuk semua hal yang terjadi, maafkan aku yang tidak mampu mengimbangimu sebagai suami yang baik. Yang mungkin terlalu banyak memberimu duka dibanding semua tawa bahagia yang harusnya kamu raih. But, you know me so well !! Aku terlampau dingin dan kaku untuk menyadari dengan cepat bahwa aku membutuhkanmu. Aku mencintaimu Anne" James mengungkapkan isi hatinya dengan gamblang. Dan tanpa disadari justru meneteskan air matanya saat mengucapkan isi hatinya tersebut.
Anne menatap dalam-dalam wajah James dan tak percaya bahwa pria itu mampu mengucapkan kalimatnya dengan demikian tulusnya. Mau tidak mau membuat hatinya tersentuh dan kini ia justru meneteskan air matanya dengan bahagia.
"Aku sudah menyelesaikan masalahku dengan Hellena dan John. Apa yang kamu lihat di kantorku jelas sebuah kesalahfahaman" James menjelaskan lagi fakta yang sebenarnya terjadi. Anne menatapnya dalam diam. Membiarkan James memberikan alasannya dan fakta lain yang mungkin belum diketahuinya.
"Hellena memelukku hanya untuk mengucapkan terima kasih atas segala yang terjadi. Dia datang dan menjelaskan padaku beberapa hal tentang John. Aku menemaninya ke rumah sakit karena dia pingsan di kantorku. Hanya itu saja" James menjelaskannya sambil menggenggam tangan Anne dengan erat.
"Apa kamu melakukan ini karena aku sedang mengandung James ? aku mengetahui soal rencanamu menikahiku" Anne berkata sambil menundukkan kepalanya. James tahu pertanyaan itu jelas mengganggunya namun terpaksa diucapkannya.
"Aku tak ingin membohongimu. Tujuan awal aku menikahimu adalah karena masalahku dengan John. Tapi aku tidak pernah tahu jika kamu bahkan bisa merubah hidupku sejauh ini Anne"
"Kehamilanmu bukan alasan mengapa aku ingin mempertahankan pernikahan kita. Entah disadari atau tidak, kehadiranmu banyak merubah arah hidupku. Jika kini ada bayi dalam perutmu, itu hanya akan menjadi satu dari sekian banyak alasan lain agar aku mempertahankanmu" James berkata dengan sungguh-sungguh.
"Aku takut hanya merasakan perasaan ini sendirian James" Anne mengucapkan isi hatinya. Membuat James mendongak dan lantas memeluknya dengan erat.
James sadar kepada Annelah dia harus pulang. Perempuan itu seperti rumah yang akan selalu dirindukannya. Saat dia pergi, jelas semua hal terasa kacau dan tidak berarti.
"Aku merindukanmu, jangan pernah pergi lagi sejauh ini" James berkata sambil melepaskan pelukannya. Menatap Anne dan merapikan anak rambut di sekitar wajahnya.
Anne tersenyum dan mengelus rahang James dengan penuh kasih sayang. Merindukan pria yang beberapa waktu ini hadir dalak hidupnya dan mampu menjungkirbalikan dunianya dalam sekejap.
Menarik dirinya, Anne menyandarkan kembali tubuhnya pada kepala ranjang.
"How's feel ?" James bertanya dengan khawatir.
"Feel better. Lebih baik dari sebelumnya" Anne berusaha menjawab dengan tenang. Sadar jika suaminya terlihat sangat posesif dan khawatir dalam waktu bersamaan.
"Bagaimana kabarnya ?" James meletakkan telapak tangannya dan mengelus ringan perut buncit Anne.
"Baik. Aku hanya sedang mengalami trimester awal kehamilan, sedikit lebih lemah dari biasanya. Karen hanya memintaku untuk beristirahat dan rutin mengkonsumsi vitamin" Anne menjawabnya dengan jelas.
"Kamu hampir memuntahkan semua makanan yang kamu makan Anne. Aku tak ingin melihatmu harus mendapatkan bantuan nutrisi dari jarum suntik" James terlihat rewel sekarang.
"Dia baik-baik saja jika itu yang kamu takutkan. Aku sudah mulai terbiasa dengan beberapa perubahan yang terjadi"
"Aku mengkhawatirkanmu Annelise" James menekankan kalimat yang diucapkannya, membuat Anna senang mendapat perhatian dari suaminya ini.
"Aku dan bayiku baik-baik saja. Kamu tidak perlu sekhawatir itu" Anne menenangkan James kembali.
"Bayi kita Anne"
"Yaa bayi kita" Anne mengatakannya sambil tersenyum.
"Aku mencintaimu Anne" James memeluknya lagi dengan erat. Seolah pelukan itu adalah obat segala kerinduannya selama ini.
"Aku ingin dipeluk olehmu selama tidur" Anne mengucapkan permintaannya dengan manis. Ia berusaha memperbaiki posisinya agar menjadi lebih nyaman.
"No problems. Aku akan melakukannya dengan senang hati" James berkata dan lantas bergabung di ranjang bersama dengan Anne.
Memeluknya dengan erat sambil sesekali mengelus pelan rambutnya. Suasanya yang jelas dirindukannya sejak sebulan terakhir. Tubuh Anne serasa pas dalam rengkuhannya. Aroma tubuh Anne adalah farfum terindah yang dimilikkinya.
Anne menyandarkan kepalanya pada dada bidang James. Membiarkan pria itu memiliki tubuhnya. Kehangatan dan aroma tubun James seolah menjadi satu-satunya aroma yang dapat dihirupnya tanpa perlu merasa mual.
"Aku menyukai aroma tubuhmu" Anne mengeratkan pelukannya dan tampak mengendus tubuh James perlahan. Membuat James merasa berharga dan dibutuhkan oleh perempuan itu.
"Aku bahkan belum mandi dan membersihkan tubuhku sejak datang kemari" James menjawabnya sambil terkekeh pelan.
"Baumu menyenangkan untukku. Aku merasa lebih baik dan tidak merasa mual saat berdekatan denganmu" Anne mengatakan apa yang kini dirasakannya.
"Mungkin kamu merindukanku. Atau bayi kita menyukai aroma daddynya" James mengelus rambut Anne perlahan dan mengecupnya pelan.
"Kami yang merindukanmu" Anne menjawab sambil tersenyum. Memandang wajah James dengan penih cinta dan melanjutkan dekapannya.
"Sejak kapan kamu mulai mencintaiku Anne ?" James bertanya kepada Anne tanpa menghentikkan jemarinya yang memelintir pelan rambut panjang perempuan itu. Sebuah kegiatan baru yang jelas disukainya.
"Saat aku menyerahkan diriku padamu, aku sudah mencintaimu. Mungkin sejak kamu merubah beberapa kebiasaanmu untuk berhenti merokok karena phobia yang aku alami"
"Entahlah.. aku tidak yakin kapan merasakannya. Saat melihatmu bersama Hellena pertama kalinya, aku merasakan hal yang aneh. Aku tidak menyukai kedekatan kalian. Mungkin saat itu aku sudah menjatuhkan hatiku padamu" Anne menjelaskan pelan dan membuat James tersenyum bahagia.
"Setelah semua yang terjadi. Aku mungkin harus mengakui bahwa aku mungkin sebenarnya mencintaimu lebih dulu" James menjelaskan perasaannya. Membuat Anne mendongak seketika dan menatap wajah pria itu.
"Benarkah ?"
"Aku sudah mencintaimu saat pertama kalinya mendatangi restomu hari itu dan komplain soal steak yang kamu buat. Aku tak pernah seantusias itu mengerjai perempuan yang akan dijodohkan denganku. Itu sudah bisa disebut cinta sepertinya" James berbicara sambil tertawa pelan.
"Pertemuan pertama yang jauh dari romantis" Anne berkomentar pelan.
"Tapi berkesan untukku, aku menyukaimu yang berani melawanku saat itu" James menerawang kembali kejadian itu dalam ingatannya.
Udara malam semakin dingin. Meski AC tidak dinyalakan suhu dingin yang masuk ke ruangan tersebut jelas dapat dirasakan oleh keduanya. James nampak khawatir membayangkan udara dingin yang terasa semakin menusuk ke kulitnya.
"Aku akan menutup jendelanya" James bangun dari posisinya dan terduduk sebentar di ranjang mereka.
"Aku suka jendelanya terbuka" Anne mengatakan keinginnannya.
"Udaranya terlalu dingin, tak baik untukmu" James memperingati.
"Aku takut jika tidur dalam ruangan tertutup" Anne mengatakan ketakutannya. Sebuah kenyataan baru yang diketahui oleh James. Perubahan yang mungkin dialami Anne sejak masa awal kehamilannya dan setelah sekian lama tidak bersamanya.
"Ada aku yang bersamamu. Tak ada yang perlu kamu risaukan" James meyakinkan Anne. Kesehatan perempuan itu jauh lebih penting baginya dibanding dengan apapun.
James berjalan menuju jendela dan menutupnya perlahan. Melihat sekilas dari tempatnya bahwa Hans dan Ron tampak berjaga di teras depan sambil menikmati minuman panasnya. Tak ada hal yang perlu dikhawatirkan sejauh ini.
Anne berjalan menuju lemari pakaiannya dan memutuskan mengganti pakaiannya dengan gaun tidur berbahan satin yang nampak lebih nyaman. Gaun tersebut nampak tertutup dan bahkan memiliki panjang hingga ke bawah lututnya. Sejak hamil, Anne merasa seringkali suhu tubuhnya berubah dan merasa kepanasan saat tidur meski sudah menggunakan AC. Memakai pakaian yang nyaman menjadi seperti alternatif baginya.
Perempuan itu juga nampak menyemprotkan farfum beraroma strawberry favoritnya. Rutinitas yang tidak pernah berubah sejak menikah dengan James. Perempuan itu akan tampak menikmati tidurnya dengan aroma farfum favoritnya tersebut.
Berjalan mendekati nakas di sebelah tempat tidurnya, Anne menyalakan aromaterapi elektrik miliknya. Membuat kamar tidur dipenuhi aroma yang lembut dan disukainya. Mematikan lampu kamarnya dan menyalakan lampu tidur di sebelahnya, Anne hampir saja membaringkan tubuhnya di ranjang besar tersebut jika saja tidak ada tubuh kekar yang menahan pergerakannya.
James berdiri di belakangnya dan menarik perempuan itu ke dalam pelukannya. Menghirup aroma perempuan itu yang terasa menenangkan baginya. Ia bahkan mengelus pelan kulit lembut Anne yang bersembunyi di balik gaun tidur berbahan satin tersebut.
"Aku menyukai gaun tidur ini di kulitmu Anne" James berkata parau di sebelah telinganya nyaris berbisik.
Pria itu mengelus pelan rambut Anne dan menanamkan sebuah kecupan di bahu perempuan itu. Membuat kulit tubuh Anne meremang merasakan sensasi aneh yang selama ini tidak pernah dirasakannya. James bahkan meletakkan telapak tangannya untuk membalikan tubuh Anne. Menatapnya dalam tatapan lapar yang sebenarnya ingin segera dituntaskannya.
Menyentuh dengan perlahan perut Anne yang tampak membuncit tersebut, James mendekatkan wajahnya hingga nyaris tak memiliki jarak berarti dengan wajah Anne. Hembusan nafas keduanya bahkan terasa hangat dan menyenangkan.
"Aku menginginkanmu. Bolehkah ?" James tampak meminta izin pada perempuan di hadapannya.
Mengelus pelan rahang James, Anne hanya tersenyum simpul. Tanda ia mengizinkan James memiliki dirinya seutuhnya. Malam itu, sekali lagi dalam perjalanan awal hidupnya yang baru akan dimulai.