The Ice

By christaviana

373K 18.3K 100

Jika mencintai kamu adalah sebuah kesalahan, maka aku rela tidak menjadi benar hanya untuk mencintaimu. Jika... More

Prolog
Chapter 1: Crystal
Chapter 2: Ivander
Chapter 3: Crystal
Chapter 4
Chapter 5
Chapter 7
Chapter 8
Chapter 9
Chapter 10
Chapter 11
Chapter 12
Special Chapter: Crystal's Past
Chapter 13
Chapter 14
Chapter 15
Chapter 16
Chapter 17
Chapter 19
Chapter 18
Chapter 19
Chapter 20
Chapter 21
Chapter 22
Chapter 23
Chapter 24
Chapter 25
Chapter 26
Chapter 27
Chapter 28
Chapter 29
Chapter 30
Chapter 31
Chapter 32
Chapter 33
Chapter 34
Chapter 35
Chapter 36
Chapter 37
Chapter 38
Special Chapter: Vander's Dark Secret
Chapter 39
Chapter 40
Chapter 41
Chapter 42
Chapter 43
(Maybe) An Epilog
Author's Note!

Chapter 6

8.7K 464 0
By christaviana

Gue lagi jalan dari arah kelas menuju perpus. Yaps, gue disuruh sama salah satu guru (oke gue lupa nama gurunya siapa) untuk naro beberapa buku di perpustakan. So, here I am. Di koridor yang sepi gara-gara anak-anak pada ke kantin.

Gue jalan dengan santai sambil ngelamun. Saking asiknya gue ngelamun, gue nabrak seseorang. Ah tau ah. Lagi enak-enak ngelamun malah nabrak.

“Sorry ya,” kata gue sambil membereskan buku-buku yang jatuh. Kenapa gue bilang sorry? Karena gue kasian dia udah jatuh sampe jatuh duduk gitu lagi. Gue berdiri dan melihat orang yang gue tabrak. Ternyata dia…

Crystal.

Harus ya gue punya masalah terus sama dia? Setelah kejadian tadi pagi dan baru aja baikan, sekarang gue udah nabrak dia. Ckck.

Gue mengulurkan tangan. Dia cuma ngeliatin dengan tatapan tajam. Astaga, emang dia kalo natep kayak gitu apa emang kesel sama gue?

“Udah bagus gue mau tolongin, malah ngga ditanggepin. Ngga tau diri,” kata gue sinis. Yaiyalah, siapa sih yang ngga kesel kalo udah ada niat baik tapi malah ngga ditanggepin?!

“Ya emang udah seharusnya lu nolongin gue. Gara-gara lu kan gue jadi jatuh gini. Udah seharusnya lu kayak gitu,” dia ngebales dengan sinis juga. Sial, gue ngga boleh kalah sama dia.

“Ngga sepenuhnya salah gue juga kali. Lu juga kan yang jalan sambil ngelamun”

“Lu sendiri jalan sambil ngelamun. Jadi ini salah lu.”

“Kalo gue jalan sambil ngelamun dibilang salah, lu juga harusnya salah dong. Kan lu juga jalan sambil ngelamun” dia terdiam sesaat. Gue menyeringai penuh kemenangan.

Dia mengerutkan keningnya. “Gue ngga ngerti apa yang lu omongin barusan.”

Anjir! Cewek cantik begini ternyata lemot! Ckck.

Wait…

Gue bilang apa?! Dia cantik?! Otak gue mulai sengklek nih.

“Lemot amat sih lu jadi cewek.”

“Apa lu bilang?! Lemot?” dia nanya apa ngomong sih? Nadanya datar banget!

“Iya. Kenapa?” kata gue santai. Dia keliatan banget nahan marah. Gua senyum kecil.

“Gue. Bukan. Cewek. Lemot.”

Gua ngga lagi membalas perkataannya, langsung pergi gitu aja.

“Cowok gentle itu ngga pergi gitu aja setelah ngata-ngatain cewek”

Anjir. Kata-katanya nyelekit. Gua balik badan dan menatapnya tajam. Dia bales natep gua tajam.

Mata biru lautnya itu seolah-olah mengeluarkan pisau. Tatapannya tajam dan membunuh. Tiba-tiba gue merasakan seluruh bulu kuduk gue merinding.

Tatapan itu..tatapan tertajam yang pernah gue temuin dari seorang cewek yang kelihatannya lembut banget.

Dan istilah don’t judge a book by their cover itu terbukti sangat benar.

Cewek ini sama sekali ngga lembut seperti kelihatannya. Tatapannya kayak es dan pisau. Baru kali ini gue nemuin cewek dengan tatapan kayak gitu. 

2-6-14

-Christaviana

Continue Reading

You'll Also Like

321K 24.3K 36
Namanya Camelia Anjani. Seorang mahasiswi fakultas psikologi yang sedang giat-giatnya menyelesaikan tugas akhir dalam masa perkuliahan. Siapa sangka...
521K 25.7K 73
Zaheera Salma, Gadis sederhana dengan predikat pintar membawanya ke kota ramai, Jakarta. ia mendapat beasiswa kuliah jurusan kajian musik, bagian dar...
604K 7.6K 23
Klik lalu scroolllll baca. 18+ 21+
MARSELANA By kiaa

Teen Fiction

1.4M 80.3K 53
Tinggal satu atap dengan anak tunggal dari majikan kedua orang tuanya membuat Alana seperti terbunuh setiap hari karena mulut pedas serta kelakuan ba...