Part ini, dan beberapa part kedepan aku dedikasikan buat dua Band kesukaan aku Muse dan The Script, yang di namai begitu tepatnya, lagu-lagunya, -selain lagu-lagu Adele- menginspirasi aku nulis adegan-adegan yang baper. Makasih banyak ya abang-abang kece *plak* .
Oke, 1.. 2.. 3 cekidottttttt~
- Kiran -
Aku menatap lelaki ganteng yang sedang duduk dengan mata terpejam dan tubuh bersandar di sofa Cafe hotel dengan cemas. Keningnya berkerut seperti menahan sakit. Butiran-butiran keringat kecil meluncur di keningnya. Hati ku mencelos perih melihatnya seperti ini.
Tangan ku bergerak menyentuh dahinya. Ku letakkan telapak tangan ku di dahinya. Keningnya yang berkerut agak melonggar. Tubuhnya sedikit rileks merasakan sentuhan ku.
"Rifan, kamu sakit?" Tanya ku dengan intonasi yang begitu cemas.
"Hmm. Cuman jet lag. Kepala ku sakit" gumamnya dengan mata terpejam. Suara beratnya terdengar serak.
"Tadi kamu balik ke indonesia ya? Seharian ini tadi kamu gak ikut kegiatan" tanya ku lagi masih dengan begitu cemas.
Aku tadi sempat terkejut juga saat kegiatan pagi Rifan tak ada, kegiatan siang juga tak ada, kegiatan sore juga demikian, bahkan sampai malam. Aku SMS, gak di balas. Apa lagi telpon? Mailbox, iya! Aku pikir dia kenapa-kenapa, tapi aku tanya dokter Fahri, katanya dia ijin seharian urusan bisnis.
Pantas dia menghilang seharian, kita udah ikut kegiatan 4 hari dan baru sehari tadi dia absen. Sampai tadi sehabis makan malam dia SMS, minta aku datang ke sini. Akhirnya bisa lihat dia juga. Tapi yang dilihat malah kayak gini. Tubuhnya lemah, lunglai tak berdaya. Pasti dia capek.
"Aku dari Singapura tadi ke Malaysia buat ngecek peruasahaan tadi katanya ada masalah, habis itu aku terbang lagi ke Indonesia. Dari Indonesia aku terbang lagi salah satu kota tempat cabang perusahaan, katanya ada masalah juga. Habis itu aku terbang lagi ke RS internasional Emerth, baru aku terbang ke sini. Kiran, kepala ku mau pecah" Jelasnya sambil mengenggam tangan ku yang berada di dahinya.
"Emang gak bisa apa, itu urusan di tangani dulu sama pimpinan lain? Kamu kan lagi ikut kegiatan disini. Kan kasihan terbang sana sini. Emang kamu Superman apa. Kamu kan cuman manusia biasa" kata ku cemberut dan juga cemas. Well ya, Rifan bukan terbang beneran pake sayap tapi pake pesawat pribadi keluarganya pasti. Karena setau ku mereka punya pesawat pribadi.
Rifan mendegus geli mendengar ku. Dia mengusap-mengusap tangan ku yang di dahinya. Jiaah.. Ini kenapa jadi aku yang ditenangin?
"Ayah selalu bergantung pada ku. Kalau ada masalah dikit saja di perusahaan, beliau selalu mau aku yang datang ngecek, sekalipun ada pimpinan lain." Jawabnya dengan lembut.
"Trus tadi kenapa balik lagi ke RS Internasional Emerth? Kalau ada masalah kan, ada Candra. Dia juga kan andalan Direktur" Seru ku masih dengan cemberut.
"Candra lagi gak enak badan. Udah beberapa hari ini di mual muntah. Juga gak nafsu makan. Katanya sampai berat badannya turun 3 kilo dalam beberapa hari. Obat yang diminum pun gak mempan. Kalau udah gitu, mana bisa dia berfikir" jelasnya.
"Hee? Candra sakit? Dih. Kok sakitnya kayak orang lagi hamil muda aja ya" kata ku skeptis.
Perkataan ku sontak membuat Rifan membuka matanya dan menoleh menatap ku. Tatapannya penuh tanda tanya. Keningnya berkerut memikirkan sesuatu.
"Kok sama? Aku juga mikir gitu. Setau ku, laki-laki juga bisa ngidam kan?" Tanyanya dengan penuh selidik.
"Iya emang bisa. Tapi kan gak mungkin Candra hamil. Dia kan laki Rif" seru ku sambil mendengus geli.
"Iya emang dia gak mungkin hamil. Pasangannya mungkin iya" kata Rifan dengan tatapan masih penuh selidik.
Perkataan Rifan langsung membuat ku melongo. Pasangan? Pasangan Candra kan April. April hamil? Candra kan gak cinta sama April. Masa iya mereka gituan? Hah? Wah, wah. Bahaya nih.
"Maksud kamu pasangan Candra, itu April? Memangnya mungkin gitu April hamil? Mereka gak ehmm.. Eh.." Tanya ku tanpa bisa melanjutkan pertanyaan ku yang terlalu menjurus.
"Gak saling cinta maksud kamu?" Tanya Rifan melanjutkan kalimat ku tadi. Aku mengangguk sambil tersenyum kaku menjawabnya. Rifan malah mendengus geli.
"Aku tuh tau gimana intensnya hubungan mereka. April sering curhat pada ku. Mereka sudah sering berhubungan badan. Terlampau sering malah. Sejak mereka masih kuliah malahan. Dan gerak gerik mereka juga menampakkan kok." Kata Rifan sambil menggeleng-geleng.
Aku makin terkejut dan makin melongo mendengarnya. Gila. Gak saling cinta kok mau aja gitu ya. Udah gitu belum nikah lagi. Duh, dasar anak-anak jaman sekarang. Eh? Emang aku nenek-nenek? Umur juga gak jauh beda, sok ngececar Hahahaha.
"Trus kalau kamu udah tau gitu kenapa kamu gak larai mereka? Nasehatin tuh Candra. Anak orang jangan dimainin" jawab ku gak suka.
"Aku bukan gak pernah larai atau nasehatin. Udah, berkali-kali malah. Tak mereka berdua masih saja kayak gitu. Gak mau dengar. Dan ada satu alasan juga sih kenapa aku biarkan saja mereka" sahut Rifan matanya menerawang seperti mengingat sesuatu
"Apa alasannya?" Tanya ku kepo.
"Karena aku tau, Candra itu sebenarnya cinta sama April. Tapi, dia aja yang gengsi atau kelewat bodoh gak ngerti perasaannya sendiri" jawab Rifan sambil tersenyum geli.
Halah. Gaya dia ngatain Candra gengsi dan bodoh akan perasaannya. Lah dia sendiri? Juga sama! Dia sama Candra tuh gak ada bedanya. Malah sok ngatain lagi. Jehh!!
"Tapi, emang beneran April hamil?" Tanya ku begitu gak percaya.
Rifan mengedikkan bahu. "Gak tau. Nanti sampai Indonesia aku coba ngomong sama dia. Dia bukan tipe orang yang terbuka. Tapi, dengan ku dia selalu bisa mengungkapkan segalanya. Mungkin karena sudah terbiasa dekat dengan ku dari dulu dan aku juga selalu bisa menangkap perasaannya" jawabnya dengan serius.
"Trus kalau kamu tau kenyataannya memang dia hamil gimana?" Tanya ku lagi.
Mendengar ku, Rifan menghembuskan nafas berat. Udah kayak bapak-bapak yang lagi tau anaknya hamil aja nih Rifan.
"Yang pasti aku bakal minta Candra tanggung jawab dan nikahin April. Dan aku bakal menentang jika mereka mau aborsi. Dan aku yakin juga pasti April atau pun Candra gak mau. Mereka orang terpelajar. Dan apalagi Candra, dia kan seorang dokter. Aborsi bukan jalan keluar" jawabnya dengan serius.
"Ya aku setuju. Yang melakukan siapa, yang harus dibunuh siapa. Aku juga bakal benci setengah mati sama Candra dan April kalau mereka lakuin itu. Tapi, kalau Candra gak mau tanggung jawab gimana?" Kata ku.
"Dia bakal berurusan dengan ku. Aku gak peduli kalau kali ini kita bakal masuk UGD. April itu sudah seperti adik ku sendiri. Aku gak bakal biarkan Candra ngerusak hidupnya. Tapi, aku yakin Candra itu bertanggung jawab. Masalahnya cuman satu." Sahut Rifan.
"Apa masalahnya?" Tanyaku begitu kepo.
Bisa gak sih, Rifan ini ngomong sampai habis. Pakai ngegantung kayak jemuran. Cukup hubungan kita aja yang dia gantung. Jangan kalimat juga. Eh?
"Masalahnya aku yakin pasti April ini gak berani jujur sama Candra soal kehamilannya, kalau memang dia hamil. Karena yang ku tau, hubungan mereka sedang kacau." Katanya dengan cemas.
"Itu kan anak Candra. Kenapa juga April harus gak berani jujur sama Candra?" Tanya ku dengan heran.
"Aku tau April itu orang seperti apa. Dia terlalu takut sama Candra. Dia mirip Almarhuma Aulia. Aulia juga sangat takut sama aku. Mirip Bunda yang juga takut sama Ayah. Dan ada juga satu wanita yang begitu takut sama aku" katanya sambil tersenyum di akhir kalimat.
"Siapa wanita itu?" Tanya ku kepo lagi deh. Habis ngegantung mulu.
"Yang lagi duduk di samping ku, yang tangannya kecilnya lagi ku genggam" jawabnya sambil melirik ku dengan tatapan jailnya.
"Aku? Ihh.. Aku gak takut sama kamu kali" sahut ku sambil melepas genggamnya dan memasang tampan arogan ku.
"Oh ya? Trus siapa ya yang gemetaran tiap kali aku marah, siapa ya yang waktu itu nangis saat aku marah banting kursi, banting status di nurse station. Padahal aku bukan marah sama dia. Siapa juga ya yang waktu itu nangis ketakutan saat aku marah di tempat praktek sampai tendang meja sampai dia gak mau pulang sama aku saking takut lihat wajah ku. Trus siapa juga yang,-"
Aku langsung membekap mulutnya dengan tangan ku sebelum dia membongkar semua aib ku. Walau cuman kita berdua aja yang dengar tapi tetap aja nih wajah memenas saking malunya.
"Udah deh cukup jangan di lanjutin. Habis kalau kamu marah tuh nyeremenin. Hiii" kata ku sambil bergidik.
"Berarti kamu takut kan sama aku?" Tanyanya sambil memasang tampang arogannya.
"Hmm.. dikit" gumam ku. Rifan mengangkat sebelah alisnya dengan tatapan tak percaya.
"Oke. Oke, aku takut. Iya aku takut memang." Kata ku pada akhirnya sambil mengigit bibir. Rifan mengacak-acak rambut ku sambil tersenyum.
Memang jujur sih, aku tuh takut sama Rifan loh. Semakin dewasa, dia makin menyeramkan kalau marah. Dulu waktu masih sekolah, dia memang orangnya tempramental. Tapi, aku gak begitu takut kalau dia marah. Sekarang, aku takut banget kalau dia marah.
Pokoknya tiap kali dia marah, walau itu bukan untukku air mataku tuh langsung tumpah. Jantungku langsung berpacu keras sampai tubuhku bergetar hebat. Rifan kalau marah sumpah mengerikan. Wajahnya, suaranya sampai gerakannya. Ihh, pokoknya seram.
Aku udah banyak dengar gosipan dari para perawat di ruangan aku, maupun perawat di kamar operasi kalau Rifan tuh dokter spesialis muda yang sangat menyeramkan. Dia menempati posisi pertama, dan posisi kedua tuh Candra. Dan memang sih, kalau dia marah rasanya tuh kayak tubuh tuh berasa hilang tulang. Langsung lemes gitu. Entahlah mungkin faktor auranya juga kali.
"Aduh duh duh" rengut ku saat merasa pipi ku dicubit lagi.
Aku menoleh ke arah Rifan. Dia menatap ku dengan tatapan kesal dan kening yang terangkat sebelah.
"Apa?" Tanyaku bodoh sambil mengelus pipiku.
"Makanya kalau orang ngomong jangan melamum" serunya sambil menyetil jidat ku.
Sumpah!! Aku kalau suatu saat aku jadi nikah sama Rifan, aku mungkin tiap saat di KDRT-in sama dia. Eh? Kayak bakal di nikahin aja. Kan boleh dong pengandaian. Muahahaha.
"Emang ngomong apa?" Tanya ku dengan bodoh lagi.
"Aku bilang, kamu tau pijat relaksasi kepala gak? Pasti tau kan? Masa perawat gak tau" tanyanya dengan wajah kesal.
"Oh itu. Ngomong dong. Iya tau." Kataku dengan songongnya.
"Aku tadi ngomong. Tapi kamunya yang melamun tembem pendek" jawabnya sambil mencubit pipi ku dengan gemas.
Heee? Rifan panggil aku tadi apa? Tembem pendek??? Sekali lagi, Tembem pendek???? Dia panggil sebutan khasnya waktu SMA pada ku? Kyaaaaa.. Akhirnya Rifan kembali. Dia bisa lagi mengejek ku. Horaaaaaaaaiii.
"Eh, malah melongo lagi dia. Pijitin aku dulu kalau kamu bisa. Cepetan sebelum nih kepala pecah" katanya membuyarkan melongo ku.
"Iya iya dengan senang hati" jawab ku sambil tersenyum senang. Saat tangan ku beranjak ke kepalanya dia mencekalnya.
"Jangan disini. Di balkon lantai 3 hotel aja. Di sana udaranya sejuk. Dan, cuci dulu tangan mu itu nanti rambut ku bau ice cream dan cake yang kamu makan" sahutnya dan memandang tangan ku dengan tatapan jijiknya. Ih, nyebelin banget sih! Rifan songong come back!
"Aku makan pake sendok Rifan. Bukan pake tangan. Nih gak bau kok" jawab ku kesal sambil menyodorkan tangan ku di hidungnya.
"Bau manis ini. Ini dari ice cream dan cake tadi. Ah, cuci dulu sana. Kalau aku di kerubutin semut ntar kamu mau tanggung jawab? Aku udah habis mandi ini. Gak kuat lagi kalau mau mandi ulang. Cuci tangan aja susah!!" Katanya dengan emosi sambil mencium tangan ku kemudian menghempaskannya lagi.
"Hedeh. Iya iya. Tunggu sini aku cuci tangan dulu. Jangan ditinggalin, ntar aku tersesat" jawab ku kesal.
"Iya tembem pendek" sahutnya sambil tersenyum. Aku pun membalasnya dengan senyum manis.
Aku pun bergerak menuju toilet untuk mencuci tangan. Sambil tersenyum-senyum sendiri. Kalau biasanya waktu SMA aku marah kalau dikatain tembem pendek dan selalu ngebalas dengan sompret, songong, kampret atau sialan! sekarang aku malah senyum aja.
Gimana enggak senang, dia akhirnya bisa kembali lagi ngejek aku. Itu berarti Rifan semakin berubah kembali ke dirinya. Ngomong-ngomong, aku gak pernah bisa balas ejekkannya. Soalnya dia gak ada gak bagusnya. Semua bagus. Bingung mau ejek apa. Atau mungkin otakku aja yang gak nyampe buat balas ejekkannya.
Dia ngejek aku tembem pendek karena pipi ku memang tembem di ukuran badan ku yang kecil ini. Aku gak gendut, berat badan ku hanya 55kg. Tapi, pipi ku tembem banget. Dan kenapa dia ngejek pendek? Karena aku cuman seukuran dadanya. Alias sampai di posesus xifodeusnya. Padahal aku tuh tingginya 163cm. Ideal tau dengan berat ku.
Hanya saja, Rifan tuh yang kelebihan tinggi. Tingginya yang aku tau sekarang waktu aku tanyain dia tuh 185cm. Kalau soal berat badan, aku gak tau. Tapi, dia jawab ideal aja gitu. Kayaknya sih gitu. Mungkin sekitaran 75 atau 80 kg. Soalnya dia tubuh dan tingginya proposional. Dan kekar cuyyyyy..
Aku kan udah pernah liat dia telanjang dada. Waktu itu aku memang lagi sedih, tapi gak pungkiri kalau aku perhatikan juga. Dan ngiler juga! Dadanya bidang, perutnya? Kotak-kotak sempurna. 6!! Otot tangannya? Beuh.. Keren!! Tapi, gak berlebihan sih kayak atlet angkat barbel gitu. Urat-uratnya juga gak terlalu nonjol.
Tapi, badannya? Heuhh.. Keras kayak beton! Nyandar di tangannya tuh kayak nyadar di beton. Di peluk dia kalau terlalu erat tuh gak bisa napas cuyy.. Hahaha. Tuh orang sibuk, tapi masih sempat nge-gym ya. Hebat. Aku aja yang gak terlalu sibuk gini malas banget olahraga. Paling nge-zumba aja tiap minggu biar makan banyak tapi tetap langsing. Hahaha
Badan Rifan dulu waktu SMA gak segede dan sekeren sekarang. Dulu, memang sih badannya atletis juga. Cuman perutnya gak kotak-kotak kayak sekarang. Tapi, tetap bagus. Soalnya dia dulu kan atlet basket. Aku sering lihat dia buka-bukaan baju kalau habis latihan. Jadi, aku tau lah. Dan well, perubahannya cukup drastis. Sekarang pun dia makin tinggi dan badannya makin berisi. Makin cakep lah. Almost perfect. Uhuiiy..
Akhirnya kita pun tiba di balkon hotel dan duduk disalah satu sofa panjang disana. Udara malam dan pemandangan kerlap kerlip Singapura terlihat begitu indah dari sini. Benar-benar menenangkan hati.
Rifan duduk di samping ku, dan tanpa aba-aba, dia langsung meletakkan kepalanya di atas paha ku. Dih, seenaknya banget nih orang.
"Pijitin. Cepat!! Kepala ku udah mau meledak." Perintahnya dengan wajah mengadah ku dan mata terpejam.
"Iya Tuan" jawab ku dengan sebal. Tapi senang juga sih. Apapun deh buat Rifan tercinta ini.
Aku pun memijat kepala Rifan, dengan teknik pemijatan relaksasi plus hati penuh cinta dan tulus. Area pelipis dan keningnya begitu tegang dan uratnya pun menonjol. Tanda bahwa kepalanya benar-benar sakit. Dia pasti jet lag kronis. Terang aja terbang sana sini seharian udah kayak Superman tanpa kolor. Eh?
"Relax dear, I will be healing you. So, let get sleep and make a dream." Kata ku sambil memijat kepalanya.
Rifan tersenyum mendengar ku dan mengangguk pelan. Mungkin kamu memang seorang dokter yang bisa menyembuhkan dan mendiagnosis pasien, tapi kamu juga butuh orang yang pintar merawat mu. Aku lah yang pantas Rifan. Choice me. Choice me in your life, to be future wife and mom for your children's. I'll be waiting for that. Always waiting, darling.
***
- Rifan -
Allahu akbar Allahu akbar..
Aku tersentak dari tidur ku mendengar alarm suara adzan di handphone. Aku meraih handphone diatas nakas, dan melihat keterangan alarm.
Azdan Subuh.
Aku menatap tempat tidur di seberang ku. Kosong. Berarti dokter Fahri sudah ke musholla hotel untuk subuh. Aku angkat tubuh ku dan merenggangkan tubuh ku. Kepala ku sudah ringan akibat pijitan Kiran semalam. Dia benar-benar perawat yang berbakat. Tangannya menyembuhkan.
Aku turun dari ranjang dan menuju ke kamar mandi. Sebaiknya aku bergegas ke musholla untuk subuh. Setelah menganti baju, aku pun keluar kamar menuju musholla dan melaksanakan sholat subuh.
Setelah selesai sholat, aku memandang sekeliling. Masih ada para dokter dan staf yang bercengkrama. Aku putuskan untuk keluar saja dan kembali ke kamar. Aku mau ngecek jadwal dan pekerjaan yang tersisa.
Saat aku keluar mushola, ku lihat Kiran dan beberapa perawat juga keluar dari arah tempat wanita. Aku pun bergerak mendekati mereka.
"Pagi dokter Rifan" sapa para perawat yang bersama Kiran. Mereka tersenyum manis pada ku yang ku balas senyum kecil.
"Pagi" sahut ku.
"Kir, kami duluan ya. Yuk ayo ke kamar" kata salah satu perawat. Dan mereka pun pergi meninggalkan aku dan Kiran. Itu lebih baik.
"Gimana kepalanya? Masih sakit?" Tanya Kiran dengan tatapan sedikit cemas.
"Alhamdulillah udah baikkan. Pijitan mu mantap. Makasih" jawab ku dengan tulus dan menyungginkan senyum terbaik ku.
"Iya dong. Sama-sama." Sahutnya bangga dengan senyum manisnya.
"Bahkan pijitan mu lebih baik dari pijitan Bunda dan Aulia dulu. Akhirnya aku dapat juga orang pas buat mijitin kepala ku. Aku nobatkan kamu sebagai pemijit kepala ku mulai sekarang" Kata ku dengan senyum miring.
"Ih. Nobatkan itu jadi calon istri kek. Ini nobatkan jadi pemijit kepala" cibir Kiran. Tapi suaranya dipelankan.
"Kiran, aku ini sering terbang berangkat sana sini buat urusan bisnis. Kepala ku sering jet lag. Kamu gak kasihan sama aku?" Seru ku sambil memasang wajah muram. ku hiraukan kalimat calon istrinya tadi aku tak mau membahas itu.
"Kasihan sih. Hmm.. Iya deh. Apa sih yang gak buat kamu" sahutnya dengan senyum lebar.
"Makasih ya Kiran." Jawab ku dengan tulus dan aku berusaha menyungginkan senyum terbaik ku. Mata Kiran langsung melebar melihat ku. Oke, tampaknya senyuman ku sukses.
"Ya udah. Balik ke kamar gih. Ready for breakfeast and next schedule." Kata ku kemudian.
"Oki doki. Bye Rif, sampai jumpa lagi" serunya sambil dah-dah han.
"Bye Kir. Sampai jumpa lagi" sahut ku.
Kami pun menuju kamar kami masing-masing dan siap untuk jadwal selanjutnya.
Aku pun akhirnya tiba di kamar. Ku buka kopiah, baju dan sarung sholat ku dan mengantungnya. Ku lihat dokter Fahri yang sedang duduk di ranjang sambil mengotak atik tabletnya. Dia mendongak dan tersenyum pada ku. Ku balas senyum dan menuju ranjang, mengambil tab ku dan mengecek email pekerjaan dulu.
"Gimana bro, pekerjaan beres?" Tanya Fahri membuka percakapan.
"Beres bro. Tapi masih ada beberapa yang perlu diperbaiki. But, so far, beres lah" jawab ku santai.
"Syukurlah kalau gitu bro. Bentar jadwal cuman sampai siang tuh. Gak jalan-jalan?" Seru Fahri.
"Oh ya? Aku baru mau ngecek jadwal nih. Kalau memang cuman sampai siang. Iya, pasti jalan-jalan." Sahut ku sambil tersenyum. Senang sih, kalau begitu sebentar aku bisa jalan-jalan sama Kiran.
"Sama siapa bro? Para dokter?" Tanyanya lagi.
"Gak kayaknya bro. Aku sama seseorang aja. Lebih bebas." Kata ku.
"Aku tau, sama Suster Kiran kan?" Tanyanya lagi sambil memasang tampang jail.
"Iya begitulah" balas ku santai.
"Sukses bro. Ditunggu undangannya" serunya sambil mengangkat keningnya.
"Undangan apa?" Tanya ku heran.
"Undangan pernikahan lah. Masa aqiqahan. Kan belum ada anak. Hehehe" jawabnya sambil nyengir.
"Pernikahan siapa?" Tanya ku makin heran.
"Pernikahannya ente sama suster Kiran lah. Hedeh" jawabnya jengah.
Aku mengangkat sebelah alis ku mendengar jawaban Fahri. Nikah? Sama Kiran? Itu adalah hal yang tak pernah aku pikirkan sama sekali. Tak ada pikiran menjurus ke sana. Perasaan aja gak ada.
"Gak lah. Belum. Entahlah" jawab ku skeptis.
"Ya udah bro. Yang penting jangan lama-lama. Masa mau jadi duren terus" serunya kemudian.
Aku hanya tersenyum kecil membalasnya dan melanjutkan membaca email. Dia pun melanjutkan kesibukannya di depan tab.
Gak. Belum. Entahlah. Itu adalah jawaban skeptis yang bisa ku lontarkan tentang hubungan ku dengan Kiran kedepan. Mungkin aku terlihat seperti lelaki plin plan yang tak bisa tegas. Tapi untuk saat ini aku benar-benar belum bisa menentukkan hati ku. Aku rasakan saja terus proses ini. Mencoba memahami dan menangkap perasaan ku ini. Semoga secepatnya. Dan tak ada penghalang.
***
- Candra -
Aku memarkirkan mobil ku di halaman rumah dan masuk ke rumah. Semoga sampai rumah Mama sudah selesai masak pesanan ku karena perut ku sudah lapar dan ngiler.
Sudah lama aku tidak makan siang di rumah. Tadi rasanya aku gak bernafsu dengan makanan cafetaria. Padahal ada beberapa kesukaan ku. Aku malah pengen sekali makan Opor Ayam buatan Mama. Jadilah aku meminta Mama untuk memasaknya untukku.
Aku pun tiba di dapur dan mendapati Mama dan Asissten rumah tangga kami sedang menyiapkan makanan. Aroma Opor Ayam tercium begitu menggiurkan. Perutku makin lapar.
"Eh Ndra, kamu udah datang? Duduk gih. Ini Opor Ayam pesanan kamu udah siap" seru Mama dengan tersenyum.
"Iya Ma. Aku juga udah lapar banget" kata ku langsung duduk di kursi meja makan dan membuka piring di hadapan ku.
Mama mengangkat piring ku dan menyendokkan nasi dan opor ayam ke piring ku. Aku pun melahap opor ayam yang begitu nikmat ini dengan lahap.
"Kamu masih mual muntah juga? Nafsu makan gimana?" Tanya Mama dengan cemas.
"Iya Ma. Tapi kalau siang dan malam udah gak terlalu. Pagi ini yang parah. Nafsu makan juga masih kurang. Hasil rontgen juga gak ada masalah di perut ku. Dan aku merasa baik-baik saja sih. Gak tau kenapa nih." Jawab ku sambil mengeleng-geleng.
Sudah seminggu ini aku mual muntah terus. Nafsu makan juga hilang. Padahal rasanya aku gak sakit apa-apa. Bahkan berat badan ku sampai turun 3 kilo. Ini aneh.
Aku menatap Mama. Mama memandang ku dan seperti sedang memikirkan sesuatu. Namun, tiba-tiba beliau memandang ku dengan penuh selidik. Kenapa nih Mama?
"Kamu baik-baik saja sama April kan? Kenapa dia jarang kesini? Udah sebulan lebih dia gak ke sini." Tanya Mama kemudian.
Arrgh.. Sialan! Akhirnya datang juga hari dimana Mama menanyakan hal ini. Malas sekali aku membahasnya.
"Iya, baik-baik aja. Dia lagi sibuk sama pekerjaan. Jadi jarang ke sini" jawab ku santai.
Aku terpaksa berbohong. Karena aku gak mau Mama ceramahin aku ketika tau tentang hancurnya hubungan kami. Aku lagi gak mau dengar ceramah Mama yang panjang lebar itu. Belum lagi amukan Papa kalau tau aku sudah memutuskan tunangan kami.
"Oh gitu. Trus, dia apa kabar? Dia baik-baik saja kan?" Tanya mama lagi. Raut wajahnya cemas.
"Iya baik-baik aja." Jawab ku datar.
Sejujurnya sudah hampir sebulan ini aku menghindari bertemu dengan April. Aku cuman bertemu dengannya sehari seminggu saat meeting gabungan saja. Selain itu, aku menghindari bertemu dengannya. Hati ku masih sakit. Aku gak tau bagaimana keadaannya sekarang. Walaupun aku terus memikirkannya akhir-akhir ini. Dia bahkan mendominasi pikiran ku lebih dari Kiran.
Aku sama sekali kepikiran dan sakit hati saat tau Kiran harus terpilih ke Singapura dan ada kak Rifan pula. Aku takut, kak Rifan benar-benar jatuh cinta sama dia dan aku sama sekali tak ada kesempatan lagi untuk mendapatkannya. Emosi ku benar-benar naik saat mengingat hal ini.
"Tapi kok ya, Mama liat gejala kamu itu seperti seorang lelaki yang pasangannya lagi hamil muda trus lelakinya yang ngidam gitu. Kan ada yang kayak begitu" kata Mama yang membuat ku langsung mendengus geli.
"Maksud Mama, April hamil gitu? Terus aku yang ngidam gitu? Gak mungkin lah. Aku yang tau bagaimana kami. Jadi gak mungkin" sahut ku sambil tersenyum geli.
"Kamu yakin?" Tanya Mama skeptis.
"Yakin Ma. Tenang aja" jawabku mantap.
"Ya sudah kalau begitu. Kalau kamu yakin. Ingat, kalian itu belum menikah. Jalin lah hubungan yang sehat" kata mama
"Iya Ma, Candra tau" sahutku datar.
Ya, sebenarnya dari hari kedua aku seperti ini suspect ku juga ke sana. Aku juga berfikir jangan sampai April hamil. Tapi, kami selalu melakukan perhitungan kalender dengan tepat. Dan sekalipun kita kebobolan, pasti April langsung memberitahukan ku kalau dia hamil.
Dia tidak mungkin bisa menyembunyikan apa-apa dari ku. Terlebih lagi itu anakku. Darah dagingku. Dia pasti akan langsung memberitahuku. Bahkan memanfaatkan hal ini agar aku cepat menikahinya.
Karena, jika memang dia beneran hamil. Aku akan menikahinya. Aku tak ingin menjadi lelaki tak bertanggung jawab. Aku akan coba lagi membuka hatiku selama kami menikah. Mungkin saja dengan kehadiran bayi kami, bisa membuka hatiku.
Tapi, kalau aku benar-benar tak bisa membuka hati ku sekalipun kami sudah menikah. Aku akan menceraikannya dan pasti tetap akan membiayai hidup anak kami. Karena aku tak mungkin tersiksa terus menerus hidup dengan wanita yang tak aku cintai.
Ya, semoga saja April tidak hamil dan kondisi ku ini hanya masuk angin atau apa. Karena aku tak mau menghentikan perjuangan ku untuk orang aku cinta. Aku benar-benar masih ingin berjuang untuknya. Cuman satu nama yang aku cintai sekarang. Kiran lah. Satu nama itu yang saat ini aku cintai. Belum saatnya aku menyerah. Aku mencintainya.
***
- April -
Aku duduk di cafetaria sambil melahap bubur ayam ku dengan lahap. Ini sudah mangkok kedua yang aku makan. Akhir-akhir ini makan ku sangat banyak. Berat badan ku sampai naik 3 kilo. Tapi, syukurlah aku tidak mual muntah atau ngidam yang aneh-aneh.
Aku sampai heran juga, yang aku tau ibu hamil muda itu pasti mengalami morning sickness, dan ngidam. Tapi, kok aku enggak ya? Tapi benar-benar bersyukur. Mungkin bayi ku pengertian. Bayi ku mengerti saat ini Bundanya sedang sendiri. Tak ada Ayahnya yang bisa memanjakan Bundanya. Walaupun aku begitu merindukannya.
Tiap malam aku tidak bisa tidur karena memikirkannya. Aku sampai harus tidur sambil memeluk jasnya yang ada tertinggal di rumah ku. Aku sampai harus membeli parfum yang biasa dipakainya untuk disemprotkan dijasnya agar aromanya bisa menenangkan ku dan aku bisa terlelap.
Aku sempat berfikir, aku dan Candra hampir dua bulan hubungan kita hancur dan selama itu hampir sama sekali tak ada komunikasi, trus kenapa aku bisa hamil? Tapi kemudian aku ingat. Kalau sebulan lebih yang lalu aku datang untuk mengantarkan barang pesanan Mamanya Candra di Mama ku dan mendapatinya duduk di balkon rumahnya. Awalnya kita cuman duduk bersama dalam diam, tapi tiba-tiba Candra dan mendekatiku dan kita kembali terlarut dalam tubuh kita. Dan saat itu Candra benar-benar ganas. Mungkin saat itu pikiran kita sedang tak jernih hingga kita bisa kebobolan. Tapi aku tak pernah menyesal. Sama sekali tak pernah.
Kring Kring Kring..
Bunyi handphone membuatku tersentak dari lamunanku. Aku merogoh saku bajuku dan meraih handphone. Aku lihat sebentar siapa penelponnya.
Direktur RS Internasional Emerth
Direktur? Beliau jarang menelpon kalau tidak ada yang urgent. Sepertinya cepat ku angkat. Aku pun menyentuh tombol jawab dan meletakkan handphone ditelingaku.
"Halo. Selamat pagi Pak Dir" sapaku dengan lembut.
"Pagi April. Kamu dimana sekarang?" Sahut Direktur dengan suara serak dan beratnya.
"Lagi di Cafetaria pak. Makan siang" jawabku dengan sesopan mungkin.
Sejak kak Aulia menikah dengan Kak Rifan. Secara otomatis, keluarga ku berkeluarga dengan Direktur. Di luar rumah sakit, aku memanggilnya dengan sebutan Om. Karena itu pinta beliau. Kata beliau, sekalipun kak Aulia sudah meninggal, tapi kami tetap keluarga. Tapi, disini aku tetap profesional menyebutnya pak Direktur.
"Kamu sudah selesai makan siangnya? Bisa keruangan saya? Ada yang mau saya bicarakan" tanya beliau dengan ramah.
"Iya sudah kok pak. Baik, saya segera ke sana" jawabku segera. Ya, karena memang aku sudah selesai makan.
"Baiklah. Saya tunggu ya April" kata beliau kemudian.
"Baik pak" sahutku.
"Tut tut tut" telepon pun terputus. Aku pun berdiri dan bergegas ke ruangan Direktur. Mungkin ada masalah keuangan yang harus di tangani.
Akhirnya aku pun tiba di ruangan Direktur di lantai 4. Aku memperbaiki letak pakaianku dan menarik nafas sebelum mengetuk pintu.
Tok tok tok.
"Masuk" pinta suara berat dan serak Direktur dari dalam.
Aku pun mengenggam kenop pintu dan membuka pintu ruangannya. Masuk dan menutup pintu. Saat tiba di dalam, mataku melebar saat melihat punggung seorang lelaki yang sedang duduk di hadapan meja Direktur. Punggung tegap yang begitu aku kenal dan aku rindukan.
"Kemarilah April. Duduk lah dekat Candra. Ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian" pinta Direktur dengan senyum
"I..iya pak" sahutku terbata-bata. Jantungku langsung berpacu kencang saat bergerak mendekat ke kursi samping Candra.
Dengan susah payah mengatur perasaan ku, akhirnya aku tiba di kursi sampingnya. Aku menarik kursi dan duduk di sampingnya. Aku meliriknya sekilas. Dia masih memandang ke depan tanpa mau memandang ku. Aku menarik nafas dalam mencoba menguasai diri yang tiba-tiba gugup di sampingnya.
"Baik lah. Karena April sudah ada. Maka, saya akan mengatakan hal yang akan saya katakan sama kalian.." Kata Direktur membuka percakapan.
"Begini, ada sedikit masalah dengan rumah sakit cabang kita di kota BM. Kemarin Rifan sudah ke sana dan memang agak berat masalahnya. Jadi, harus ada yang benar-benar pengalaman dan hebat dalam menangani masalah ini. Jujur, saja selain Rifan, saya tidak mempercayakan masalah ini ke pimpinan lain. Kecuali kalian berdua.."
"Tapi saya kasihan sama Rifan kalau dia harus bolak balik Singapura-Indonesia kemudian kota BM. Dia bisa sakit kalau terus diforsir. Kegiatan mereka juga masih ada dua hari. Saya ingin dia fokus ke sana dulu. Untuk itu, saya ingin meminta kalian berdua ke sana dan mengurusnya" jelas beliau panjang lebar.
Aku benar-benar terkejut dengan penjelasan beliau. Mataku sampai melebar dan mulutku melongo. Tapi, aku cepat-cepat menguasai diri. Aku melirik Candra, dia mengatupkan rahangnya. Tapi, ekspresinya masih kalem. Dia pasti sebenarnya tidak suka dengan hal ini.
"Saya mengerti keadaan ini pak, tapi bagaimana dengan Rumah Sakit pusat? Harus ada yang mengontrol di sini" kata Candra masih dengan sikap tenang.
"Di sini biar saya yang menghandle. Kalian ke sana saja. Aku percaya kalian bisa menyelesaikannya dengan cepat. Kalian tak kalah hebat dengan Rifan. Bisa kan?" Kata Direktur.
"Baiklah kalau begitu pak. Saya bersedia" sahut Candra dengan mantap.
"Kalau April bagaimana?" Tanya Direktur sambil memandangku. Aku melirik Candra, dia masih memandang kedepan.
Aku menunduk memandang meja dan mengigit bibirku. Sebenarnya aku mau saja. Aku selalu siap membantu Rumah Sakit ini. Apalagi bersama Candra. Tapi, jarak kota BM dengan kota kami ini 3 jam dengan dua kali transit kalau pakai pesawat biasa. Tapi, aku yakin kita pasti pergi dengan pesawat pribadi keluarga kak Rifan. Tapi tetap saja perjalanan 3 jam sampai ke sana.
Calon Bayi ku bagaimana? Aku sudah memeriksakannya kemarin di salah satu dokter kandungan yang merupakan tante kak Rifan yaitu kakak dari Bunda Kak Rifan. Aku sudah meminta untuk beliau merahasiakan hal ini. Khususnya untuk orang tua Candra dan orang tua ku dan pastinya Candra. Aku juga sudah menjelaskan untuk beliau, kalau aku sendiri yang akan mengatakannya. Dan aku tau beliau bisa menjaga rahasia.
Kata beliau, umur calon bayi ku sudah 5 minggu sekarang. Dia sehat-sehat saja. Tapi aku diminta untuk jangan bekerja terlalu capek dan keras. Sampai kandungan ku diatas 5 bulan. Dan aku takut kalau naik pesawat aku kelelahan, guncangan dipesawat atau bagaimana aku tak mau ada apa-apa dengan calon bayiku. Tapi, aku mau alasan apa?
"April? Ada apa? Kamu bisa atau tidak April?" Tanya Direktur.
Aku mendongak dan mendapati wajah Direktur cemas bercampur bingung. Ku lirik Candra, dia juga kini memandangiku dengan kening berkerut. Aku menelan ludahku dengan susah payah. Aku harus mengambil keputusan.
"Aku.. Aku. Maafkan aku pak, sepertinya aku tidak bisa. Aku sedang tidak enak badan. Dan pekerjaan di perusahan Ayah juga sedang tidak bisa ditinggalkan" dusta ku dengan tak begitu sukses karena suara ku yang bergetar.
Wajah Direktur terlihat kecewa, ku lirik Candra dia masih memandangi ku dengan kening berkerut. Aku menunduk dan mengigit lagi bibirku. Aduh, sebenarnya aku pengen pergi dengan Candra. Tapi, aku tetap harus menjaga calon bayiku.
"Ya sudah April kalau memang kamu tak bisa. Kalau gitu saya bisa minta Terry, Wakil Manager keuangan saja. Untuk menggantikan mu. Tak apa-apa" sahut Direktur dengan tersenyum pengertian.
Mataku langsung sontak melebar mendengar siapa penggantiku. Tidak!! Jangan wanita itu. Aku tahu dia sangat tergila-gila dengan Candra. Dia bahkan dengan terang-terangan mengatakan begitu menyukai Candra kepadaku. Jangan dia. Tidak!! Aku tak mau dia menggoda Candra di sana.
"Jangan pak!! Saya saja kalau begitu. Saya cukup minum vitamin saja sudah enakkan. Dan urusan perusahaan, Ayah pasti bisa mengerti. Dan saya bisa minta pimpinan lain yang mengurusnya. " Seruku cepat-cepat. Rangkaian kelimat itu keluar begitu saja dari mulutku. Bahkan ku dengar Candra mendengus geli di sampingku.
"Tapi beneran kamu tak ada kendala dan halangan?" Tanya direktur lagi.
"Iya pak. Saya bisa kok" kataku mantap.
"Syukurlah kalau begitu. Baiklah, saya akan meminta sekretaris mengurus keberangkatan kalian. Besok kalian bisa berangkat. Karena lebih cepat lebih baik" seru direktur terlihat sangat lega.
"Iya pak" sahut ku dengan Candra hampir berbarengan.
"Baiklah. Kalian bisa kembali ke ruangan kalian" pinta Direktur.
Aku dan Candra pun berdiri. Kami pun meninggalkan ruangan Direktur. Aku sengaja memelankan langkahku agar Candra bisa berjalan duluan. Akhirnya dia berjalan didepan ku dan aku mengikutinya dari belakang. Dan menatap punggung tegapnya berjalan. Rasanya aku ingin memeluknya sepuas hatiku. Tapi, aku tak bisa. Tak bisa.
Aku mengatupkan bibirku rapat-rapat. Menghalau rasa nyeri di dadaku yang tiba-tiba menyerang. Mataku memanas. Aku mengeleng-geleng dengan kuat. Aku tak boleh menangis. Aku harus kuat. Dan selalu tegar.
Tiba-tiba, langkah Candra terhenti. Aku pun ikut berhenti di belakangnya. Dia pun berbalik dan berjalan mendekatiku. Kini kami berhadapan. Wajahku hanya sampai dada Candra. Karena kini aku memakai sepatu rata tanpa heels. Karena kata dokter, wanita hamil tidak boleh pakai highheels. Aku menunduk tak mau melihat wajahnya. Pertahanan ku bisa goyah. Airmataku bisa meluncur keluar.
"Kenapa kamu tadi menolak untuk pergi dan berpura-pura mencari alasan klise seperti tadi? Kamu tak ingin bersamaku?" Tembak Candra dengan suara dalamnya yang dingin.
"Aku tak alasan, itulah kenyataan halanganku." Jawabku dengan intonasi biasa padahal aku begitu gugup. Entahlah. Mungkin karena sudah lama kita tak berhubungan.
"Lalu kenapa tiba-tiba setuju lagi? Kamu tak mau aku pergi dengan Terry karena cemburu kan?" Tembak Candra lagi dengan nada arogannya.
"Aku tak ingin dia menggodamu saja." Kataku jujur.
"Kalau boleh jujur, lebih baik aku pergi dengan Terry daripada denganmu. Tapi karena aku menghargai Direktur. Terpaksa. " Serunya dengan tajam kemudian berbalik meninggalkanku yang berdiri terpaku.
Pertahananku hancur, air mataku jatuh dengan deras. Air mata yang ku tahan selama sebulan lebih ini jatuh berderai bersama hatiku yang begitu perih. Dia benar-benar membenciku. Dia benar-benar tak menginginkanku lagi.
Aku bersandar di dinding dan mencoba menarik nafas dalam. Aku menghapus airmataku. Aku tak boleh menangis. Aku harus kuat. Aku harus yakin bisa membuat Candra sadar akan perasaannya padaku. Aku percaya ikatan. Ada darah dagingnya di perutku. Dia pasti makin tak bisa pisah denganku. Tinggal tunggu waktu saja akhirnya dia akan sadar.
Aku akan selalu menanti dan bertahan, Candra. Aku tau kamu menginginkanku. Menginginkan kami. Aku dan calon bayiku ini. Kamu yang akan datang untuk kami. Aku akan menunggu.
***
Yeayy.. Pasangan Candra-April hadir lagi~
Seperti yang aku katakan, kalau beberapa part kedepan cerita mereka pisah-pisah dulu. Karena masing-masing sedang menata hati. Hehehe. Nanti mereka akan saling berhubungan lagi.
Oke, jangan lupa vote dan komentnya.
See u next part~