Tampan Berdasi (MxM)

By DaddyRayyan

258K 18.8K 6.3K

Orang yang paling kamu hindari sejak zaman sekolah adalah bosmu di kantor. Orang yang kamu benci semasa sekol... More

Pendahuluan + audio suara karakter
P r o l o g
Dasi 1
Dasi 2
Dasi 3
Dasi 4
Dasi 5
Dasi 6
Dasi 7
Dasi 8
Dasi 9
Dasi 10
Dasi 11
Dasi 12
Dasi 13
Dasi 14
Dasi 15
Dasi 16
Dasi 17
Dasi 18
Dasi 19
Dasi 20
Dasi 21
Dasi 22
Dasi 23
Dasi 24
Dasi 25
Dasi 26
Dasi 27
Dasi 28
Dasi 29
Dasi 30
Dasi 31
Dasi 32
Dasi 33
Dasi 34
Dasi 35
Dasi 36
Dasi 37
Dasi 38
Dasi 39
Dasi 40
Dasi 41
Dasi 43
Dasi 44
Dasi 45

Dasi 42

3.1K 237 86
By DaddyRayyan

Apa kabar semuanya? Semoga masih terhibur bersamaku, ya.

Izinkan aku kembali melanjutkan cerita ini lagi setelah sudah berbulan-bulan.

Sebagai permintaan maaf, aku ada banyak gambar TAMPAN BERDASI untuk memanjakan mata kalian.

Bagi yang belum mengikuti Instagram Rashoura, follow ya supaya kamu bisa ngikuti update-an cerita dan dapet banyak asupan gambar-gambar seperti ini. IG: @ ra_shou (DM dulu/komen ya kalau mau follow karena IG-nya private)

Boleh follow juga aku di Twitter: @ Rayyannareswara

Mohon maaf lahir dan batin. Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. PERINGATAN! Disarankan untuk membaca part ini setelah berbuka, ya.

-Ra



Rayyan Nareswara senang bisa merentangkan lengannya selebar mungkin.

Di atas sofa bed, ia bisa rebah dengan kedua tangan terbuka, otot biseps ke atas.

Lalu, Pak Wis tiba-tiba datang, naik ke alas tidur yang sama, pria itu membuat Rayyan mengatupkan satu lengannya, membiarkan hanya satu lengan yang terbuka ke samping. Pak Wis tersenyum kecil, meletakkan kepalanya pada lengan kukuh Rayyan. Hanya sebuah senyum kecil sudah membuat Rayyan berdebar. Bukan hanya tersenyum, Pak Wis mengendus leher Rayyan pula.

Kak Rayyan wangi. Selalu wangi.

Untung Rayyan baru saja mandi. "Padahal saya belum pakai parfum atau apa malam ini."

"Enggak perlu. Kak Rayyan punya wangi sendiri. Feromon natural."

Rayyan mendengus. "Kamu bisa nyium? Wangi saya kayak gimana?"

Suara itu terdengar seperti bisikan. "Hm ... kayak buah. Buah yang manis. Kiwi, markisa, ditambahi madu." Hidung Pak Wis menyusuri lekuk lembut di leher Rayyan saat ini, bibirnya menggesek pelan. "Dan kalau dihirup lebih lama, bisa kecium wangi pekat kayak teh hitam juga."

Shouki Wisanggeni barangkali bercanda, tetapi apa pun itu, berhasil membuat otot-otot Rayyan kaku. Wajahnya panas.

Entah sudah berapa malam mereka tidur bersama dengan posisi rebah di sofa bed, saling menempelkan tubuh seperti ini.

Hanya berpeluk saja, tidak lebih jauh dari itu.

Malam ini Pak Wis lebih manja dari yang biasa. Rayyan jadi ikut terbawa. Rayyan memeluk pinggang Pak Wis dan menempelkan bibirnya ke leher pria itu.

Rayyan menyeringai. "Saya juga bisa nyium wangi feromon Pak Wis."

"Oh? Kaya gimana, coba?"

"Hm. Balik badan dulu."

Pak Wis sedikit menahan erangan saat bibir Rayyan menyusuri kulit tipis di bawah telinganya. Rayyan membubuhkan kecupan pelan sepanjang leher ke pundak, sampai akhirnya ciuman itu berhenti di tengkuk Pak Wis, area undercut yang Rayyan suka cakari dengan jari. Dia menyesap wangi di sana. Pak Wis juga baru saja mandi dan ada aroma sabun seperti vanila dan mint di sini. Rayyan membenamkan wajah sedikit lama di tengkuk itu.

" .... Jadi? Apa wangiku, Kak?" Pak Wis menunggu.

"Um ... mawar?" Rayyan menyesap lagi. "Bukan mawar biasa. Mawar segar, basah, kayak baru dijatuhi embun pagi ... terus .... " Rayyan menggigit pelan kulit di sana dan merasakan tubuh Pak Wis dalam pelukannya menegang.

"Terus ...?"

"Mawar ... vanila ...? Kamu tau sirop mawar?" Rayyan terkekeh, napas berembus panas di leher Pak Wis. "Ya, kamu manis dan sewangi itu."

Tawa Pak Wis membuat Rayyan ingin mendekapnya lebih erat. Hangat. Jarinya turun membelai lekuk otot perut Pak Wis di luar kaus tidurnya, menghitung satu demi satu lekuknya.

Terus.

Terus turun makin ke bawah.

"Kak—"

"Hm?"

"Geli."

Tangan Rayyan sudah tiba di paha Pak Wis. Oh. Tak peduli seberapa dalam Rayyan mengubur kenangan masa lalu, tak mungkin ia lupa soal Shouki Wisanggeni yang sensitif di bagian paha. Ditekan ujung jari sedikit saja, Pak Wis sudah kelojotan.

"Kak!"

Rayyan terkekeh, satu tangannya merangkul pinggang Pak Wis, tangan lainnya meremas-remas paha pria itu. Pak Wis menggeliat kegelian cukup keras dan derai tawanya menghantam telinga Rayyan. Pergelangan tangan Rayyan dipegangi.

Bukannya berhenti, jemari Rayyan makin seru menguleni paha dalam pria itu. Tawa Pak Wis perlahan berubah menjadi erangan tercekat sekarang. Dadanya bergerak naik turun. Mendadak Rayyan ingin membenam wajah ke dada itu.

"Kak—Stop. Stop ...!"

"Lho, bukannya kamu suka—khh!" Rayyan terpaksa melepaskan paha Pak Wis sejenak. Punggungnya sudah rebah ke alas sofa bed. Pak Wis menindih di atasnya dengan jari-jari tangannya sedang menggelitik perut Rayyan.

"Aku balas!"

Terkekeh tanpa napas, Rayyan menggeliat lemah. "Ah, geli, ampun Shouki!"

Geliat lemah Rayyan cuma gimik. Selagi Pak Wis sibuk menggelitik rusuk dan perut, Rayyan mengarahkan lututnya untuk menekan paha Pak Wis dari bawah. Lagi. Pria itu nyaris jatuh pingsan di atasnya.

Begitulah. Kompetisi saling tekan paha, saling gesek, dan berebut menggelitik kulit satu sama lain ini berlangsung lebih dari lima menit.

Mereka berguling, saling tindih, saling mengisap napas satu sama lain. Tertawa. Terengah. Air mata kecil mengisi sudut mata Rayyan. Ia melengkungkan tubuh kegelian sambil merintih, "Ampun, Pak CEO, ampun," sebelum menyerang Pak Wis lagi.

Kekehan rendah dan tinggi mengisi ruangan itu.

Setidaknya Rayyan masih terkekeh senang saat ia menindih, membuka kedua kaki Pak Wis untuk menggelitik pahanya lebih leluasa.

Pak Wis sudah berhenti tertawa saat itu. Mata pria itu terbelalak.

"Kak—Mnh."

Rayyan sendiri mungkin sedang terlalu mabuk euforia. Sambil menggelitik paha, tangan lainnya sibuk menyentuh Pak Wis di tempat lain.

Pada perutnya, pada dadanya.

Pada biseps, triseps, bahkan ketiaknya.

Tangan itu gemas ingin menyentuh Pak Wis di segala penjuru. Ingin menyentil lebih banyak lagi saraf-saraf. Dan karena dua tangannya sudah sibuk, Rayyan menyerang leher Pak Wis dengan kuluman bibirnya saat ini.

Pak Wis bukan tipe pria yang banyak mengeluarkan suara (begitu pun Rayyan). Jadi, saat bisa mendengar pria di bawahnya menggeram nikmat, Rayyan menyadari celananya menyempit dengan cepat.

Panas, Rayyan sudah membebaskan dirinya dari pakaian. Kaus tidur melorot jatuh ke luar sofa bed. Semenit kemudian Pak Wis telah rebah di bawahnya bertelanjang dada. Kulit cokelat hangat. Otot perutnya menekuk. Rayyan tiba-tiba ingin melihat otot-otot di bawahnya berkilat basah. Jadi, Rayyan membungkuk untuk menjilatinya.

"Kak—" Suara Pak Wis tanpa napas.

Jemari Rayyan bergerak di sepanjang tulang rusuk, mengukir pola tak kasat di atas kulit sawo matang. Ketika bibirnya tiba di bagian perut, tubuh itu menegang sejenak sebelum relaksasi datang dengan tarikan napas panjang.

Rayyan mengecup, terus mengecup hingga ia mencapai karet celana dalam di tepian celana sang CEO. Rayyan menggigit tepian celana itu dan menurunkannya.

Rayyan tak tahu apakah Pak Wis sudah mengeras sepertinya. Yang pasti, ukuran Pak Wis di balik celana ini besar—

"Kak—"

Suara Pak Wis makin terdengar tanpa napas.

Sudah berapa tahun ia tidak melakukan ini? Rayyan merasa demam di wajah dan hampir seluruh tubuh. Ia turunkan celana Pak Wis agak tergesa. Kepalanya kembali turun. Bibirnya menelusuri tiap senti kulit Pak Wis yang terlihat. Ada getar halus dari otot-otot paha yang merespons sentuhan lembap dari bibirnya.

Tangan Pak Wis mencengkeram bahu Rayyan, antara ingin menarik atau menahannya.

Namun, begitu sentuhan Rayyan mulai merambat ke bagian lebih intim, Pak Wis langsung menegang. Cakarnya menggali menyakitkan ke dalam pundak Rayyan.

Rayyan diam.

Dada Pak Wis naik turun dengan cara yang aneh. Itu bukan karena nikmat. Napasnya berat, tersendat, seperti sedang tercekik. Otot-ototnya mengeras bukan karena gairah, tetapi karena panik.

Wajah Shouki Wisanggeni pucat.

Sangat pucat sampai Rayyan seketika sadar ada yang tidak beres.

Panas di tubuhnya berganti dingin.

Rayyan buru-buru bangkit menarik pria itu, telapak tangan di pipi Pak Wis. "Shouki, kenapa?! Asmamu kumat—"

Serangan panik. Pak Wis tak menjawab. Bibirnya sedikit terbuka untuk menghirup udara lebih banyak. Tremor hebat. Kedua tangan Pak Wis sedang mencengkeram lehernya sendiri, seolah ada tali tak terlihat menjeratnya di sana.

Rayyan mengangkat tangannya ragu. Ingin menyentuh, ingin menarik Pak Wis keluar dari sesuatu yang menyiksanya. Belum sempat ia menyentuh, Pak Wis sudah lebih dulu menjauh.

Hanya sedikit.

Cukup untuk membuat Rayyan merasakan ada tembok tak terlihat berdiri di antara mereka.

Perut Rayyan seperti ditinju sesuatu.

Ada sesuatu pada mata Shouki Wisanggeni yang berkilat saat mereka bertatapan barusan.

Ketakutan.

Rayyan mengembuskan napas perlahan, menelan kekhawatirannya sendiri. "Shouki ...?"

"Aku—gapapa, Kak—"

Rayyan bergeleng. "Enggak, kita ke rumah sakit sekarang!"

Rayyan hendak menggendongnya, tetapi tangannya ditepis keras.

"Enggak—enggak usah!"

Pak Wis menggapai meja samping, susah payah menjangkau tasnya. Rayyan tanggap, mengambilkan turbuhaler dari dalam kantong tas.

"Mau saya ambilkan nebu aja?"

Pak Wis bergeleng, memutar alat dan menyedot serbuk dari dalam tabung obatnya. Rayyan duduk di sisinya, sedikit berjarak.

Rayyan ingin mengusap punggung pria itu berulang-ulang untuk menenangkan. Ia mau menggenggam tangan Pak Wis. Namun, sementara Rayyan harus menahan diri.

Untuk beberapa saat, napas Pak Wis masih sedikit terputus-putus. Matanya terpejam erat. Kepalanya rebah di bantal dengan sedikit terkulai.

Rayyan diam.

Tidak bersuara, tidak memaksakan tanya.

Pak Wis memperlihatkan lehernya, yang beberapa saat lalu ia pegangi.

Rayyan samar-samar melihat sepotong dasi di leher Pak Wis, yang mengekangnya seperti jerat. Mencekik napasnya—

Rayyan menarik napas tajam, menekan rasa mual yang tiba-tiba naik.

Tiba-tiba Rayyan tidak ingin melihat wajah Shouki Wisanggeni terlalu lama. Tidak ingin melihat bibir pria itu bergetar, tidak ingin melihat ekspresi sesak itu lagi ... itu terlalu mirip sesuatu.

Sesuatu yang jauh di masa lalu.

Rayyan tiba-tiba ingin pergi dari tempat itu.

"Shouki ... mau istirahat?" Suaranya terdengar ringan, nyaris normal. "Mau saya temani ... atau ...?"

Pak Wis masih tidak berkata apa-apa. Namun, jemari Pak Wis, yang sebelumnya menggenggam seprai sofa bed erat-erat, kini sedikit mengendur.

Hanya sedikit.

Tangan Pak Wis tiba-tiba menjangkau punggung tangan Rayyan.

"Jangan jauh-jauh, Kak ... sini."

Rayyan menelan ludah, refleks menggenggam balik tangan Pak Wis. "Maafin saya—Ini karena saya, kan?"

Pak Wis tersenyum tipis, "I'm okay. Bukan karena Kakak—"

Rayyan memotong, "Kalau iya, saya enggak akan nyentuh kamu lagi." Rayyan menunduk, melihat tangannya yang masih menggenggam Pak Wis. "Maksud saya sentuh yang ... bikin kamu enggak nyaman"

"Aku gapapa, Kak."

"Saya bikinin teh anget, ya?" Rayyan mencoba berdiri.

"Jangan pergi." Pak Wis menggenggam kuat pergelangan tangan Rayyan. "Di sini aja."

"Oke .... "

Rayyan beringsut mendekat, dengan gerakan sekecil mungkin, membiarkan tubuhnya tetap hangat di sisi pria itu tanpa menyentuhnya.

Pak Wis merebahkan kepalanya di bantal, sedang mengatur napasnya lebih tenang.

Rayyan meminta Pak Wis untuk mengangkat kepala sejenak, menambahkan satu buah bantal lagi. "Agak tinggian bantalnya. Biar lebih lega napasnya."

Pak Wis mengangguk singkat, mengangkat kepala sedikit. Wajahnya saat ini hampir terbenam di dada Rayyan—yang masih telanjang.

Rayyan menelan ludah, mengalihkan pandangannya. "Apa ... apa yang sebenarnya trigger panik attack kamu?"

Pak Wis diam. Bola matanya mengerling ke samping.

"Tadi saya liat kamu kayak megang leher," ucap Rayyan "Kamu sesak? Ngerasa lehermu kayak tercekik apa gimana?"

Diam, Pak Wis masih tidak mau menatap Rayyan.

"Apa ... apa karena tadi saya cium leher kamu? Saya enggak akan lakuin itu lagi."

"Aku gapapa. Kakak boleh, kok, ... lakuin itu."

"Enggak. Saya enggak mau kamu kenapa-napa lagi."

Mendengar jawaban Rayyan, wajah Pak Wis berkerut sedih.

Rayyan tak paham kenapa.

"Besok saya tanya Pak Arian, kamu sebenarnya kenapa sering panic attack gitu."

"JANGAN—" Pak Wis terduduk, menarik bahu Rayyan. "Udah, Kak, aku gapapa. Enggak usah dibesar-besarin. Arian bawel nanti."

Rayyan mendorong dengan lembut, merebahkannya lagi. "Ssh. Oke. Oke. Kamu udah coba ke psikolog, psikiater?"

Ini bukan kali pertama tubuh Pak Wis tremor dalam dekapannya.

Pak Wis panic attack saat Rayyan hampir mengalungkan dasi ke lehernya.

Dan bukan cuma soal dasi. Tubuh Pak Wis pernah tremor juga saat malam mereka hampir tidur bersama di kamar Rayyan. Malam Rayyan baru saja membeli kondom ekstrabesar itu.

"Ini enggak wajar, kan? Panic attack-mu itu ... dan traumamu sama das—"

Pak Wis memotong sebelum Rayyan menyelesaikan kalimat. "Aku sakit asma, Kak."

"Saya dulu waktu kecil juga sakit asma, tapi enggak pernah kayak gitu."

"Gapapa. Beneran aku gapapa, Kak." Suaranya melirih.

"Ayo, saya mau nemenin kamu ke psikolog atau psikiater, kalau kamu malu."

"Enggak, Kak. Enggak usah."

Pak Wis menggenggam tangan Rayyan. Erat. Tangannya tremor lagi.

Mengernyit, Rayyan mengangkat tangan itu, mencium lembut punggung tangannya.

Tremornya menghilang setelah Rayyan membubuhkan kecup. Pak Wis masih menggenggam tangan Rayyan, tidak mengizinkannya pergi. Dada naik turun perlahan.

Tiba-tiba Rayyan mendekatkan wajahnya.

Pak Wis menahan napas, melihat wajah Rayyan sangat dekat dengannya saat ini. Bibir hanya berjarak sesenti. Napas hangat saling menampar satu sama lain.

Ruangan terasa sunyi. Hanya suara napas terdengar, berat dan tertahan. Rayyan menatap Shouki Wisanggeni lekat. Mata mereka bertemu dalam diam yang mengimpit.

Rayyan mengamati setiap detail wajah Shouki Wisanggeni—garis rahang yang tegas, mata yang agak berkaca, bibir yang terkatup rapat menahan rahasia.

"Kak Rayyan...?" Suara Pak Wis pecah, pelan, nyaris berbisik.

Rayyan menunduk makin dekat—lalu berhenti. Tidak bergerak. Tidak berniat menyentuh, hanya menatap dalam, seakan ingin menembus segala lapisan yang Pak Wis coba sembunyikan.

Rayyan nyaris menunggu Pak Wis kembali tremor, mendorongnya menjauh.

Jika benar Rayyan yang menjadi penyebab panic attack-nya—

Tetapi tidak. Pak Wis malah memeluk leher Rayyan, merapatkan kedua bibir mereka.

Kedua bibir bertemu dengan lembut. Rasanya hangat, padat, bukan sekadar uji coba. Rayyan bisa merasakan gemetar halus di tubuh pria itu. Ia bisa merasakan ketegangan di antara napas mereka yang beradu, seakan Shouki Wisanggeni sendiri sedang berjuang melawan sesuatu dalam dirinya.

Rayyan membalas ciuman itu dengan sangat berhati-hati. Tangannya melingkar di pinggang Pak Wis, menariknya lebih dekat. Bibirnya bergerak dalam ritme yang lambat, mencari sesuatu yang tidak terungkap.

Lalu, di tengah ciuman yang makin dalam, Pak Wis tiba-tiba menggigit bibir bawah Rayyan—ringan, seperti hukuman.

Rayyan mengerjap. Mata mereka bertemu lagi.

Matanya masih agak berkaca, tetapi kini ada sesuatu yang berbeda di dalamnya.

"Aku gapapa, kan?" ujar Pak Wis dengan suara serak.

"Oke ... maaf. Mau bobo sekarang?"

Pak Wis mengangguk, menarik Rayyan untuk rebah bersamanya, di sampingnya.

"Pakai bajumu dulu, nanti masuk angin."

"Kak Rayyan juga."

"Oh? Saya pikir kamu seneng liat saya telanjang kayak gini?" Rayyan mencoba menggoda.

Pak Wis hanya tersenyum, kembali merebahkan kepala di lengan Rayyan.

Mereka tidak langsung terlelap malam itu. Rayyan mengisi kekosongan dengan bercerita. Soal kerjaan endorsement yang makin ramai. Soal tawaran pekerjaan main film dan jadi model. Apa pun yang terlintas di kepalanya, yang bisa mengalihkan gairah dan trauma.

Pak Wis mendengarkan semua itu hingga derai napasnya kembali tenang. Hingga ia jatuh tertidur.

Dan sepanjang malam Pak Wis terus berpegangan padanya.

*

*

*

*

Pak Wis menatap pintu ruang kantornya dalam diam.

Biasanya ada ketukan lembut dan suara berat Rayyan Nareswara, datang membawa baki dan teh pagi.

Pukul delapan tepat, ketukan itu akhirnya muncul. Pak Wis mulanya ingin memanggil "Kak Rayyan", tetapi suaranya tertahan di tenggorokan saat ia melihat pemuda berseragam OB baru memasuki ruangan.

"Pagi, Pak. Permisi saya mau antar teh."

Bukan Rayyan.

Ini OB baru yang Arian ceritakan beberapa waktu lalu.

Pak Wis menatap pria muda di hadapannya. Seragam biru keabuan dengan garis di pundak, rambut cepak, tubuhnya lebih kurus dibandingkan Rayyan. Tangannya cekatan saat meletakkan cangkir teh di meja, tetapi gerakannya kaku, terlalu berhati-hati.

Bukan Rayyan.

"Silakan, Pak."

Pak Wis mengangguk, tak segera meraih cangkirnya. Matanya terpaku pada sosok karyawan baru di kantornya itu seakan otaknya memproses terlalu lambat. Biasanya teh pagi datang bersama suara berat Rayyan, dengan senyum tampan di wajahnya. Biasanya Rayyan akan mencondongkan tubuh sedikit di atas meja kerjanya, melontarkan sedikit godaan yang membuat Pak Wis ingin menyeringai sebelum kembali ke pekerjaannya.

Sekarang ruangan ini terasa lebih senyap dari biasanya.

OB baru itu tampak sedikit gelisah, menunggu Pak Wis menyentuh tehnya atau menyuruhnya pergi. "Kalau ada yang Bapak butuhkan, saya di pantry," katanya sebelum buru-buru keluar.

Pintu tertutup lirih.

Napas Pak Wis berembus lemah. Tangannya terulur ke cangkir teh, tetapi kehangatannya terasa salah. Ini cangkir tamu, bukan cangkir kucing milik Pak Wis yang biasa. Tehnya masih merek favoritnya, Gunung Satria, tetapi rasanya tak seperti biasa. Kurang satu setengah sendok gula pasir lagi. Kurang dicelup semenit lebih lama supaya air tehnya lebih pekat. Tak ada bekas jari Rayyan di pegangan cangkir. Tak ada sedikit tumpahan di tatakan yang biasanya ada (terkadang Rayyan menuang dengan ceroboh).

Pak Wis menyandarkan punggung ke kursi, menatap layar laptop yang seharusnya sudah ia buka sejak tadi. Pikirannya tidak di sini. Tidak di tumpukan laporan. Tidak di strategi bisnis yang perlu ia rumuskan.

Wajah Rayyan berkelebat di benaknya—cara pria itu mengulum senyum saat mereka diam-diam berduaan, suara rendah diselingi tawa, mata tajam yang menatap seperti ia satu-satunya pusat dunia. Rayyan menjadi gravitasi yang diam-diam mengakar. Sekarang, ketika gravitasi itu menghilang, ruangan ini terasa kosong.

Sudah lebih dari seminggu.

Seminggu tanpa ketukan pintu yang ia tunggu-tunggu. Seminggu tanpa suara berat yang biasanya memenuhi paginya. Seminggu tanpa Rayyan Nareswara.

Mestinya cuma sementara. Minggu lalu Rayyan pamit minta izin cuti untuk memenuhi ajakan kerja bersama Pak Yudha dan Kanaka. Dia diminta menjadi model koleksi terbaru busana pria Kanaka, lalu kabarnya jadi pemain figuran seri film pendek yang disiarkan aplikasi streaming lokal, belum lagi ia harus membuat banyak video TikTok endorsement bersama OG yang dijodohkan netizen.

Pak Wis teringat sesuatu yang membuat perutnya mengeras—ucapan Arian beberapa hari lalu.

"Kayaknya Mas Rayyan bakal resign bentar lagi. Gue udah nyiapin pengganti, Bang, kemungkinan bakal langsung dikontrak setahun. Kanaka juga udah nyiapin beberapa kandidat, pasti enggak enak juga dia sering nyulik Rayyan dari kita, tapi aman terkendalilah. Besok mau gue interview."

Jari-jarinya menegang di atas meja.

"Dia enggak pernah bilang mau resign," ujar Pak Wis. "Cuma izin cuti seminggu aja."

"Ya, tapi lo tau Mas Rayyan seviral apa, kan? Gue pikir juga cuma viral sebentar, tapi makin ke sini ... makin ke sana. Bukan yang terkenal banget apa gimana, tapi memang aneh kalau dia masih stuck kerja jadi OB di kita. Di luar sana dia dapet banyak tawaran puluhan kali lipat gaji UMR. Gue denger Mas Rayyan bakal diundang ke acara Pagi-pagi Pasti Girang." Arian menatap sahabatnya dengan satu alis yang terangkat naik, lalu duduk di hadapannya. "Emang minggu lalu Mas Rayyan enggak cerita?"

Pak Wis mengenang malam minggu lalu. Ia dan Rayyan berjalan ke restoran padang, di bawah payung berdua. Malam itu Pak Wis mengalami panic attack, dan Rayyan menenangkannya.

Itu malam terakhir mereka tidur seruangan.

Malam itu Pak Wis biarkan kepalanya bersandar pada lengan Rayyan. Mereka ngobrol seadanya sampai ketiduran. Rayyan sempat cerita soal Pak Yudha yang memintanya main film mini series. Padahal, Rayyan sudah bilang tidak bisa akting. Kata Pak Yudha, Rayyan cukup jadi pemeran figuran ganteng saja, satu atau dua dialog, jadi OB mondar-mandir bawa galon. Itu cukup bikin penonton terpesona melihat biseps kencangnya.

"Hubungan kalian baik-baik aja, kan?" tanya Arian.

"Baik-baik aja, kok."

"Kalo baik-baik aja muka lu enggak bakal ketekuk gitu kali, Bang."

....

Pak Wis menggenggam cangkir teh di tangannya, tetapi tak kunjung meminumnya. Suara Arian masih terngiang, menyusup seperti duri halus tak kasat.

"Makin ke sini ... makin ke sana."

Ia menatap teh bergoyang pelan di dalam cangkir.

Kalau benar Rayyan berencana pergi—resign tanpa memberitahunya lebih dulu—

Pak Wis mengembuskan napas pelan, lalu menyandarkan kepala ke kursi. Pagi menuju tengah hari. Teh mendingin separuh habis. Harinya masih sunyi. Terlalu sunyi. Biasanya pada jam-jam seperti ini, Rayyan akan masuk lagi membawa setumpuk dokumen atau sekadar berdiri di ambang pintu itu, menyandarkan bahu ke kosen dengan tangan terselip di saku celana OB. Ada tatapan iseng pada matanya, sedikit kemiringan di sudut bibirnya.

"Pak Wis mau makan siang apa?"

Sederhana. Sesederhana itu.

Sekarang tak ada yang bertanya apakah ia sudah makan. Tak ada ketukan iseng di meja yang biasanya Rayyan lakukan sambil menunggu Pak Wis selesai membaca laporan.

Seminggu.

Seharusnya cuma seminggu.

Jari-jari Pak Wis mengetuk perlahan permukaan meja, ritme pelan yang tak sadar meniru cara Rayyan mengusik perhatiannya dulu. Lalu, ia meraih ponsel, menimbang-nimbang sejenak sebelum akhirnya mengetik pesan WhatsApp.


Pak Wis: Assalamualaikum

Pak Wis: Lagi sibuk gak?

Pak Wis: Kak Rayyan lagi dmn?


Tiga titik animasi muncul sebentar di layar, lalu menghilang.

Pak Wis menunggu. Entah berapa detik berlalu sebelum akhirnya pesan balasan masuk.


Rayyan: Waalaikumsalm

Rayyan: Lg fitting bajy sm mas gintong


Pesan itu pasti diketik buru-buru karena banyak saltik. Pak Wis menatap layar. Satu jari bertumpu di keyboard virtual, tak ada kata-kata yang ia ketikkan. Pak Wis mau menyampaikan banyak hal. Bahwa kantor terasa sepi tanpa Rayyan. Bahwa teh pagi tidak dibuat dengan rasa yang lagi sama. Bahwa ia tak terlalu suka melihat OB baru di pantry tempat Rayyan biasa ada.

Akhirnya, hanya satu kalimat yang dikirimnya.


Pak Wis: Kapan kakak masuk kantor lagi?


Centang satu.

Sampai sore baru ada balasan.


Rayyan: 3 hari lg kayanya

Rayyan: maaf saya udah sampaikan ke pak arian

Rayyan: udah ada pengganti saya di kantor kan?


Bukan masalah pengganti.

Pak Wis menutup matanya sejenak, menghela napas, mengusir sesak yang tiba-tiba menekan jalur napasnya. Ia mengambil turbuhaler dari dalam kantong tas kerja dan mengisap kuat-kuat.

Jari-jarinya mengetuk meja dengan ritme gelisah. Ponselnya masih dalam genggaman, layarnya menyala, menampilkan notifikasi dari TikTok.

@rayyanareswara sedang LIVE bersama @ogarina.official

Jempolnya melayang di atas layar, ragu, sebelum akhirnya mengetuk notifikasi. Live itu langsung terbuka.

Rayyan, di tengah frame, mengenakan kemeja oversized berpotongan maskulin yang membentuk tubuhnya. Kancing teratas terbuka, menampakkan sedikit garis tulang selangka. Arina duduk di samping, lengan ramping terulur saat ia menggamit lengan Rayyan akrab.

"Mas Rayyan keren banget bajunya?" ucap Arina sambil tersenyum ke kamera. "Kalau kalian suka, langsung checkout aja, Guys! Biar bisa tampil seganteng Mas Rayyan!"

Kolom komentar penuh dengan emoji api dan hati.


Cintalaurakool: Rayyan sm Arina cocok bgt astaga!!!

olshop_cimahi8899: Woi kapan kelen kawin??

gemingemooy: Mas Rayyy nyanyi dong buat Ka Arinaaaa!!

Anitamola2: Udalah Mas Rayyan udah gak cocok jadi OB, keluar aja dari kantor

terapoapo345: Bang Rayyy cobak tatap Ka Arina sambil nyanyiii

Botihotbelotot: jangan kegatelan deh tu betina :/

Anitamola2: diem lu boti!!!


Telapak tangan Pak Wis mendingin.

Pak Wis tahu—Rayyan dan Arina sedang bekerja secara profesional sebagai model koleksi bisa terbaru Kanaka.

Seprofesional itu sampai rasanya ada batu yang mengganjal di tenggorokan Pak Wis.

Tampak Arina tertawa sambil menoleh pada Rayyan. "Eh, katanya mereka pengin denger Mas Rayyan nyanyi! Dikit aja dong? Buat aku?"

Rayyan tersenyum. Pak Wis kenal senyum itu. Senyum yang suka muncul saat Rayyan ingin menghindar dari sesuatu, tetapi juga tak mau mengecewakan orang lain.

"Nyanyi apa?" Suara Rayyan terdengar lebih berat.

"Garam dan madu! Reff-nya aja! Tapi sambil liatin aku, dong!"

Pak Wis menggenggam ponselnya lebih erat.

Rayyan menatap Arina penuh fokus. Senyum tadi tetap di bibirnya, sebelum akhirnya suara berat itu mengalun.

"Sakit dadaku, kumulai merindu. Kubayangkan jika kamu tidur di sampingku. Di malam yang semu, pejamkan mataku."

Masih bernyanyi, Rayyan tiba-tiba menatap ke arah kamera. Pak Wis tiba-tiba merasa tatapan itu hanya lurus menghunjam padanya.

"Kubayangkan tubuhmu jika di pelukanku—"

Arina tersenyum, menatap Rayyan dengan cantiknya yang pasti disalahartikan netizen. Arina ikut bernyanyi mengambil bagian lirik yang perempuan. Kolom komentar meledak.


GUE MELELEH ASTAGA!!!

YA ALLAH NIH COWO!!

ARINA JADI CEWEK GUE AJA!

ARINA SUARANYA BAGUSSSS!!!

ARINA COCOK JD PENYANYI PLS KALIAN NYANYI BARENG LAGI!

PAKAI TATAPAN ITU BUAT AKU AJA, MAS RAY!!!

SUMPAH KELEN JADIAN AJA PLIS!!


Pak Wis tak sadar kapan ia menahan napas. Tangan tak terlihat sedang mencengkeram dadanya dari dalam.

Ini Kak Rayyan yang biasanya bernyanyi untuknya dengan gitar di pinggir lapangan basket. Kak Rayyan yang mencondongkan tubuh di atas meja kerjanya. Rayyan yang hanya melihat ke arahnya saat mereka rebah berdua di sofa bed—Sekarang Rayyan menatap orang lain dengan tatapan yang sama.

Wajah terbenam ke telapak tangan, Pak Wis meringkuk di meja dengan tangan meremas dada. Ia bahkan tak sadar ketika pintu ruangan terbuka.

"Bang? Bang!" Suara Pak Arian terdengar terlalu pelan saat ia masuk ruangan.

Pak Wis mendongak pelan. " ...Ya?"

Pak Arian mengernyit. "Kenapa pucet gitu mukanya? Asma kumat lagi?" Tanpa menunggu jawaban, Arian meletakkan map ke atas meja. "Kalau lagi enggak enak badan, pulang aja, Bang. Kerjaan lagi santai."

Pak Wis menerima map itu tanpa banyak bicara, hanya mengangguk kecil. "Oke, nanti gue ... izin pulang cepet."

Pak Arian duduk di hadapannya, meneliti ekspresi Pak Wis seperti menunggu sesuatu pecah. Matanya melirik sekilas ke layar ponsel yang masih terbuka di meja. Live yang masih terpampang jelas di layar.

"Bang."

Pak Wis tidak merespons.

Nada Pak Arian serius. "Langsung aja, Bang. Gue memang belum lama kenal Mas Rayyan, tapi gue tahu dia baik. Masalahnya ... kalau elo gini terus, gue bisa berubah pikiran. Mungkin Mas Rayyan kurang baik buat lo."

Pak Wis mendesah panjang. "Apa, sih? Gue gapapa, Arian. Kak Rayyan juga gapapa."

"Tapi elo termehek-mehek begini." Arian menunjuk tepat di depan hidung Pak Wis.

"Enggak, ya, Arian. Gue enggak termehek-mehek."

"Udah cukup gue lihat elo sakit pas kehilangan Kanaka. Jangan diulang lagi sama Mas Rayyan, apalagi udah lebih dari sekali sama dia."

Pak Wis menggigit bibir.

"Gue maunya elo bahagia, Bang," lanjut Pak Arian. "Ayo weekend ini kita clubbing, kita seneng-seneng. Banyak cewek buat lo."

Pak Wis mendengus pelan. "Dasar player lo. Ingat bini di rumah!"

Pak Arian menepuk meja. "Ya gapapa, toh gue tetap cinta sama bini gue lebih dari segalanya! Pulangnya juga gue ke pelukan bini."

Hening kembali.

Pak Arian mencondongkan tubuh ke depan.

"Bang," suaranya lebih lambat sekarang. "Udah saatnya lo jujur. Tolong cerita, sebenarnya gimana lo pisah sama Mas Rayyan dulu? Apa dia ninggalin elo?"

Pak Wis tidak menjawab.

"Serius, lo bikin gue khawatir, sejak Mas Rayyan cuti," lanjutnya. "Kayak lo enggak bisa function tanpa Mas Rayyan. Makin ke sini hubungan kalian toxic."

Pak Wis menarik napas dalam, lalu mengembuskannya pelan. "Sori bikin lo khawatir, tapi ... gue yang bermasalah di sini, Arian."

Pak Arian menatapnya tajam. "Lo punya trauma, Bang. Kanaka juga udah nyaranin lo ke terapi, tapi lo enggak mau."

Pak Wis menggeleng cepat. "Enggak bisa, Arian. Gue enggak mau masa lalu gue kebongkar. Cukup gue yang tau."

Pak Arian terdiam, menatap sahabatnya dengan sorot mata penuh selidik. Pak Wis menurunkan pandangannya ke cangkir teh yang mendingin di atas meja.

"Bang ... sebenarnya ada apa, sih? Pem-bully-an zaman SMA? Gue punya temen terapis yang bisa bantu, lo tau gue udah sering kirim kontaknya ke lo."

"Enggak." Suara Pak Wis nyaris seperti bisikan. "Enggak bisa .... "

Dan tiba-tiba, napasnya kembali tersengal. Dadanya naik-turun tak beraturan.

Pak Arian langsung panik. "Aduh—"

Si kepala HRD melompat dari kursi, buru-buru membuka lemari, mencari nebulizer yang selalu disimpan di rak terdepan. Dengan gerakan cekatan, ia meletakkan alat itu ke meja Pak Wis dan membantu memasang perangkatnya.

Hening.

Hanya suara alat itu yang mengisi ruangan kini.

Beberapa menit berlalu, Pak Wis mulai tenang. Napasnya lebih stabil, dadanya tidak lagi terasa seperti diremas oleh tangan tak kasat.

"I'm okay," gumamnya.

Pak Arian menghela napas panjang.

"Yaudah, lo udah gede juga, Bang. Gue enggak bisa ikut campur urusan lo." Ia menepuk bahu Pak Wis. "Kalau lo butuh apa-apa, panggil gue."

Pak Wis mengangguk, tapi tidak menatapnya langsung.

Sebelum pergi, Pak Arian meraih ponsel Pak Wis, menutup laman Instagram. "Udah, jangan diliatin terus IG Mas Rayyan-nya. Matiin."

Ia keluar ruangan.

Pak Wis duduk diam. Jari-jari mencengkeram erat ponselnya yang kini gelap.


BERSAMBUNG

Continue Reading

You'll Also Like

1.6M 89.9K 41
#M-preg Tian, seorang Omega yang sejak lahir ditolak oleh orang tuanya, dipaksa menyamar sebagai Alpha demi menjaga martabat keluarga. Lanjut aja ...
981 38 14
🎭 Baekho x Minhyun🎭 BxB, Sekolah, CEO, Slice Of Life Deskripsi Cerita: Pertemuan mereka dimulai dengan insiden yang tak disengaja. Hwang Minhyun, s...
Wattpad App - Unlock exclusive features