.
.
.
.
Ngga abang ngga adik sama aja.
Gantengnya kebangetan 😭😭
..
.
.
.
.
Happy reading
📖📖📖
.
.
.
____________________________________________
"Van, kenapa bumi itu bulat?"
"Ngga tahu"
"Kenapa kepalanya pak Rudi botak?"
"Engga tahu"
"Apa dia ngga punya rambut ?"
"Ngga tahu"
"Apa rambutnya keriting makanya milih botak?"
"Ngga tahu."
"Kenapa botaknya bisa silau banget kaya lampu? dia pake apa ya Van?"
"Ngga tahu"
"Apa pake minyak?"
"Ngga tahu"
"Tapi kan dia ngga punya rambut. Kalo pake minyak bukannya jadi lengket ya Van?"
"Ngga tahu"
"Oh iya, kenapa besi itu kuat?"
"Engga tahu"
"Kenapa es itu dingin?"
"Ngga tahu"
"Kenapa 1+1 itu dua?"
"Engga tahu"
"Kenapa aku bisa cinta sama kamu?"
"Karena aku ganteng"
"Pede banget"
"Emang iya"
"Kenapa kamu ngga cinta sama aku?"
"Bodoh"
"Maksudnya?"
"Ya karna kamu bodoh"
"Iihhh... Masa pacar plus isterinya yang cantik jelita ini dibilang bodoh. Tega banget"
"Percuma cantik kalo otaknya ngga ada"
"NOVAN!!"
"Ngga usah teriak"
"Kamu nyebelin. Masa aku di bilang bodoh, ngga ada otak. Mulut nya pedes banget sih"
"Kalo kamu pinter, pertanyaan konyol kaya tadi ngga bakal kamu tanyain"
"Ya berarti kamu juga bodoh. Ngapain masih di ladenin"
"Aku ngga ngeladenin. Aku jawab karna emang aku ngga tahu"
"Halah.. Katanya pinter, otaknya cerdas. Masa gitu doang ngga tahu. Pinter dari mana?"
"Pertanyaannya yang ngga masuk akal"
"Masuk kok. Kamu masuk-masukin aja. Pasti kamu juga bakal ngerti dan pasti bakal masuk di akal kamu"
"Ngga"
"Kamu ngga asik ih. Aku ngga mau meluk kamu lagi kalo gitu"
"Bukan aku yang rugi"
"NOVAN IIIHHH"
"Apa?"
"Jangan gitu. Aku kan niatnya mau ngambek. Rayu kek biar ngga ngambek"
"Males"
"Iihhh dasar cowo kaku. Kanebo kering. Jelmaan beruang kutub. Kulkas dua pintu."
"Udah ngatainnya?"
"Udah"
"Puas?"
"Engga"
Jenovan kemudian menutup buku yang tengah dibacanya. Ia menoleh ke samping melihat Aletha yang tengah manyun dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada.
"Masih mau ngambek?"
"Iya"
"Yakin?"
"Iya"
"Masih ngga mau peluk?"
Aletha menoleh. Ia sebenarnya sangat kesal. Tapi kalo untuk tidak memeluk Jenovan sepertinya ia tidak sanggup. Tubuh dan wangi cowo itu sudah sangat candu untuknya. Dan ia tidak akan sanggup untuk tidak merasakan pelukannya barang sehari saja.
"Kamu nyebelin" ucapnya kesal. Tapi ia tetap bergerak untuk mendekat dan memeluk erat tubuh suaminya.
Jenovan membalas pelukan itu erat. Setelah cukup lama mereka saling melepas pelukan.
"Udah jam 6. Kamu mandi gih, Van, aku siapin baju kamu"
"Kenapa harus aku duluan?"
"Ya kan kamu suami. Aku tetep harus utamain kamu. Kan aku juga harus siapin semua keperluan kamu dulu"
"Ngga perlu. Aku bisa siapin sendiri."
"Engga, itu udah tugas aku. Udah kamu sana mandi, aku siapin dulu seragamnya. Aku juga belum siapin buku aku"
Jenovan pun menurut. Ia menyibak selimut tebalnya dan turun dari atas ranjang. Ia menatap pada Aletha yang masih berbaring di sana.
"Ngga mau mandi bareng?" godanya. Bahkan ia tersenyum jail pada Aletha. Ia harus membalas perlakuan cewe itu tadi yang terus saja mengganggunya dengan pertanyaan bodoh dan tidak penting itu.
"NOVAAAANNN IIHH" teriak Aletha. Cewe itu langsung menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya. "Kamu mesum" keluhnya dari balik selimut. Wajahnya sudah merah padam.
Mendengarnya Jenovan hanya terkekeh pelan. "Mesum sama isteri sendiri ngga salah lagi"
"Tau ahh. Udah sana mandi!"
"Yakin ngga mau bareng?"
"NOVAAAANNNNN!"
"Iya-iya. Udah buka aja selimutnya. Ditutupin gitu tar malah tambah sesek nafas kamu" setelah itu Jenovan melangkah menuju kamar mandi dengan senyuman yang mengembang di wajah tampannya. Menggoda Aletha sepertinya akan masuk ke dalam list hobinya mulai saat ini. Isterinya itu bawel-bawel tapi gemesin. Benar kan?
.
.
.
.
Turun dari atas motor, Aletha langsung melepas helm dan memberikannya pada Jenovan. Tak lupa ia juga melepas jaket yang sejak tadi di pakainya. Dari atas motornya, Jenovan pun melakukan hal yang sama.
"Hari ini ngga ada PR kan ya Van. Aku ngga sempet buka buku semalem"
"Engga ada."
"Syukur deh. Aku ngga belajar soalnya"
"Pantesan"
"Kenapa?" tanya Aletha bingung.
"Bodohnya nambah"
Plakkk
Aletha memukul punggung Jenovan keras. Tapi bukannya Jenovan yang merasa sakit, tapi malah justru tangannya yang terasa sakit. Badan suaminya itu keras bak besi.
"Awwwhhh... Sakit.." keluhnya sambil meniup telapak tangannya yang memerah dan terasa panas.
Melihat itu Jenovan langsung turun dan meraih tangan isterinya itu. Mengusapnya lembut sambil sesekali ditiup pelan.
Aletha yang mendapat perlakuan seperti itu sontak terdiam. Ia merasa senang jika Jenovan perhatian seperti itu kepadanya. Rasanya hatinya langsung menghangat. Jenovan terlihat sangat menyayanginya jika seperti ini. Membuatnya merasa jika ia sudah mendapatkan hati cowo itu sepenuhnya.
Jenovan mendongak, melihat Aletha yang tengah diam memperhatikannya.
Ditengah usapannya di tangan cewe itu, Jenovan dengan cukup keras menepuknya sampai Aletha kembali mengaduh sakit. Rasa senang di hati Aletha langsung berubah menjadi kekesalan lagi.
"Makanya, jangan durhaka sama suami. Sakit kan?"
"Kamu iiiihhh"
Jenovan segera menghindar saat Aletha hendak memukulnya lagi. "Masih ngga kapok?"
Aletha menggantung tangannya di udara. Wajahnya kini merengut kesal dan ingin sekali mencakar wajah tampan suaminya itu. Tapi ia masih punya akal sehat. Wajah tampan itu tidak boleh terluka sedikitpun. Atau ia akan nangis sendiri nanti.
"Aukk ah. Aku ngambek"
Dengan menghentakkan kakinya kesal, Aletha berjalan lebih dulu meninggalkan Jenovan. Ia sesekali harus bisa marah pada cowo itu. Berulang kali ia berusaha marah tapi selalu gagal karna lagi-lagi jiwanya lemah setiap melihat senyuman Jenovan yang terlampau manis. Belum lagi matanya sipitnya yang ikut tersenyum itu. Aletha tak mampu untuk tidak ikut tersenyum saat melihatnya. Jenovan terlalu banyak menyimpan pesona yang membuatnya bisa langsung luluh saat itu juga. Jenovan diam dengan wajah datarnya saja sudah membuat jantungnya lemah. Ia sepertinya harus berusaha ekstra keras untuk tidak luluh lagi dengan cowo itu hari ini. Acara ngambeknya harus berhasil kali ini.
"Awas"
Pranggg
Tiba-tiba tangan Aletha ditarik oleh Jenovan, sampai tubuhnya terhuyung ke belakang dan membentur dada bidang Jenovan yang berada tepat di belakangnya.
"Astaga," ucapnya terkejut. Lebih terkejut lagi saat Aletha melihat botol kaca yang sudah pecah berserakan di lantai.
Semua yang ada di sekitar mereka sampai menoleh ke arah mereka. Ikut terkejut dengan bunyi pecahan botol itu yang cukup keras karna berbenturan langsung dengan lantai.
Aletha kemudian menoleh ke belakang dan melihat wajah Jenovan yang kini terlihat sangat datar dan dingin. Rahangnya juga mengeras menandakan kalau ia sedang marah saat ini.
Cowo itu melepaskan genggaman tangannya pada Aletha dan bergerak mendekati pecahan botol itu, mengambil kertas yang tadinya ada di dalam botol itu dan kemudian membacanya.
Lapangan Jayasakti.
Jam 7.
Jenovan langsung merobek-robek kertas itu dan membuangnya kasar.
"Van, kenapa? Apa isinya? Kenapa kamu jadi tegang gini?" tanya Aletha pelan sambil mengusap lengan Jenovan, berusaha untuk menenangkannya.
"Bukan apa-apa."
"Jangan bohong. Kamu sampai tegang kini. Ada apa?"
Jenovan menoleh dan menatap Aletha yang kini terlihat khawatir melihatnya. Cowo itu kemudian mengulas senyum tipis, berusaha untuk meyakinkan Aletha bahwa itu bukan apa-apa. Kemarahannya saat ini bukan karna isi dari surat itu. Melainkan karna peneror itu yang melayangkan botol itu dengan sengaja ke arah Aletha. Kalau tadi ia telat sedikit saja, botol kaca itu bisa langsung mengenai kepala Aletha dan Aletha bisa terluka.
"Van?"
"Bukan apa-apa. Ayo ke kelas. Udah mau masuk" Jenovan meraih tangan Aletha kembali dan menariknya pelan menuju kelas mereka.
Aletha yang tidak diberi kesempatan untuk bicara pun hanya bisa menurut. Ia mengikuti langkah Jenovan dan berjalan di sampingnya. Perubahan sikap Jenovan saat ini membuat Aletha merasa cemas. Ia takut. Surat tadi pasti bukan surat biasa. Jenovan jelas-jelas tengah menahan amarahnya.
.
.
.
.
Jayden tengah berada di dalam kamarnya. Ia memutuskan untuk tinggal di Jakarta selama beberapa waktu, sampai urusan di kantor papanya selesai. Saat ini pria itu terlihat bersantai di dalam kamarnya sambil merebahkan diri di atas ranjang.
Tok tok tok
"Jay,, mama boleh masuk"
Jayden bangkit. Ia kemudian bergerak turun untuk membuka pintu.
"Ada apa mah?"
"Mama boleh masuk?"
Jayden mengangguk pelan. Ia menggeser tubuhnya untuk memberi ruang pada Arini untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Ada apa mah?" tanya Jayden kemudian. Pria itu kini sudah duduk di samping sang mama yang mendudukkan diri di tepi tempat tidurnya.
"Engga. Mama cuma kangen aja sama kamu. Udah lama banget mama ngga ngobrol berdua sama kamu" ucap Arini seraya mengulurkan tangannya untuk merapikan rambut putra sulungnya yang berantakan.
"Kamu belum mandi Jay?"
Pria itu menggeleng pelan.
"Dasar anak bujang. Udah siang masih aja belum mandi. Malu sama adik kamu tuh"
"Kenapa jadi bawa-bawa Novan sih mah. Dia kan sekolah, sedangkan aku cuma di rumah"
"Ya setidaknya kamu itu bersih, wangi. Masa mama punya dua anak laki-laki sifatnya sama begini. Udah dingin, cuek, kalo libur ngga pernah mau keluar kamar, cuma diem doang bahkan ngga mandi. Kenapa kalian mirip banget sih, heran mama"
Jay memutar bola matanya malas. Selalu kejelekan itu yang terus diungkit oleh sang mama. "Wajar kali mah kita mirip. Lagian mama suka banget nistain anak sendiri. Gini-gini anak mama ganteng semua lagi" kesal Jay. Pria itu bergerak untuk berbaring di pangkuan sang mama.
Arini menerimanya dengan senang hati. Walaupun kedua anaknya punya sikap yang dingin dan cuek pada semua gadis, tapi mereka selalu manja di saat ada waktu berdua dengannya seperti ini. Terkadang jika ada waktu bertiga keduanya sering ribut hanya karna memperebutkan perhatiannya. Arini begitu bersyukur memiliki dua putra yang begitu menyayanginya. Walaupun salah satu dari mereka yaitu Jay, harus tinggal jauh dengannya karna harus fokus dengan kuliahnya.
"Mama tahu kalo kalian itu pada ganteng. Tapi kan kalo bersih dan wangi kan makin keren. Gimana kamu mau dapet pacar kalo gini terus?"
Jayden mendengus sebal. "Itu terus yang dibahas. Bosen mah dengernya"
"Liat tuh adik kamu, dia udah nikah. Bahagia sama Aletha. Emangnya kamu ngga pengin nikah juga?" tanya wanita paruh baya itu seraya mengelus pelan kepala putera sulungnya.
"Dia nikah juga karna di jodohin mah. Kalau engga mana mungkin dia mau. Kebetulan Aletha anaknya baik. Coba mama ngga jodohin, si Novan juga ngga bakal punya pacar. Dideketin cewe aja ogah"
"Kamu tu ya. Ngatain adik kamu sendiri kaya gitu. Kamu juga begitu kan? Makanya kamu juga ngga punya pacar. Apa mau mama jodohin juga?"
Jayden langsung menggeleng pelan. "Ngga usah mah. Aku bisa cari sendiri"
"Halah. Mana buktinya? Udah dua tahun mama nunggu, tapi ngga ada tuh cewe yang kamu bawa ke sini. Niat nyari ngga sih?"
"Nyari cewe ngga semudah itu kali mah."
"Kamu itu ganteng, pinter. Banyak cewe yang ngantri. Kamunya aja yang ngga mau milih" cibir Arini.
"Udahlah mah jangan bahas itu terus. Bosen aku dengernya"
"Heh, dibilangin sama mamanya malah gitu. Nakal"
"Awhhhh" keluh Jayden saat sang mama dengan enaknya malah menjewer telinganya. Dua-duanya pula. Kini telinganya terasa panas karna jerewan tangan sadis sang mama.
Setelahnya keduanya pun saling diam. Arini dengan lembut mengusap-usap kepala putera sulungnya sembari melihat wajah tampan puteranya yang kini terlihat tenang sambil memejamkan kedua matanya.
"Makasih ya kak, kamu udah mau bantuin papa di perusahaan. Bantuin Novan juga untuk mengatasi masalahnya di perusahaan papanya Aletha. Mama seneng kamu akhirnya mau untuk terjun ke dunia bisnis membantu papa."
Jayden membuka kedua matanya. "Ngga perlu berterimakasih mah. Jay ngelakuin ini juga karna Novan. Jay ngerasa bersalah dan kasihan sama dia. Karna keegoisan aku Novan jadi sasaran kemarahan papa"
"Mama tahu. Tapi apa memang kamu segitu kerasnya tidak mau terjun ke dunia bisnis? Tujuan papa itu baik Kak. Papa mau kamu bisa ngembangin perusahaan papa. Kalau bukan kamu dan Novan, siapa yang mau ngurus perusahaan papa? Ngga selamanya papa sama mama bisa terus mengurusnya kak"
Jay menghela nafas pelan. Ia raih tangan sang mama dan menggenggamnya erat.
"Aku bukannya ngga mau mah. Tapi cara papa yang aku ngga suka. Papa terlalu memaksakan kehendaknya ke aku ataupun Novan. Walaupun tujuannya baik, tapi aku ngga suka di kekang. Aku benci sama caranya papa."
Arini mengangguk mengerti. "Mamah tahu kalau kamu kecewa sama cara papa. Tapi jangan sampai kamu benci sama papa ya kak. Mama sedih setiap ngeliat kamu atau Jenovan berantem sama papa. Mama ngga bisa ngeliat kalian berantem seperti itu. Itu ngga baik sayang"
Jayden bangkit dan menatap pada sang mama. "Maafin aku mah. Aku ngga bermaksud buat mama sedih. Aku juga ngga mau terus terusan berantem sama papa. Aku juga mau hidup tenang mah." Jay semakin menggenggam erat tangan Arini. "Jay akan coba buat ngertiin papa. Jay akan coba buat bisa nurut sama papa. Tapi kalau nanti papa sampai kelewat batas lagi, Jay ngga bisa diem aja mah. Jay ngga suka papa terlalu ngatur hidup Jay. Mama bisa ngerti kan?"
Arini mengangguk pelan. Wanita paruh baya itu menarik Jay kedalam pelukannya. "Mama ngerti. Mama paham sama perasaan kamu. Sekali lagi makasih ya kak, kamu udah mau nyoba juga buat ngertiin papa."
Jayden tak menjawab lagi. Pria itu hanya mengangguk pelan dipelukan Arini sambil mengeratkan pelukannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
__________________________________________
T B C
..
JenoAle comeback.
..
Makin seru ngga sih guys?
Masih mau panjang lagi partnya?
..
Semangat buat Likenya ya.
..
Jangan jadi siders. Ok?
..
Ada yang mau disampein buat aku ?
Atau buat JenoAle?
..
Jangan lupa Like nya ya guys.
Sampai disini aja.
Tunggu next part nya.
See you
..