Ayo sini ngumpul dulu siapa yang nungguin Argantara update?
Jadi, tadi pagi fafay masih sibuk ngerjain tugas ya. Mau update habis maghrib tadi, tapi disini hujan deres. Gak berani gerak kalo ada petir.
Apalagi hidupin alat-alat elektronik. Berasa mau menanti ajal.
Jangan lupa vote dan juga follow fafay ya!!
Happy reading sayang..
°°°°°°
Arga fikir, mengurusi ibu hamil memanglah mudah. Tapi ternyata, tidak semudah yang ia fikirkan. Ia harus menyiapkan tenaga ekstra sekaligus kesabaran yang cukup.
Pasalnya, setiap Arga melakukan apapun, selalu salah dimata Syera. Belum lagi saat wanita itu ngambek dan ngidam yang aneh-aneh.
"Semoga aja bini gue gak inget soal ngidam buaya. Bisa dicaplok gue," gumam Arga.
"Enak aja. Gue belum siap mati, anak gue aja belum brojol. Belom nambah porsi tiga bocil juga." Gerutunya.
Saat ini Arga dan Syera berada di keramaian supermarket. Untuk membelikan susu bumil untuk Syera.
Mereka berdua selalu saja ribut entah dimanapun dan kapanpun.
Seperti saat ini, Arga dan Syera tengah mempermasalahkan soal varian rasa susu ibu hamil.
Arga yang notabennya suka dan setuju dengan rasa vanilla, karena menurut cowok itu sehat dan tidak terlalu tercampur banyak bahan lainnya.
Sedangkan Syera, perempuan itu suka dan lebih ingin varian rasa coklat. Karena dia tidak suka dengan rasa vanilla, karena menurutnya eneg.
"No, Arga! Aku gak mau rasa itu. Eneg, ih!" Syera mendorong susu varian rasa vanilla yang disodorkan oleh Arga.
Arga menggeleng kuat. "Gak. Ini yang lebih sehat. Buang yang coklat itu,"
"Ga, tapi---"
"Buang atau gak beli sama sekali? Minum susu bumil yang aku pilihin atau minum susu anlene yang ada dirumah?" Arga menaikkan alisnya sebelah.
"Sebenernya yang hamil itu aku apa kamu sih! Selalu aja salah aku itu dimata kamu. Emang selalu gini, cewek selalu salah dan cowok selalu benar!" Ketus Syera. Wanita itu memalingkan wajahnya kesal.
What! Apa tadi? Bukannya kebalikan? Bahkan Arga rela dituduh setiap saat, bahkan saat Arga bernafas saja sudah dianggap salah.
"Sayang, gak gitu. Tapi---"
"Kalo kamu mau yang rasa itu, yaudah ambil aja. Tapi kamu yang minum, kalo aku sih ogah!"
"Kok gitu? Kan aku gak hamil? Kalo aku minum susu hamil, terus tiba-tiba aku hamil gimana?" Ujar Arga dengan polosnya.
Syera mendengus sebal. Bisakah satu hari saja Arga tidak membuat keributan? Syera rasanya ingin menendang Arga sekarang juga.
"Terserah lah!"
Arga menarik tangan Syera saat wanita itu hendak meninggalkannya. Bisa repot nanti.
"Oke, fine. Pilih yang rasa coklat. Tapi kita beli vitamin dulu ya?"
Syera melirik Arga sekilas kemudian menganggukkan kepalanya dengan malas.
"Udah, gak usah ngambek. Kasian dede bayinya nanti, lihat mamahnya ngambek terus," Arga mengusap perut rata Syera.
"Salah kamu yang selalu bikin aku ngambek,"
"Iya, aku salah. Maafin aku, ya?" Syera tak menjawab. Perempuan itu terus melangkahkan kakinya mengikuti langkah Arga.
Arga menghentikan langkahnya saat sudah sampai pada jajaran rak disampingnya. Cowok itu mengulurkan tangannya dan mengambil satu pack minyak ikan.
"Kata mamah sih bagus buat bayi, biar kalo lahiran nanti lancar. Tapi kalo anak gue jadi duyung gimana?" Beo Arga.
Arga menggelengkan kepalanya, lalu cowok itu memasukkan dua pack minyak ikan kedalam trolinya.
Arga menolehkan kepalanya. "Astaghfirullah, istri gue mana?"
Arga menolehkan kepalanya kebelakang, kemudian membulatkan matanya saat Syera bermain ayam milik anak kecil disana..
Masih ingat dengan phobia Arga? Arga tipikal orang yang takut ayam. Makanya sekarang dia bingung gimana caranya menarik Syera dari sana.
Arga mendekati Syera dengan perlahan. "Syer, taruh lagi ayamnya,"
Syera menolehkan kepalanya. Perempuan itu berdiri dengan membawa dua ayam kecil dikedua tangannya.
"Kenap--"
"Syera! Plis, sayang. Taruh lagi ayamnya, ya." Arga menatap ayam kecil itu dengan takut.
"Kenapa sih? Orang lucu gini," kata Syera seraya berjalan mendekati Arga.
"Stop! Jauhin ayamnya dari kamu,"
"Emangnya kenapa---"
"Kata mamah ayam bikin sawan calon bayi, Syera. Taruh lagi ya?" Arga berdoa dalam hati, semoga saja Syera percaya dengan alibinya.
"Emang gitu ya?" Gumam Syera.
Syera membalikkan badannya dan menyerahkan dua anak ayam itu kepada pemiliknya.
"Makasih ya." Anak kecil itu menganggukan kepalanya.
Arga menghela nafasnya lega. Hampir saja ia teriak jika tidak sadar dirinya ada ditengah-tengah keramaian.
Demi apapun, Arga sangat menyumpah serapahi bocil dan orang tua bocil. Bisa-bisanya membawa ayam saat berbelanja.
"Udah ya? Ayo pulang," Arga menarik tangan Syera.
"Nanti beli pecel lele samping sekolahan dulu ya?" Pinta Syera.
"Iya, sayang. Ngidam lagi ya?" Syera menganggukkan kepalanya.
Arga tersenyum tipis. Kemudian tangannya bergerak menyentuh perut Syera. "Ngidam yang normal-normal aja ya, sayang. Jangan suka jahilin papah."
"Ga," panggil Syera.
"Hmm?"
"Aku maunya pecel lele, tapi ikannya bukan ikan lele," ucap Syera.
Mulai lagi nih pasti. Arga memasang senyum paksanya. Tunggu saja, tunggu saja kemauan Syera yang akan terlontar.
"Tapi ikannya ikan patin."
Arga mengangakan mulutnya tak percaya. Pecel lele, tapi pakai ikan patin. Itu namanya bukan pecel lele, tapi pecel patin.
"Terserah, Syer. Mau pake buaya goreng juga gue ladenin."
°°°°°
Arga menatap datar istrinya. Sejak dua jam ini Syera menyueki dirinya. Perempuan itu lebih fokus dengan pecel patin yang ia makan.
Sesekali cowok itu meringis pelan saat Syera menambahkan mayonaise kedalam makanannya.
"Gue gak tau anak gue nantinya jadi apa." Gumam Arga pelan.
Syera bersendawa pelan. Syera menepuk perutnya dan menyerahkan sisa makananya kearah Arga.
"Nih, makan aja. Aku udah kenyang."
"Serius kamu kasih ini ke aku?" Syera menganggukkan kepalanya.
"Kamu kira aku kucing apa? Cuma tinggal kepala sama durinya itu, ngeselin banget sih bumil," cibir pelan.
"Gak ikhlas aku ngidam ini itu?"
"Bukan gitu, masalahnya---"
"Masalahnya kamu capek kan ngurusin aku sama anak aku? Yaudah sih kalo gak mau ngurusin diem aja. Taunya cuma enak doang, giliran kecebongnya udah jadi bayi malah ngeluh kayak gini,"
Syera berdiri dari tempat duduknya kemudian berjalan memasuki kamarnya dan mendudukkan dirinya ditepi kasur.
Arga menghela nafasnya pelan. Cowok itu membuka handle pintu kamarnya dan berjalan mendekati Syera.
Arga jongkok dihadapan Syera. "Anak papah pengen apa, hm?" Arga mengusap pelan perut Syera.
"Aku itu gak ngeluh. Cuma kamu dari tadi ngeselin terus, hawanya ngajak ribut mulu. Gimana gak pusing aku?" Ujar Arga.
"Kamu tadi juga aneh-aneh banget minta ikan patin. Itu namanya nyusahin penjualnya kan? Kenapa tadi gak buaya goreng atau tokek goreng sekalian?" Tanya Arga sedikit menahan kesalnya.
"Biarin sekalian anak kita jadi siluman buaya." Gumam Arga pelan.
"Mulutnya itu dijaga!" Syera menepuk mulut Arga sedikit keras.
"Sakit, sayang." Rintih Arga. Mengusap pelan bibirnya.
"Papah kamu ngeselin, sayang. Nanti kalo kamu udah gede, bantuin mamah buat jabutin bulu papah kamu, ya?" Syera berucap sembari mengusap perutnya.
Arga menyingkirkan tangan Syera. Kemudian cowok itu menyandarkan kepalanya pada perut Syera.
"Perut kamu kapan gedenya? Gak sabar mau ngelus," ucap Arga.
"Nanti kalo udah empat bulan baru keliatan. Kan kemarin tau sendiri masih bentuk titik," ujar Syera.
"Sehat-sehat anak papah disana. Biar cepet gede, biar cepet-cepet ketemu papah kamu juga disini,"
Arga mencium lama perut Syera, kemudian menutup kembali baju perempuan itu yang sempat disingkap oleh Arga.
"Mamahnya sekalian mau dicium gak?"
°°°°°
Arga memakai kaca hitamnya dengan sombong. Senyum merekahnya sedari tadi tidak luntur juga.
Cowok itu memasukkan tangannya kedalam saku celana abu-abunya. Berjalan memasuki kantin untuk menemui teman-temannya, yang akhir-akhir ini jarang ia temui.
"Bos Arga. Lama juga gak ketemu," ujar Johan. Mengangkat telapak tangannya dan bertos ria dengan Arga.
"Apa kabar bos?" Tanya Andre.
"Triliyun persen baik." Jawab Arga.
"Bang, anjir lo ah! Jauhin buaya lo, setan!"
Arga, Johan, serta Andre menolehkan kepalanya kearah dua insan yang terus saja beribut itu.
Ziko yang sangat jahil terus menerus menodongkan bayi buaya kearah Elang.
"Cemen lo, ah. Cuma sama buaya aja takut," ledek Ziko. Dengan sayang cowok itu mengusap kepala buayanya.
"Seketika gue pengen jadi adik tirinya Ziko. Buaya aja dikasih kalung 30 gram, anjir." Ujar Johan.
"Sory. Tidak merekrut kaum gembel."
"Anjing lo, Zik!" Maki Johan.
Johan mengalihkan pandangannya kepada Arga. Cowok berjakun itu senyum-senyum sendiri dari tadi. Apa cowok itu kena sawan?
"Senyam-senyum mulu. Gak kering tuh gigi?" Ucap Johan.
"Gue sebentar lagi jadi ayah,"
Brak!
Arga terlonjak kaget akibat gebrakan mendadak yang dilakukan oleh manusia biadap disampingnya ini.
"Lo habis merawanin anak siapa, Ga? Wah parah sih ini, lo bisa dipenjara karena dapat kasus pencabulan!" Johan menggeleng tak percaya.
"Anak siapa, bang? Kucing lonte lo itu?" Elang menggelengkan kepalanya.
"Anak gue lah! Lo kira anak siapa? Istri gue cuma satu. Gimana seneng gak kalian sebentar lagi bakal jadi om?" Arta menaik turunkan alisnya.
Dan kalian tau apa respon teman-teman Arga? Rasanya Arga ingin melempar mereka semua ke jurang buaya.
"Oh. Jangan lupa nanti kalo udah lahir dikasih nama yang gue usulin dulu. Sugiono untuk cowok, dan sugianti untuk cewek." Ujar Johan, menyembulkan asap rokoknya diudara.
"Kalo nama anak dari gue sih, gak pake ribet dan tentunya gampang diinget," ucap Elang.
"Apa, Lang?" Tanya Johan.
"Si Gondal dan si Gandul. Mantep gak tuh?" Elang menaikkan sebelah alisnya.
Arga mengangakan mulutnya tak percaya. Dia jadi merinding jika anaknya diberi nama yang diusulkan oleh Elang.
"Gandul! Cuciin montor papah sebentar, nak!"
"Itu si Gondal! Bantuin masak mamah kamu tuh!"
Arga menggelengkan kepalanya kuat. Hingga suara bariton didepannya terdengar barulah ia tersadar dengan dunia halunya.
Tragedi Gondal dan Gandul memang meresahkan.
"Anak ayah mau apa, hm? Capuccino mau gak?" Ziko menyodorkan satu cup capuccino kearah buayanya.
"Lang! Ambilin pisang goreng, Lang. Kayaknya Mahmud mau makan pisang goreng," suruhnya kepada Elang.
"Kayaknya arwahnya Janson masuk ke tubuh buaya lo, bang." Ucap Elang.
Cowok setengah polos itu berdiri dari duduknya dan memesan satu porsi pisang goreng untuk keponakan barunya.
"Siapa, Zik? Mahmud siapa lagi?" Tanya Johan.
"Buaya gue lah, Jo. Yakali gue panggil lo Mahmud. Lo mah pantesnya Udin kalo gak Samsul." Sahut Ziko.
"Jangan bilang buaya lo itu pake marga Janson lagi?" Tebak Arga.
Ziko menggelengkan kepalanya. "Kali ini enggak,"
"Terus?"
"Stevan Mahmud Komarudin, gimana bagus gak?"
°°°°°
Argantararey.
Argantararey. Hallo beph!
.
.
.
.
Zikohdr. Pergi kepasar beli sayuran.
.
.
.
.
Johanadbskr. Godain abang dong dek.
.
.
.
.
Elangpradipta. Otw menjemput ajalmu.
.
.
.
.
Halo-haloooo!
Apakabar kalian?
Hah! Gak update satu hari berasa gak update satu minggu ya. Sama kok, fafay juga gitu..
Suka gak sama part ini?
Update besok siang mau gak nih? Atau pilih malem aja?
Mau bilang, fafay gak setiap hari bisa double update ya. Mungkin cuma dua sehari sekali atau gak tiga hari sekali. Ya tergantung ide yang muncul aja.
Spam next bisa lah ya...