• PROLOG •

31 3 2
                                        


"Banyak orang bilang, cinta pertama adalah figur seorang ayah. Namun apakah masih pantas di sebut cinta pertama, bila di satu sisi ia juga patah hati pertama seorang anak?"

@syfaprlaa.

——————————————————

"Ayah..."

Seorang gadis dengan boneka beruang yang ia peluk erat dalam dekapan nya, tengah berdiri mematung di sudut dinding.

Matanya menatap sayu ke arah seorang pria paruh baya yang masih terlihat muda dan gagah di usianya.

Plak!!

Suara tamparan keras terdengar memenuhi ruangan yang semula senyap. Membuat gadis kecil itu semakin menyembunyikan tubuh rintih nya di balik tembok.

"Ka..caca takut.." lirih gadis kecil itu.

Tubuh mungil nya bergetar ketakutan, tangan nya panas dingin.

Seorang remaja laki laki di sampingnya, mengulurkan tangan nya ke atas mata gadis itu, bermaksud untuk menutupi kekacauan yang tengah terjadi tepat di depan mata adik nya.

"Kamu gausah liat ya dek, kamu merem aja."

Gadis kecil itu hanya mengangguk patuh sambil menutup kedua matanya rapat rapat.

"Lepaskan saya! Saya udah nggak sudi tinggal di tempat kumuh seperti ini. kamu sudah tidak punya apa apa lagi, harta kamu sudah habis. Lebih baik saya pergi dari sini dan mencari wanita lain yang lebih kaya dari pada kamu!" tandas pria itu dengan tatapan hina.

Seorang wanita paruh baya yang juga sama terlihat muda nya dengan pria tadi, tengah meraung sambil menangis sesenggukan berharap suaminya tetap tinggal,
"Sa..saya mohon, jangan pergi mas.
Kembali lah kesini, saya dan anak anak sangat membutuhkan mu di sini. Jangan tinggalkan kami bertiga.."
Bukan nya menjawab, si pria malah menyentak tangan istrinya dengan kasar, mulutnya berdecak tajam.

"Masa bodoh dengan itu, kamu fikir saya peduli? Urusan anak, saya akan membawa mereka pergi dan mengurus nya. Kamu jangan khawatir dengan itu, saya masih punya tanggung jawab sebagai seorang ayah."

Tanpa banyak bicara, setelah mengatakan kalimat itu pria tersebut langsung mendekati gadis kecil tadi dan menarik tangan nya, ia juga membawa seorang anak laki laki yang usia nya tak jauh berbeda dengan gadis itu.

"Ayah mau bawa caca kemana? bunda juga ikut kan yah?" Pertanyaan polos keluar begitu saja dari mulut gadis itu. Ia yang masih sangat kecil tidak mengerti apa apa tentang semua kekacauan yang terjadi.

Pria yang dipanggil dengan sebutan ayah itu berlutut, mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh mungil gadis itu.

Pria setengah baya itu tersenyum hangat, tangan kekarnya terulur mengusap rambut hitam gadis itu dengan penuh kasih sayang.

"Rumah baru, kamu pasti suka. Ayo,"

Pria tadi kembali menarik gadis kecil itu untuk mengikutinya bersama dengan seorang remaja laki laki di samping nya.

Namun, sebelum mencapai muka pintu wanita tadi menahan langkah mereka dengan cara melebarkan kedua tangan nya di hadapan mereka, bermaksud menutupi jalan untuk mereka keluar.

Matanya sembab dan merah, rambut nya acak acakan.
Bisa dikatakan, kondisi nya jauh dari kata layak.

"Tolong. jangan bawa anak saya! Kamu boleh pergi, tapi jangan bawa mereka berdua juga. Saya mampu mengurus mereka berdua biarpun hanya seorang diri."

Pria dengan jas hitam itu menyorot sinis dan merendah pada istrinya, ia mendesis tajam.

"Kamu yakin? Lihatlah, kamu saja sudah jatuh miskin dan tidak punya apa apa lagi. Lalu bagaimana bisa, kamu mengurus mereka? Yang ada kehidupan mereka akan terlantar dan serba kekurangan jika kamu yang mengurus. Sudahlah, biar aku saja yang mengurus, saya jamin hidup mereka akan terjamin. hidup enak dan berkecukupan tentunya"

MONOCHROMEWhere stories live. Discover now