1

92 1 0
                                        


Selamat Membaca

••••

Revano Malik Ramadhan. Laki-laki itu terkekeh miris. Menatap seorang perempuan berambut panjang sedikit ikal yang tengah duduk di hadapannya sambil menangis.

Perempuan itu, Mutiara Savira. Suara rintihan tangis tersendu-sendu itu mengisi latar halaman rumah Revano. Dengan air mata yang mengalir cukup deras membasahi pipi merahnya.

Savira menundukan kepalanya, tidak sanggup menatap Revano. "aku beneran minta maaf, van".

"ga ada yang perlu di maafin. semua udah jelas".

"tapi aku sayang sama kamu".

Revano menatap Savira sambil tersenyum miring. "Sayang? terus kenapa selingkuh, Vir?".

Beberapa hari yang lalu. Revano mendapatkan Savira tengah bersama laki-laki lain di sebuah Cafe yang cukup jauh dari tempat tinggal keduannya. Tanpa ketidak sengajaan, Millano sepupu Revano bertemu Savira di Cafe itu, lantas Millano yang cukup mengenali Savira langsung mengirim foto yang ia ambil secara diam-diam lalu mengirimkanya kepada Revano.

Tanpa pikir panjang, Revano langsung menancapkan gas motornya untuk langsung menuju cafe itu.

Hati Revano hancur. Menyetir dengan tangan gemetar, emosi, sekaligus menahan dada yang sesak, Revano tidak peduli bagaimana banyaknya bunyi klakson yang ia dengar karena memang dengan tanpa sadarnya ia melaju dengan cepat. Menyalip kiri - kanan, kiri - kanan, tanpa melihat sekitar, pandangannya tetap lurus ke depan. Yang hanya ada di pikirannya saat ini, ia hanya ingin cepat sampai dan berharap bahwa itu bukanlah kekasihnya. Dan harapanya itu tidak di restui.

Savira terdiam. Tidak bisa menjawab pertanyaan Revano. Ia hanya tetap menangis.

"Gue kurang apa sih sama lo? semua yang lo mau selalu gue usahain. Walaupun ga langsung bisa, tapi selalu gue usahain kan, Vir?".

"Kamu ga ada kurangnya Van".

"Terus dari banyaknya masalah, kenapa lo milih selingkuh yang bahkan masalah itu lo ciptain sendiri".

Air mata Savira tak henti mengalir deras. Perempuan itu sudah tidak ada alasan lagi untuk menjawab pertanyaan Revano. "Aku bener-bener minta maaf. Aku ga akan ngulangin ini lagi. Aku ga mau putus, aku maunya sama kamu".

Revano menghembuskan nafasnya lelah. "mending lo pulang aja deh. mau lo sujud pun gue udah ga bisa nerusin hubungan ini".

Bagi Revano, perselingkuhan tidak bisa di toleransi. Hal tersebut dilakukan atas kesadaran penuh dan waras. Savira sudah melanggar apa yang membuat Revano benci. Itu artinya selama ini Savira tidak begitu tulus menjalankan hubungan dengannya. Lantas apa lagi yang harus di pertahankan?

Revano beranjak dari kursinya. Berniat menyudahi percakapan mereka yang sebenarnya tidak perlu di bicarakan lagi. Savira menahan lengan Revano agar tidak beranjak pergi. "Van, pleasee maafin aku. Jangan tinggalin aku". Suara tangis Savira semakin terdengar jelas. Isak tangisnya semakin menjadi-jadi.

Revano menepis lengan Savira. "Lo sadar ga sih ini bisa terjadi karena ulah diri lo sendiri? terima resiko dong Vir. Silahkan lo menjalani hubungan sama cowok selingkuhan lo itu".

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jan 14 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Only YouStories to obsess over. Discover now