Terpuruk dalam kubangan menyakitkan menghantarkan gelenyar menyedihkan tiada tara. Aku menutup mata dengan dada yang terasa menyempit. Pasokan udara seakan menipis, menghalauku untuk tetap bertahan hidup. Mungkin itu lebih baik, seenggaknya, alternatif pertama yang bisa ku pilih adalah itu. Mungkin meninggalkan dunia terdengar lebih baik daripada ditinggalkan dunia. Maksudku, untuk apa tetap bertahan hidup jika dunia saja menolakmu? Meski terdengar mustahil, namun harus tetap diupayakan. Sedih, hancur, luruh. Nyatanya, mengakhiri hidup juga tidak semuda membalikkan telapak tangan.
"Anak sialan!"
"Pembawa sial!"
"Terkutuk!"
Suara itu yang sering menyapa indraku. Menyakitkan memang, namun itu sudah menjadi makanan sehari-hari untukku. Tak ada perlawanan kala tubuhku terasa seringan kapas, tak ada daya sama sekali saat menghadapi pemilik suara yang selalu berteriak layaknya raungan harimau ketika marah. Orang yang selalu menghantarku pada luka-luka yang ku dapatkan. Fisik dan batinku dirusak tiada henti.
Terbangun keesokan dengan kondisi tubuh yang sakit akibat dipukul tanpa perasaan, wajah yang membiru bekas tamparan. Aku selalu berharap ini cepat usai. Aku semakin tak berdaya. Ingin sekali meminta tolong. Siapapun itu, adakah?
" Nara, jangan dekati anak itu. Dia itu pembawa sial! "
" Ku dengar, dia selalu dipukuli ayahnya karena selalu membantah. Wah, anak zaman sekarang benar-benar bebal. Begitulah anak yang tumbuh tanpa didikan yang benar. Mereka hanya akan merusak generasi. "
Raungan cemohan, tatapan bengis seakan ingin melahapku habis, ku terima tanpa sanggahan. Kakiku hanya perlu melangkah dan mengabaikan kalimat-kalimat pedas itu. Kembali otakku menyerukkan bahwa; tak ada ruang sedikitpun untukku menghirup udara sedikit saja di dunia. Ini benar-benar sangat menyiksa. Aku benar-benar telah berada di akhir batas pertahananku. Sekuat apapun pohon, dia juga bisa tumbang entah akibat tangan manusia, atau bahkan lapuk dalam ketidakberdayaan. Itu yang sedang kuhadapi sekarang.
" Kalau sudah tidak sanggup, tutuplah telingamu. Kadang kita perlu bersikap layaknya orang yang kehilangan indra pendengar hanya karena semata-mata untuk berhenti menelan omongan orang. Mereka hanya bisa berkomentar, tanpa mau melihat realita. Opini orang kadang tidak membawamu pada jalan yang benar, malah justru memperburuk situasi dan kondisi. "
Jika saja bisa, aku bahkan akan melakukan hal itu tanpa perlu diminta. Ayahku—penyebab bagaimana aku dihindari orang-orang karena terlihat layaknya orang gila. Batas sadarku sudah menyentuh titik akhir. Tidak ada penolong selain kalimat dari satu-satunya orang yang berbaik hati menjadi penopang kala semua orang pergi tanpa sisa.
" Nara, benarkah semua bisa berubah? "
Nara menatapku dengan sendu, aku tahu maksud tatapan itu. Gadis itu juga mungkin tidak akan yakin dengan jawaban yang akan dia berikan, sama sepertiku. Tidak ada harapan. Aku tak pernah menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi. Sama sekali tidak. Hanya Tuhan satu-satunya peganganku sekarang selain presensi gadis berwajah sendu di sampingku.
Satu helaan napas terdengar berat. Nara membingkai wajah kusutku dengan telapak tangan sedingin udara malam yang berhembus. " Meski keadaan tidak berubah, kau harus tetap yakin bahwa takdirmu kelak akan berubah, Jihan. Percaya padaku. "
Benar. Apa yang dikatakannya benar. Tapi, kapankah itu? Aku terlampau lelah menunggu dan bahkan menghitung tiap dentingan jarum jam. Mendadak hening menyelimuti. Tak ada jawaban apapun dariku selain anggukan ragu dariku.
" Nara! Sudah Ibu katakan berulang kali, kau jangan mendekati anak sial itu! "
Hening diinterupsi. Tidak sampai di sana saja, seorang wanita paruh baya—Ibu Nara dengan kasar menarik tangan anaknya, mengabaikan teriakan menyakitkan gadis baik itu. " Kau akan menjadi anak bebal jika bergaul dengannya. Hentikan itu! Kita pulang! "
