"Kalau gitu, gue Niagara pamit. Sampai ketemu besok di jam yang sama. Good night, Jakarta!"
Gara melepas headphone lalu menarik napas panjang. Suara Monita Tahalea yang menyanyikan ulang lagu Keliru milik Ruth Sahanaya masih mengalun memenuhi seisi studio. Tanpa menunggu lagu itu selesai, Gara membuka pintu dan keluar dari ruangan kedap suara tersebut.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul satu malam. Siaran tiga jam yang diawaki Niagara atau yang lebih akrab dipanggil Gara akhirnya berakhir. Setelah ini, siaran dilanjutkan oleh rekannya, Fika, hingga jam empat pagi nanti.
Begitu cowok itu membuka pintu studio, didapatinya rekan kerjanya, Fika, sedang meneguk air mineral lalu menyapanya dengan menaikkan satu alisnya.
"Gue pulang duluan boleh nggak, Fik?" tanya Gara.
Cewek berjilbab itu menaruh botol air mineralnya di atas meja lalu mengangguk-angguk. "Nggak apa-apa, lah. Ngapain pakai bilang segala, sih?"
"Ya kan biasanya gue nungguin lo."
"Nggak apa-apa. Udah sana, pulang."
"Kapan-kapan gue minta kita tukar acara deh. Lo pegang program gue, dan gue pegang program lo. Biar lo pulangnya nggak subuh-subuh terus."
Fika tersenyum. "Lo berani bilang ke Mas Reka?"
Gara mengedikkan bahu sambil tertawa. "Jangan gue lah. Lo aja. Reka kan lebih seneng dengerin omongan cewek daripada cowok."
"Hus!"
Tawa Gara keluar tanpa suara karena takut Reka, si produser radio yang galak tersebut mendengar. Cowok itu kemudian berpamitan pada Fika dan sekali lagi meminta maaf karena harus pulang duluan. Sebagai rekan kerja, Gara berinisiatif untuk mengantar Fika pulang terhitung sejak tiga bulan lalu. Nyaris setiap hari mereka berboncengan pulang karena arah kosan yang searah. Gara mana tega membiarkan rekan siarannya tersebut pulang subuh-subuh sendirian? Selain berbahaya, Fika juga berpotensi jadi bahan omongan tetangganya karena selalu pulang subuh.
Tentu saja Gara dan Fika jadi bahan gosip Thru FM, tempat kerja mereka. Untungnya, Fika tidak ambil pusing. Dia hanya menganggap Gara sebagai seorang teman. Sedangkan Gara... ah, sudah tiga tahun hatinya tertutup untuk orang lain.
Gara bekerja sebagai penyiar di Thru FM sejak enam bulan lalu. Sebagai penyiar baru, seharusnya cowok itu masih tandem siaran. Tapi gara-gara salah satu penyiar Thru FM resign, akhirnya ia diserahi satu program meski bukan di jam prime time. Tidak apa-apa, mengawaki program tiga jam di tengah malam seorang diri sudah merupakan sebuah prestasi.
Kemampuan siaran Gara memang dihujani pujian oleh produser dan para penyiar senior. Tanpa background pendidikan broadcasting, Gara berhasil memulai karier profesionalnya selepas kuliah dengan menjadi penyiar radio. Sudah dapat program sendiri, pula.
Kantor radio tempat Gara bekerja berada di basement sebuah gedung yang terletak di Jalan Rasuna Said. Radio tersebut sejatinya dimiliki oleh sebuah perusahaan media besar, dengan beberapa nama radio yang berada di bawah naungannya.
Motor Gara sudah keluar dari basement gedung, menyusuri jalan selebar dua mobil yang di sisi kanan-kirinya penuh dengan warung-warung tenda, lalu keluar menyambut Jalan Rasuna Said.
Ini Jakarta. Tapi Bandung dan Frou Radio rasanya masih lekat di pikiran Gara.
Bandung adalah kota tempat Gara menghabiskan seluruh hidupnya sebelum memutuskan pergi ke Jakarta untuk bekerja. Di Bandung, beberapa tahun lalu ia mendirikan sebuah radio kecil-kecilan bernama Frou Radio. Orang-orang lebih suka menyebutnya Frou. Yang namanya radio kecil-kecilan, semua siaran dilakukan secara online dengan perangkat seadanya. Studionya pun berada di sepetak kamar kos. Frou bertahan tidak lebih dari dua tahun. Memang singkat, tapi kenangan di dalamnya belum hilang sampai sekarang.
VOUS LISEZ
Frou #2
Fiction généraleGendis kembali ke Indonesia, tepatnya ia kini bekerja di Jakarta. Gara memutuskan meninggalkan Bandung dan menetap juga di Jakarta. Di tengah-tengah mereka, muncul Darren yang juga membutuhkan bantuan Gendis.
