Kata orang-orang di luar sana, ayah adalah laki-laki pertama yang dicintai anak perempuannya. Namun, nyatanya tidak untuk Bae Hyorin.
Ayah selalu membuatnya belajar akan kekerasan, bukan tentang kelembutan ataupun kasih sayang.
Ayah juga selalu memb...
Halo, kembali lagi di cerita baruku! Bagaimana kabarmu? Sehat-sehat aja kan?:) Aku harap yang baca ini akan sehat selalu yaa Oh ya cerita kali ini akan lebih mellow nih. Isinya sedih semua wkwk Tapi cerita kali ini juga lebih spesial. Aku gak mau jelasin kenapa, biar kalian yang baca aja ya<3 Buat kalian yang baca bab ini aku harapkan bacanya juga sambil dengerin lagu 'Mendarah' milik Nadin Amizah ya Oke segitu aja, jangan lupa vote dan komennya ya! Selamat membaca! (。'▽'。)♡
.
.
.
.
.
Limerence .
.
.
Story by luvlyflawless -28-12-2020-
.
.
.
Copyright @luvlyflawless
.
.
.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Bagaimana jadinya seorang anak yang kehilangan satu permata yang ia miliki satu-satunya?
Hening, kelam, hilang.
Mungkin seperti itu deskripsi singkat tentang sang jiwa yang kehilangan permatanya.
Pikirannya mengingat kembali tentang hari-hari lalu, kebersamaannya bersama sang permata yang biasa dikenalnya sebagai Ibu.
Hidup bertiga bersama ayah dan ibunya di sebuah rumah sederhana, hidup dengan segala penderitaan yang diberi sang ayah. Membuatnya seakan kehilangan sang cinta pertama dalam hidupnya.
Kata orang-orang di luar sana, ayah adalah laki-laki pertama yang dicintai anak perempuannya. Namun, nyatanya tidak untuk Bae Hyorin.
Ayah selalu membuatnya belajar akan kekerasan, bukan tentang kelembutan ataupun kasih sayang.
Ayah juga selalu membuatnya mendengar jeritan perih ibu yang selalu di siksa seakan hewan dirumah ini.
Hyorin beranjak dewasa dengan seluruh luka yang ada di hidupnya. Luka yang tak pernah mengering dan akan selalu membekas seakan luka itu menusuknya hingga dalam.