______
"Kertas lusuh, tergores tinta merah, bertuliskan rindu yang tak menemui titik temu."
•••
"Ditempat ini aku berjanji, akan kembali dengan rasa yang sama," kata lelaki itu.
Getir, kala itu saat membaca pesan singkat tersebut. Pesan yang diucapkannya beberapa tahun lalu.
Bertahun-tahun sejak kepergian dirinya menyisakan sebuah bekas luka yang tak sembuh secara sempurna.
Luka yang tak berbentuk namun rasanya perih. Janji yang diucapkan hanya tinggal sebuah janji.
Kepergiannya membawa luka sekaligus rasa benci terhadap laki-laki itu. Laki-laki yang meninggalkannya begitu saja demi wanita lain.
Yang mana wanita itu adalah teman dekatnya sendiri. Tak menyangka sekaligus kecewa mengapa harus teman dekatnya itu yang menjadi sang selingkuhan.
Memori luka yang berputar kembali di ingatan, saat perempuan ini mendapat kiriman undangan pernikahan dari sang mantan.
Berdengus kesal, mengapa dia harus mendapatkan undangan ini.
Satu pesan masuk, tertera nama pengirim undangan itu.
"Halo Felora, gue harap lo bisa datang ke nikahan gue, please."
-Sisilya.
Geram, diletakkan secara kasar diatas meja kerjanya.
"Astaga, mau apalagi perempuan ini!" Felora membatin kesal.
"Belum cukupkah luka yang telah mereka torehkan kepada ku sehingga dengan mudahnya dia membagikan momen bahagianya kepada mantan yang ditinggalkan begitu saja."
"Apa aku kuat melihat langsung lelaki itu, lelaki yang pernah menjadi bagian hidupku?" Ucap Felora dalam hati.
"Pasalnya jika saja aku menghadiri pesta pernikahan ini sama saja seperti aku menghunuskan pedang ke jantung ku sendiri,"
"Apa maksudnya mengirim undangan ini, bukankah sudah cukup baginya merebut laki-laki yang ku cinta, dulu." Geramnya sekali lagi.
Perempuan ini kebingungan, apa yang harus dia lakukan. Apa ia harus tetap datang atau tidak.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar. Masuklah Erika dengan tergesa-gesa. Menanyakan perihal mantannya yang akan menikah minggu depan.
"Siapa itu nama si tolol itu, mantan lo yang udah ninggalin lu?" tanya Erika dengan raut kesal.
"Bram," jawab Felora santai.
"Nah! Itu, si Bram brengsek itu. Gila sih dia, bisa-bisanya ngundang lu ke acaranya!"
"Hahaha, udah santai aja, Erika. Ya, mungkin aja, dia mau bagi kebahagiaannya, kan."
Jawaban Felora yang begitu santai membuat Erika heran, mengapa sahabatnya ini begitu santai dengan itu.
"Ish, Felora! Lu lagi, mikir positif banget sih, selama ini kan lu yang disakiti sama mereka!" geram Erika.
"Ya, gue harus gimana lagi sih, Erika. Udah masalalu juga. Lagian lu tenang aja gue udah pikiran sesuatu," ucap Felora dengan senyum liciknya.
Erika mengkerutkan keningnya, "Jangan bilang kalau lu mau datang ke nikahan mantan lu yang brengsek itu?!" tebak Erika.
Felora tertawa mendengar tebakan dari sahabatnya ini. Erika ini memang selalu benar dalam hal menebak sesuatu yang dipikirkan Felora, begitupun sebaliknya.
Bersahabat sejak keduanya duduk di bangku SMA membuat Erika dengan mudah mengerti segalanya tentang Felora.
Dulunya mereka bertiga begitu akrab satu sama lain, hubungan ketiganya baik-baik saja layaknya sahabat, namun Sisilya diam-diam begitu teganya mengambil Bram dari Felora.
Sejak saat itu, Felora tak ingin melihat keduanya lagi. Bahagianya direbut paksa oleh teman dekatnya sendiri. Felora tak membenci orangnya, namun Felora benci terhadap perselingkuhannya.
Begitupun dengan Erika, perempuan ini yang selalu mendukung dan yang selalu ada disisi Felora. Dia pun marah bahkan membenci dua orang yang berselingkuh itu.
Sebab Erika tau, sakitnya ia sebagai seorang anak yang melihat langsung lelaki yang ia anggap cinta pertamanya mengkhianati mamanya.
"Pandai sekali wahai Erika," goda Felora. Erika masih dengan ekspresi kesalnya.
"Tentu, gue pastiin gue bisa datang ke nikahan dua pelaku perselingkuhan itu!" jawab Felora dengan bangga.
Ya, Felora akan datang ke acara pernikahan Bram & Sisilya. Perempuan ini bertekad datang untuk melihat langsung kedua orang yang telah membuat luka itu malu, sekaligus memberitahu kepada mereka bahwa Felora yang sekarang jauh lebih bahagia dari Felora yang dulu.
Erika bangkit dari hadapan Felora.
"Yaudah, terserah lu kalau lu tetep kekeh datang."
Felora melirik Erika dengan penuh canda,
"Kalau gue sih ogah datang ke nikahan dua pelaku itu."
"Ayolah Erika, datang sama gue nanti ya, ke nikahan Bram," bujuk Felora.
"Gue beneran gak bisa datang Fel, karena minggu depan juga bentrok acara sekolah, kan. Dan gue juga harus nyiapin segala printilan anak-anak," jawab Erika lalu melenggang pergi dari ruang kerja Felora.
Sepeninggal Erika, Felora mulai memikirkan apa ia yakin dengan keputusannya untuk datang ke acara itu.
Namun dilain sisi Felora memang ingin melihat dua pelaku itu. Felora ingin membawa lukanya kehadapan dua orang yang tak tau malu itu.
Perihal maaf, sudah lama ia memaafkan kedua orang itu. Namun lukanya belum pulih. Felora ingin segera menyembuhkan lukanya, berharap setelah itu dia dan lukanya akan sembuh. Sebab ia berani menunjukkan bahwa ia sudah baik-baik saja tanpa mereka.
"Gue yakin, gue bisa hadapi ini sekali lagi. Gue yakin gue bisa ngebuat mereka berdua malu sama diri mereka sendiri sebab orang yang mereka sakiti ini bisa berdiri dihadapan mereka dengan bahagia," ujar Felora dalam hati.
• • •
"Saya tidak mau tahu dokumen itu harus segera selesai, dan jangan lupa kirim secepatnya ke e-mail saya!"
"Baik, pak segera saya kirim ke e-mail bapak."
"Ok. Saya tunggu sampai jam 8 malam nanti."
"Baik Pak, oh iya Pak, saya informasikan sekali lagi kepada bapak, bahwa bapak diundang ke pernikahan mbak Sisilya minggu depan."
Sedikit terkejut mendengar pernikahan Sisilya, Pria ini terheran benarkah perempuan itu berani mengundang dia ke acaranya?
Untuk apa?
"Bagaimana mana pak? Bisa hadir?"
"Oke, atur jadwal."
"Baik, Pak." Asistennya keluar dari ruangannya.
"Sudah tak sabar rasanya ingin melihat perempuan itu," gumamnya dengan kepalan tangan yang kuat.
°
°
°
Mari ikuti kisah ini hingga selesai nanti. 🙌
Tertanda, NrAishy
YOU ARE READING
Sunset Blooms
Romance__________ "Jangan beri rasa bila tak bersungguh-sungguh untuk menepati rasa." - Anindyaswari Felora Jasmine "Sebab ku cinta, maka ku ikhlaskan cinta itu pergi." - Bakhtiar Senja Madava 🌙🌙🌙 Bermula dari ketidak...
