Maret, 2010
Gadis itu mematikan walkman nya yang dari tadi ia nikmati, ia melihat jendela angkutan kota, melihat sebuah jalan yang ia harus nya sedari tadi turun dari angkutan kota
'Kiri bang' ujar sang gadis, ia pun memberikan duit dua ribu perak lalu menyebrang jalan ke sebuah toko kaset.
Bunyi bel di toko kaset tersebut berbunyi ketika gadis tersebut memasuki ruangan nya, ia baru pertama kali ke toko kaset itu, ia tak menyangka jika ada toko kaset sekitaran sini.
Ia melihat seorang pemuda lalu melambaikan tangan nya, sang pemuda membalas lambain tersebut.
'Hai, maaf ya telat,' aju sang gadis, 'yang lain belom dateng?' lanjut sang gadis
'Entah, kata mereka sih sebentar lagi datang,' jawab si pemuda tersebut.
'Oohh seperti itu,' jawab sang gadis
'Oiya, kenalan yuk,' ajak pemuda tersebut
'Hah buat apa kita kan-'
'Hema, salam kenal,' potong Hema sembari mengulurkan tangan, sembari tersenyum.
'Iya aku tau, aku Lia,' Lia menyambut jabat tangan nya sembari tersenyum
'Iya aku tau,' jawab Hema, senyum kedua nya tertahan beberapa saat, entah beberapa lama kedua mata mereka terpaku satu sama lain nya, sebuah tatapan singkat yang sangat berbekas di hati Lia.
Tatapan mereka di pecahkan oleh bunyi bel toko kaset tersebut.
'Ehem udeh ngapa salamnya,' saut seorang pemuda.
'Tau ya, gak kesian apa,' saut pemuda yang lain nya
'oh iya sampe lupa,' ucap Hema, melepaskan jabatan tangan bersama Lia, ia bergegas ke belakang toko, lalu kembali beberapa saat kemudian sambil membawa kamera kodak nya.
'Yuk, hunting foto,'' ajak Hema.
Lalu mereka berdiskusi untuk hunting foto dimana, usul demi usul di lontarkan, merek mencapai tujuan ketika Hema mengusulkan untuk berburu di daerah halte sekitar sini. Mereka berjalan menyusuri kota Bandung, di temani desisan angin senja dan bising nya suara kendaraan bermotor.
Jam empat sore lebih lima menit terbentuk ketika mereka sampai di sana. Mereka memulai hunting foto nya, Lia yang baru pernah memegan kamera manual agak kesusahan, ia sesekali bertanya kepada Hema.
Jam yang kejam karena berjalan terlalu cepat sudah menunjukan jam lima sore, Lia duduk sambil melihat lihat hasil jepretan nya, yang menurut ia kurang, ia mencoba mengambil beberap jepretan terakhir dengan mengatur Exposure nya dan memainkan shutter speed serta ISO.
'Duh ini gimana sih,' keluh Lia.
'Udah heh, istirahat dulu,' suruh Hema
'Ih ntar dulu, aku belom ngerti ngatur nya.'
'Udah duduk dulu, kamu selama sepuluh menit diri terus loh, gak cape?.'
'Iyaudah deh iya,' kata Lia sembari duduk di bangku halte,'loh yang lain kemana?'
'Lagi beli makanan,' Jawab Hema, 'coba liat hasil foto kamu.'
'Emmm, tapi jangan ketawa.'
'Apasih kek anak kecil aja'
'Ih serius Hema, tapi aku liat punya kamu juga.'
'Hahaha, iya iya, nih kamera ku'
Mereka bertuka kamera, Hema melihat hasil jepretan nya Lia, yang menurut nya adalah hasil jepretan yang seharusnya menjadi bagus jika Lia mengerti mengatur tiga hal itu.
Sebalik nya Lia mengagumi hasil jepretan Hema, yang sangat pas dari segitiga eksposure tersebut, Hema emang sudah lama menyelami dunia perfotografi-an. Lia melihat semua hasil jepretan Hema satu persatu, dari mulai seorang wanita yang sedang mengecup tangan sang kekasih yang baru saja pulang dari bekerja, anak kecil yang sedang berjualan koran, dan bapak tua yang sedagn duduk di salah satu warung. Lalu ia melihat gambar seorang gadis yang sedang asik memotret, dirinya, Lia menjadi objek foto Hema, ia melihat nya lalu bertanya kepada Hema.
'Hema, ini kenapa kamu foto aku?'
'Ah itu iseng aja, ngecek lensa, maklum kamera udah tua,' kata Hema sembari merebut kamera nya kembali.
'Nih kamera kamu.'
'Terima kasih.'
Beberapa jam kemudian Lia terbaring di kasur nya, setelah menghabiskan kan senja nya berburu foto, ia membuka laptop, dan mencabut kartu memori di kamera nya, memasukan kartu memori ke laptop nya, ia pandangi foto ia, untuk melihat apa yang kurang, selagi tugas kuliah menghantui nya. Lima belas menit lewat begitu cepat, Lia masih saja mencoba mencari kesalahan dari foto nya, ketika bunyi ponsel nya berbunyi, ia melihat nama yang keluar, "Hema," ia membuka pesan dari Hema. Hema menuliskan pesan yang panjang nan puitis, senyum merekah di bibir Lia, ia lalu mengambil jurnal nya lalu menulis kata kata tersebut.
"Hai, Lia, aku baru saja dapat kabar dari semesta kalau kita akan bertemu lagi di lain waktu, ketika aku melihat mu memasuki toko kaset ku, hati ku berdebar tidak karuan, entah-karena aku baru melihat kamu pertama kali di dunia asli, karena sebelum nya kita hanya kenal di dunia maya, entah aku memang melihat mu sebagai aku. Kau tahu kan masuk aku? Sebuah perkenalan yang singkat membuat ku tidak tertidur selama malam ini, terima kasih Lia, kamu berani melangkah ke hidup ku. Hema," Tullis Lia di jurnal nya, lalu membalas Hema dengan senyum, lalu ia menulis
'Selamat malam Hema.'
'Selamat malam Lia.'
Wahai Hema, entah kenapa malam ini begitu hangat, apa kah karena aku berada di pelukan mu? Atau hal lain? Entah apapun itu, aku senang bisa mengenal mu.
YOU ARE READING
HEMANISASI
Short StoryLia, seorang gadis yang dipertemukan semesta dengan Hema, seorang pemuda yang mempunyai toko kaset, akan kah mereka jatuh? akan kah mereka bahagia? Ada hubungan nya dengan cerita sebelum nya? iya ada
