Athena Hera (Ara)

34 4 5
                                        

"Selamat pagi ka Athena."

"Pagi juga Ra, ini helmnya."

"Wih helm baru ka, buat Ara lagi ga nih? Hehe."

"Iya buat Ara lagi."

"Ga takut hilang lagi ka?"

"Untuk apa takut sama suatu hal yang belum tentu terjadi Ra. Lagi pula lebih baik kehilangan helm dari pada harus kehilangan Ara."

"Dih gombal."

"Bukan gombal Ra, tapi nanti berurusan sama mama kau."

Mereka berdua selalu berangkat sekolah bareng, karena rumah Athena dan Hera bersampingan. Mereka juga akrab walaupun beda angkatan, keakrabannya ini mungkin akan membuat mereka terlihat berpacaran.

"Ka Ate."

"Yaa Ra?"

"Kakak nanti ikut Pilketos (Pemilihan Ketua OSIS) enggak?"

"Pasti dong," jawab Athena dengan mantap.

"Wih, memangnya sudah siap?"

"Haha."

"Ko ketawa doang sih kak?"

"Orang yang sudah menyiapkan ide dari beberapa bulan yang lalu? Sudah membaca banyak buku? Tentu sudah siap dong," ucap Athena dengan sombong.

"Wihh, ngebet banget buat jadi ketua OSIS ya."

"Jelas lah, sebuah keinginan untuk merubah mindset mereka semua."

"Kalau merubah mindset mah berat kak."

"Kalau ada usaha mah pasti bisa Ra."

"Kakak ini, usaha saja percuma kalau lingkungan kurang mendukung," ucap Hera dengan remeh. "Memangnya kaka mau rubah mindset yang mana sih ka?"

"Kakak mau merubah mindset tentang banyak hal, terutama terhadap mereka yang bandel."

"Bandel dalam artian sering bolos sekolah, maupun sering melanggar aturan sekolah?"

"Iya tepat sekali Ra, pada intinya apa yang mereka lakukan kepada anak-anak yang dianggap bandel itu salah."

"Contohnya apa kak?"

"Telat masuk sekolah ditahan beberapa jam atau menit di luar merupakan salah satu bentuk kesalahan."

"Lah kenapa kak?"

"Coba pikir nih ya, telat menyebabkan ia ketinggalan kegiatan belajar, kalau hukumannya ditahan, mereka yang telat makin ketinggalan pelajaran"

"Loh bukannya bagus ka, berarti mereka kan harus mengejar materi dan belajar lebih giat lagi."

"Kalau orang kayak kamu mungkin ga papa Ra, tapi kalau yang lain? Belajar tepat waktu saja masih sulit untuk memahami, apa lagi ketinggalan materi, makin bodoh dia Ra"

"Ga papa lah ka, siapa suruh dia telat."

"Kalau begitu, sama saja kamu mendukung adanya kebodohan di sekolah ini., lagi pula kakak punya cara lain yang lebih baik, seperti memberikan kelas tambahan atau hal-hal yang lebih berguna."

Hera terdiam, rasanya sulit menerima argumen dari Athena menurutnya itu terlalu aneh dan tidak biasa.

"Argumen kakak aneh."

"Kok aneh?"

"Masa orang melakukan kesalahan didukung, dibantu, bahkan mendapatkan kelas tambahan."

"Ara ini," ucap Athena sambil menggelengkan kepala. "Bukan gitu ra, tapi maksud kakak disini adalah ada cara yang lebih baik dan lebih efektif, ada cara yang lebih adil dan bijaksana, ada cara yang lebih bermanfaat, Ra."

"Malahan menurut aku cara yang sudah ada itu jauh lebih baik dari pada cara kakak."

"Kenapa?"

"Cara kakak itu lembek, terlalu kasih enak sama mereka yang melanggar peraturan, kalau seperti itu mereka tidak akan jera."

"Hahaha, jadi menurut Ara cara sekarang itu membuat jera mereka yang melanggar?"

"Iya lah jelas"

"Sekarang kakak tanya, sudah berapa kali teman kelas mu yang terkenal bandel itu kena hukuman terlambat? Sudah berapa kali sering Ara melihat yang kena hukuman orangnya itu-itu saja terus?" Ucap Athena yang langsung mengubah arah spion kirinya ke wajah Hera, lalu menjulurkan lidahnya kepada Hera untuk meledeknya.

"Plaakk," pukulan keras mendarat di punggung Athena.

"APA SIH RA, kalau kalah argumen jangan pukul Ra sakit nihh"

"Lah, suka-suka Ara lagian ngeselin banget meledek segala biar apa sih kak?"

"Biar senang lah bisa ngalahin orang yang otaknya tertutup, penuh dengan kegelapan berisikan ajaran-ajaran guru yang kuno."

"Dih kok bawa-bawa guru"

"Iya lah, soalnya kamu terdoktrin oleh mereka yang sangat benci dengan orang-orang bandel"

"Dih memangnya salah?"

"Memang salah, nanti kakak kasih tahu di debat calon ketua OSIS kenapa salah."

"Dih sok banget, kayak yakin aja bakal jadi calon ketua OSIS."

"Orang yang berbeda akan banyak disorot Ra, apa lagi dengan pemikiran revolusioner macam kakak, pasti panitia tertarik, gak perlu daftar pasti disuruh daftar Ra," jawab Athena dengan sombong.

"Iya-iya terserah kakak, cepetan kak biar gaK telat"

Mereka berdua sama-sama pintar, tetapi kepintaran Hera jauh lebih diterima dibandingkan kepintaran Athena. Kepintaran Athena sangat sulit diterima bahkan mungkin bagi orang awam hal itu akan dianggap sebagai sebuah kebodohan. Tidak jarang kepintarannya adalah suatu bentuk ketidak sopanan. Namun, bukan berarti tidak ada orang yang memahami maksud dari Athena. Tentu saja ia memiliki sahabat yang paham dan bahkan jauh lebih paham dari pada Athena.

Ala AthenaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang