Adam tidak langsung ke rumahnya tapi seperti biasa ia akan mampir ke warung nasi aunty terlebih dahulu yang letaknya tidak jauh dari kediamannya.
Jika ada banyak pelanggan di pagi hari, maka Adam akan bantu mencuci piring dan sebagai balasannya diberikan makan siang oleh aunty. Seperti siang ini Adam baru saja selesai membilas setumpuk mangkuk bakso dan duduk di tempat favoritnya.
Rutinitas ini sudah lama ia lakukan di mulai dari sekitar sebelas tahun yang lalu sejak usia empat belas namun tidak setiap hari ia mendapatkan makan siang. Semuanya tergantung pada pelanggan yang mampir di warung nasi aunty tersebut.
Tak lama setelah ia duduk, aunty pemilik warung menghampirinya.
“Bagaimana kerjaan hari ini?” Tanya aunty setelah duduk di samping Adam sekaligus membawakan nasi campurnya.
“Ada kejadian lagi aunty, tapi ceritanya sambil makan ya...! Mana makanannya aunty?” Sanggah Adam menerima piring makannya.
“Sebentar aunty ambil dulu”. Balas perempuan usia akhir empat puluhan mendekati setengah abad tersebut.
Aunty sendiri tinggal sebatang kara sejak ditinggal pergi untuk suaminya sehingga menjamu para pelanggan termasuk Adam menjadi salah satu kegiatan yang selalu dinanti-nantikan oleh aunty.
Terlebih lagi, aunty sudah menganggap Adam seperti anak laki-lakinya sendiri.
Tak lama setelah menghilang beberapa menit ke dalam warung, Aunty kembali dengan sepiring nasi dan lauk hampir sama dengan yang telah disuguhkan kepada Adam. Ada nasi putih, sambal, tempe dan tahu goreng, kerupuk dan semangkok sayur asam. Hanya saja di piring Adam ada tambahan sebutir telur berbumbu kuning.
“Ada kejadian apa hari ini?” Kata aunty memulai percakapan di antara mereka.
“Seperti biasa aunty, ini jadi rahasia kita berdua saja ya…!!” Kata Adam memperingatkan sambil meletakkan ujung jari telunjuk di mulutnya.
“Iya.. aunty selalu ingat bahwa semua percakapan terkait pekerjaan kamu adalah rahasia.”
“Siip. Adam juga butuh teman untuk curhat dan beruntung sekali ada aunty untuk menjadi pendengar setianya Adam.”
“Selalu ingatkan aunty kalau memang terdengar keceplosan sesekali ya..”
“Hmmm, pasti Adam ingatkan. Nah, Aunty masih ingat cerita tentang salah satu anak murid perempuan yang pernah tidak hadir sampai dengan dua minggu karena sakit?” Timpal Adam sambil membilas tangannya di mangkuk kobokan karena Adam lebih suka makan dengan tangan untuk itu kuah sayur asamnya tetap di dalam mangkok terpisah.
“Yang kamu pernah cerita kalau orang tuanya memukulnya sampai mukanya babak belur itu ya?” Sahut aunty.
“Iya benar aunty, tapi mukanya babak belur karena bertengkar dengan saudaranya bukan karena orang tuanya. Tapi karena itulah ia mendapat hukuman dari orangtuanya dengan hanya memberikan satu kali makan saja sehingga ia jatuh sakit”.
“Lalu apa hubungannya dengan kejadian hari ini?” Selidik aunty.
“Masih tentang anak perempuan yang sama? Hari ini dia masuk ke kelas sudah terlambat tiga puluh menit dari jam pelajaran dan dandanan rambutnya setengah botak”. Kata Adam.
“Jadinya kamu apain?” Jawab aunty.
“Aunty kan tahu kalau Adam tidak pernah menghakimi perilaku anak murid di kelas seberapa aneh pun perbuatan mereka.”
“Oh iya aunty lupa kalau kamu itu sangat menyayangi peserta didik kamu.”
“Jadi sudah ada kesepakatan bersama dari awal kelas dimulai bersama anak-anak, apa saja perilaku yang mungkin terjadi yang mengganggu proses kegiatan belajar di kelas. Ada banyak perilaku yang kami buatkan daftarnya waktu itu, panjang sekali dan kami catat di buku besar”. Lanjut Adam.
“Anak usia SMP seharusnya sudah bisa memikirkan semua hal itu kan?” Sambut aunty.
“Iya aunty, dan bukan cuma itu saja, Adam ajak mereka untuk membuat konsekuensinya. Jadi kalau misalnya datang terlambat maka apa yang harus dilakukan untuk menggantikan waktu belajar yang terbuang percuma. Semuanya disepakati bersama.”
ESTÁS LEYENDO
Rahasia Adam
RomanceHidup Adam sebagai guru di usia 24, jauh dari gemerlap kesenangan kaum muda. Minim kasih sayang dari seorang ibu membuat Adam skeptis dengan adanya cinta sejati. Namun, Adam mengenal cinta dan gairah melalui Lisa, walaupun sempat kandas demi kepent...
