1. Annisa Anindya

110 4 0
                                        

Vote dulu donk~~~~~
Selamat membaca...

======================

Nissa buru buru memarkirkan motor matic tua kesayangan nya di depan rumah. Tanpa membuka helm , iya segera menuju rumahnya dengan setengah berlari hingga hampir tersandung gamisnya sendiri ketika membuka sepatu pentophel nya dengan kecepatan diatas rata rata.

"Nissa, kok pulang lari lari? Gak ngucap salam lagi. " Tegur Lastri-umminya yang sedang berkutat di dapur.

Nissa yang sudah hampir sampai di depan pintu kamarnya pun berbalik dengan cengiran kudanya.

"Eh, assalamu'alaikum ummiii! maaf umm,khilaf, "jawab nissa seraya menghampiri bundanya.

"Di luar panas banget umm, jadi pengen cepet cepet masuk kamar, "ucap Nissa diiringi cengirannya.

"Waalaikum salam. Kamu ini alesan saja, yaudah sana masuk kamar, gak usah salim, tangan bunda bau ikan. "

Hanya membalas dengan cengiran kuda, nissa buru buru masuk ke kamarnya. Sinta hanya bisa geleng geleng kepala dengan kelakuan putrinya.

Sesampainya di kamar, nissa buru buru menghampiri jendela kamarnya. Membuka helm lalu menaruh sembarangan.

Dengan sedikit di buat dramatis, nissa menutup matanya, kemudian menarik dan membuag nafas dalam dalam untuk menetralkan jantungnya efek dari lari nya barusan.

"Bismillahirrahmanirrahim... " Gumam nissa seraya membuka gorden kamar yang sepertinya lupa dia singkap tadi pagi.

Nissa mengucek matanya berkali kali, melongokkan kepalanya lebih dekat ke jendela. kemudian melihat dengan fokus penuh, berharap bisa melihat dengan jelas sesosok objek di depan matanya itu.

objek itu tak lain seorang laki laki yang sedang mencuci mobil di pekarangan tepat di seberang rumahnya.

Dia, Tetangganya yang menjadi cinta monyet nya dulu. Yang dengan tidak tahu malunya ingin mengikuti kemanapun laki laki itu pergi. Bahkan terang terangan mengklaimnya sebagai suaminya di masa depan. Ah, nissa ingin menceburkan diri saja rasanya jika mengingat nya!

klek...

"Hayo!! Anak perawan Lagi ngintip siapa?"

Nissa yang sedang serius memperhatikan hampir saja meloncat terkaget dibuatnya. Reflek iya pun menutup kembali gorden yang disingkapnya.

"Astaghfirullah umi,....!siapa yang ngintip sih umm, nissa tuh cuman lagi mastiin aja, siapa yang lagi nyuci mobil di rumah bu Dewi."Gerutu nissa, seraya duduk kemudian melepas tas selempang nya dan menaruh sembarangan di atas kasur.

" Masa gak kenal sih? "Goda umminya dengan senyum di tahan.

" Oh....,Ehm,Jadi Itu beneran ka Adam?nissa kira supir baru bu Dewi. "Jawab nissa dengan suara dibuat sesantai mungkin seraya membuka kaos kaki serta jaket nya.

" Iya, itu 'ka-a-dam' baru pulang tadi jam 10 an."jawab umminya dengan nada penuh penekanan.

"Ummi!gak usah goda godain,!nissa sudah biasa saja ya...! "

"Maaf sayang. Iya, anak perawan umi kan udah gede,tahu jaga pandangan. Kalau bu-at mas-ti-in gak apa apa di-ma-a-fin"jawab uminya masih dengan nada Menggodanya.

Nissa hanya bisa cemberut tanda keseriusan nya.

"Iyaa,iyaa.. Yaudah, jadi umi boleh minta tolong gak nih?"tanya uminya dengan senyum rayuan seperti biasa.

"Iya boleh, mau minta tolong apa ummi ratu? "

"Umi mau bikin pecak kangkung kesukaan kamu, tapi terasi nya gak ada. Ke warung bu sumi bentar ya? sekalian beli minyak sayur juga. "

Hah?kewarung bu sumi?Uminya pasti sengaja ngerjain dia nih. Pikir nissa. Nissa memutar otak mencari alasan. Dia belum sanggup melewati rumah itu lagi.

"Yah umm..jangan ke warung donk, nissa cuci piring saja ya? Ummi saja yang beli... Yah umm? "

Lastri tidak menjawab, hanya merengutkan wajahnya menyelidik seolah bertanya kenapa?

"Panas umm.... "Nissa berkilah

"Masa sih panas? Hmmm, katanya sudah biasa saja?" Jawab Lastri dengan nada mengejek.

"Emang beneran panas umi, iya iya...mana uangnya? "Nissa hanya bisa pasrah, berkilah dari perintah umi itu percuma.

Dengan senyum di kulum Lastri menyerah kan selembar uang lima puluh ribuan.

"Gitu donk, cepetan ya ummi tunggu di dapur. "Seru Lastri seraya meninggalkan kamar.

"Siap umi ratu!"

Huhf!

nisa hanya bisa mendengus sebal ketika uminya sudah di balik pintu.

***

Setelah mengganti kerudungnya dengan kerudung instant, Nissa segera bergegas ke warung untuk membeli pesanan bundanya. Yang sialnya, itu berarti nissa harus melewati rumah Adam.

Dengan memperhatikan sekitar terlebih dahulu, nissa akhirnya bernafas lega. 'Tidak ada siapa siapa di pekarangan rumah bu Dewi. ' Pikirnya.

Dengan jalan cepat nissa segera menuju warung bu sumi.

Sebenarnya nissa seperti ini bukan karena ia masih memiliki perasaan yang sama ketika ia masih kecil dulu, hanya saja.. Entahlah dia merasa tidak siap bertemu dengan tetangganya itu. Rasanya tidak punya wajah untuk bertemu dengannya.

Segala dalam pikiran nya berkecamuk. Mengingat tingkahnya dulu begitu menjengkelkan dan memalukan! Bisa saja ka Adam sekarang akan meledeknya, mencemooh nya, atau bahkan mungkin bersikap seolah'jijik'.

Nissa menggeleng geleng kan kepalanya mengusir isi kepalanya yang tidak karuan itu. Dan suara bu sumi, sang penjaga warung pun membuyarkan lamunannya.

Setelah berhasil membeli pesanan bundanya dengan lancar, Nissa pun kembali menuju rumahnya. Dia berjalan santai sambil menghitung kembali uang kembaliannya. Jangan sampai harus kembali ke sana gara gara kembalian kurang atau apapun itu.

Tapi tiba nissa mendengar seseorang memanggilnya.

"NISSA!!.. "Pamggilan dengan Suara bariton khas lelaki dewasa itu mengagetkan nya.

" Iya? "Reflek Nissa menjawab seraya menoleh ke arah suara.

" Nissa kan?"tanya nya lagi.

Dan, demi apa orang yang sedari tadi nissa hindari sekarang sedang berdiri di depan rumahnya dengan lap di tangannya.

"Hah?"nisa kaget, sekaligus gelagapan. Tanpa aba aba dari otaknya,ia membalik badan kembali.

lalu lari menuju rumahnya tanpa menoleh sekalipun. Ia tahu itu tidak sopan. dia seperti melihat hantu saja! tapi entah lah, tubuhnya seolah bergerak sendiri!

aarrrrgghhhh! Dia kesal sendiri!

'Kenapa ka Adam harus muncul tiba tiba sih?' gerutunya dalam hati.

TBC

===================================

assalamualaikum wattiers...😁

Jangan lupa comment yaa..
Biar semangat lanjutinnya😁😁









Cinta PertamaMga kuwentong kahuhumalingan mo. Tumuklas ngayon