Ini hari terakhir berada di kampus ini, terima kasih untuk para dosen yang sudah banyak membimbingku. Mulai dari hal kecil hingga hal besar yang ternyata semua guru dan semua pembelajarang memiliki arti masing-masing.
Besok aku sudah menjadi sarjana, sudah bebas dari kata belajar, dan tujuan hidup selanjutnya adalah bekerja. Membahagiakan mamih dan papih.
Setelah bisa membahagiakan mereka planning ku selanjutnya adalah menjadi seorang istri dari laki-laki yang sangat aku cintai. Yaitu pacarku Rian Hermansyah, laki laki yang selalu sabar menghadapi sikapku yang manja dan egois.
Bahagia banget bisa mengenalnya, dan bahagia ku akan semakin lengkap jika bisa menjadi bagian dari hidupnya.
Ternyata tuhan sebaik ini kepadaku, ternyata tuhan sesayang ini padaku.
"Tisya selamat ya!" Peluk hangat Lani.
"Makasih banyak sahabat seperjuanganku! Bumil ku!"
"Kalau sudah begini jangan lupa banyak bersyukur sama tuhan, biar tuhan semakin limpahkan kebahagiaan ke kamu Sya!"
"Iya Lann, tuhan baik banget sama aku. Tuhan kasih aku kebahagiaan yang sempurna, kamu pasti bahagia banget juga dong! Kan sudah ada si bayik kecil ini di perut gendut kamu hehehe" ujarku sambil mengelus perut sahabatku.
Mamih sama papih datang menghadiri wisudaku, menebarkan senyuman bangga atas kelulusanku.
Diary ku...
Terima kasih untuk diriku sudah kuat berjuang sampai disini, jalanku ini masih panjang, masih harus melalui banyak patah lagi, melalui banyak kesedihan lagi. Tapi aku mau bersyukur karna tuhan selalu menyelipkan kebahagiaan dalam hidupku.
Untuk mamih dan papih terima kasih, maaf kalau Tisya manja, susah di atur, dan belum sempat memberikan kalian apapun.
Untuk Rian, Aku tidak tahu mengapa tuhan mengirimkan kamu untuk menemaniku selama ini, terima kasih atas semangatnya, terima kasih untuk kasih sayangnya, untuk motivasinya, untuk hal baik yang pernah kamu berikan kepadaku.
Rian yang ku cintai hadir membawa bucket bunga untuk merayakan kelulusan ku, tapi anehnya senyumnya sangat tidak biasa seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Sayang, kamu datang juga aku nungguin dari tadi sayang!" Ujarku menyambutnya dengan pelukan.
Rian diam tanpa suara, bahkan sekarang raut wajahnya datar seperti tidak ada perasaan senang atas kelulusanku.
"Kamu kenapa sih sayang?Ada masalah? Cerita sama aku?" Tanyaku pasa Rian yang masih saja diam membisu.
Rian menggeleng lalu memaksakan agar bibirnya tetap terseyum.
"Kamu kalau ada masalah bilang dong sayang, jangan begini? Aku gak suka kamu senyum karena terpaksa. Aku gak mau kamu sedih"
"Putus" ujar Rian tanpa rasa bersalah.
"Hah? Maksud kamu apa!"
"Iya aku mau kita putus!"
Wajahku datar membeku, air mata mengalir secara tiba-tiba. Mengapa rasanya seperti di tusuk duri tajam, seketika menembus hati paling dalam. Tuhan mengapa ini seiringan dengan bahagiaku, apa salahku? Aku baru saja bersyukur pada mu tuhan mengapa sekarang kau ambil lagi bahagiaku.
"Kamu jangan begini dong! Aku gak mau putus sama kamu! Kamu lupa? Kamu yang bilang nanti kalau kita sudah cukup tabungan untuk menikah kita akan membangun rumah tangga, walaupun semuanya dengan kesederhanaan! Kamu lupa? Aku salah apa? Aku bisa perbaiki! Aku minta maaf! Aku minta maaf! Aku janji aku akan jadi seperti apa yang kamu mau! Aku janji aku akan berubah sayang' plis jangan udahin hubungan ini! Aku minta kamu jangan pergi! Jangan...." ujarku menahan sesaknya dada.
Rian memberikan bunganya kepadaku, wajahnya tidak berubah sama sekali masih terlihat tidak peduli dengan ucapanku.
"Sya.. maaf aku sudah berubah pikiran. Sekarang kan kamu sudah jadi sarjana pasti banyak laki-laki yang mau sama kamu daripada sama aku yang mungkin gak akan bisa memberikan kamu kebahagiaan!" Kata Rian lalu meninggalkanku.
Lani memelukku erat dan mamih papih menyaksikan di belakangku.
"Kenapa sih Lan! Apa salah Tisya? Gue sayang dia Lan! Gue sayang dia! Bahagia gue itu dia!"
Aku menangis sesenggukan di pundak Lani.
Lani terus mengusap lembut pundakku berusaha menenangkanku "Syaa, kamu itu enggak salah tapi mungkin Rian aja yang gak baik buat kamu... Aku yakin akan ada laki-laki yang bisa menyayangi dan mencintai kamu lebih besar daripada Rian. Ini hari istimewa kamu, udah ya jangan sedih lagi, udah ya jangan nangis lagi"Tenang Lani.
Mungkin apa yang dibilang Lani ada benarnya, seharusnya di hari istimewaku nggak boleh lagi ada tangis. Papih udah sangat mengusahakan agar aku tetap berkuliah masa aku mengecewakan mereka dengan tangisanku.
