Sang Lentera
.
.
.
“Abi tanya sekali lagi Aisyah! Aisyah sudah salat subuh ?” sebuah peringatan kedua
.
.
.
Masih tersimpan rapi memori itu, saat aku masih berumur 5 tahun.. Aku di asuh oleh santriwati yang mondok di dekat rumahku. Banyak sekali orang yang selalu menggendongku baik santri laki-laki maupun santri perempuan. Tidak heran jika orang lain memandangiku sebagai seorang gadis kecil yang lugu dan selalu mencuri perhatian dengan segala tingkahku.
Hari itu jam menunjukkan pukul 3 sore, langit semakin cerah dengan beberapa gerakan sang awan. Aku memutuskan untuk bermain sendiri di luar tanpa memakai jilbab, begitu gembira pada hari itu. Aku berlari ke sana kemari tanpa ada orang yang menghalangiku, dan memetik setangkai bunga di halaman depan rumahku. Tiba-tiba pintu depan terbuka lebar dengan suara hentakan kaki
“Aisyah………….” aku terkejut mendengar panggilan itu.
“Iii…iiyaaa…Abii” seketika tubuhku gemetaran tanpa menatap wajah abi.
Tanpa peringatan pertama aku langsung mendapatkan sebuah tamparan keras dari perkataan abi
“Kenapa tidak memakai jilbab? Apa Abi menyuruh Aisyah bermain tanpa jilbab? Siapa yang memperbolehkan Aisyah main tanpa jilbab? Ayo jawab Abi Aisyahhh…!”
aku terdiam membisu tanpa sepatah katapun, mataku sudah mulai berlinang menahan bendungan air mata yang sebentar lagi akan mengalir deras.
“Sekarang masuk Aisyah! Dan jangan diulangi lagi untuk bermain keluar tanpa jilbab! Mengerti Aisyah!” perintah Abi yang tidak bisa di bantah lagi.
Tanpa berbicara, aku langsung berlari menuju musala dan menangis sekencang mungkin. Hari itu aku benar-benar kesal pada abi, sejak saat itu aku tidak ingin bermain keluar tetapi aku hanya gadis kecil yang selalu bermain.
Sejak kejadian itu, aku benar-benar tidak mau mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya. Kehidupan yang terus berjalan dan menikmati gelombang pasang surutnya kehidupan ini. Semakin berjalan tepat pada umur 6 tahun, tanda bahwa umur ini bukan bertambah tetapi berkurangnya jatah umur yang aku miliki. Ketika umurku sudah 6 tahun, aku sudah memasuki sekolah dasar.
Memori indah kembali mengingatkanku dalam kenangan masa kecil. Kejadian itu berlangsung pukul 05.00 setelah selesai salat subuh. Aku terbangun dengan keributan di rumah indah itu, ternyata abi sedang berburu seekor tikus di dapur. Aku menghampiri keributan itu dan membuka kamarku, dan seketika tikus itu masuk ke kamarku. Dengan begitu aku di suruh keluar kamar agar abi dan kakak bisa berburu dengan cepat di kamarku. Aku sangat kegirangan melihat aksi abi dan kakak yang sedang berburu. Tidak lupa abi mengingatkanku untuk segera salat subuh, tetapi aku menghiraukan perintah itu. Setelah berhasil mendapatkan seekor tikus itu, abi menatapku
“Aisyahhh….” panggilnya.
“Iya Abi” sautku.
“Sudah salat subuh?” dengan seketika aku langsung menunduk tanpa menjawab pertanyaan abi.
“Abi tanya sekali lagi Aisyah! Aisyah sudah salat subuh ?” sebuah peringatan kedua
“Belum Abi” aku menjawab dengan setengah menunduk. Tiba-tiba abi menghampiriku dan menatap tajam dengan sapu yang ada dalam genggamannya aku sudah berfikir bahwa abi akan memukulku. Aku berteriak semampuku
“Abii…Aisyah mau salat sekarang” ternyata abi hanya menatap dengan sorot mata yang tajam, dan menghampiriku bukan untuk memukuliku
“Abi sudah peringatkan tadi kepada Aisyah untuk salat subuh! Apa Aisyah tidak mendengar?” sebuah peringatan ketiga menampar keras masuk ke dalam pikiranku.
“Abiii… iya iya Aisyah tidak akan mengulanginya lagi.” benar-benar sebuah ucapan yang keluar dari perkataan abi begitu sampai ke dalam pikiran seakan dada ini terasa sesak. Ingin rasanya berteriak dan menangis sekencang mungkin tetapi terlalu takut melihat sorot mata abi.
Tidak pernah aku bayangkan bahwa sekeras itu abi mendidikku. Tetapi pada akhirnya aku mengerti dengan apa yang sudah abi lakukan untuk mendidikku. Semakin lama aku semakin dewasa, sudah jarang sekali mengajak jalan-jalan sore untuk bersilaturahmi kepada abah. Dan semakin berkurang usia ini semakin jarang berada di dekat abi.
Menginjak SMA aku sudah memutuskan untuk tinggal di pondok pesantren. Setiap kali melakukan salat selalu teringat pada abi yang pernah mendidikku sangat luar biasa. Selalu merindukan sosok abi yang selalu mengucapkan bait-bait doa ketika aku akan melakukan ujian sekolah ataupun ketika akan berlomba.
Lentera hati yang selalu jadi pahlawan setiap kali aku teledor dalam kesalahan yang berhubungan dengan aturan Allah, bait-bait nasihat selalu menenangkan kali pertama diucap langsung menusuk ke dalam hati. Menyadarkan betapa pentingnya ketaatan kepada pencipta-Nya tidak boleh terputus dengan alasan menyerah dan tidak adil akan kehidupan ini.
Aku selalu merindukan abi setiap kali melihat anak kecil yang menggenggam tangan ayahnya. Aku selalu merindukan lentera hatiku setiap aku ingat kejadian indah itu. Seorang laki-laki bijaksana yang menyayangi anak gadisnya. Semakin aku dewasa abi semakin lembut mengingatkanku tanpa ada paksaan tetapi aku selalu menurutinya.
Sang lentera hatiku, untuk abi yang selalu aku rindukan disaat aku sudah memenuhi kewajibanku sebagai seorang yang balig. Kerinduanku tidak akan pernah padam, begitu susahnya abi mengurusiku dengan susah payah. Semoga Allah memberikan jaminan surga sebagai pemimpin keluarga yang amanah. Terima kasih abi aku sangat merindukanmu saat ini meskipun jarak yang memisahkan tetapi rindu dalam doa selalu tersampaikan.
Terima kasih sudah membaca.
YOU ARE READING
Sang Lentera
Short Story. . "Abi tanya sekali lagi Aisyah! Aisyah sudah salat subuh ?" sebuah peringatan kedua. . .
