Disebuah danau kecil dengan suasana yang begitu tenang,suara kicauan burung dilangit senja menambah kesan romantis pada kedua insan yang berada ditepi danau.
Seorang pria dengan surai menyala sedang duduk bersandar dibawah rindangnya pohon yang daunnya mulai berguguran.
Dipangkuannya tengah terbaring pemuda yang lebih kecil darinya,pemuda manis dengan surai baby blue yang terasa sehangat langit musim panas.
Manik senadanya menyipit jahil,tangan mungilnya dengan usil terulur untuk membelai kelopak mata yang terpejam diatasnya.
Mata itu pun mulai terbuka,merasa sedikit terusik oleh rasa geli pada kelopak miliknya.
"Kau bangun akashi kun",
Pemuda biru muda tersenyum manis,sama sekali tak merasa bersalah atas perbuatannya.
Manik beda warna itu terbuka,memancarkan kenyamanan yang menghangatkan hatinya.
Wajah tampan itu menghadirkan senyum yang membuatnya semakin menawan.
Untuk sejenak tetsuya bahkan menahan nafasnya,rambut akashi yang diterpa angin,senyum hangatnya serta tatapan mata yang memancarkan rasa yang dalam,membuat dunianya serasa berhenti untuk sesaat.
Sampai tangan itu mencubit ujung hidung mancungnya,
"Apa aku setampan itu emm",
Tetsuya merasa malu karena kepergok terlalu intens memperhatikan wajah itu.
Dengan pipi yang bersemu,ia mengalihkan tatapannya,pipinya menggembung manja dengan bibir yang sedikit dimajukan,menghasilkan wajah cemberut yang sangat menggemaskan.
"Akashi kun no baka",
Gumamnya pelan,menghantarkan tawa renyah dari orang yang diledek.
"Tetsuya,mau sampai kapan kau memanggilku begitu,panggil aku seijuro,kau seperti memanggil ayahku kalau seperti itu",
Wajahnya masih tetap sama,namun jelas terdengar nada protes dari ucapannya.
"Tidak mau",
Tetsuya menjulurkan lidahnya lalu tersenyum,
Melihat itu,akashi menaikkan sebelah lututnya hingga membuat kepala tetsuya terangkat,lalu sedikit membungkuk dan langsung melumat bibirnya tanpa aba aba.
Awalnya tetsuya terkejut,hingga melebarkan matanya namun akashi semakin memperdalam ciuman mereka hingga ia hanya bisa pasrah saat lidah akashi memporakporandakan isi mulutnya.
"Cough,,,cough,,,"
Tetsuya terbatuk dengan nafas yang terengah,matanya terlihat berair setelah berhasil dengan sedikit usaha untuk lepas dari ciuman akashi.
Sementara akashi hanya melihatnya sambil terkekeh senang,seolah itu adalah hiburan yang sangat menyenangkan untuknya.
Meskipun sudah berulang kali melakukannya,tetsuya masih belum terbiasa dengan hal itu.
Tapi bagi akashi,reaksi tetsuya yang seperti itu selalu menjadi satu hal yang menyenangkan untuknya.
Tetsuya yang merasa tidak senang,memukul perut akashi hingga membuat pria itu sedikit menyipitkan sebelah matanya.
Setelah tawanya berhenti,akashi menarik tetsuya yang sudah bangkit untuk duduk diatas pangkuannya.
Ia memeluk tubuh itu erat,seakan jika ia melonggarkannya sedikit saja maka tubuh itu akan menghilang.
"Aku mencintaimu tetsuya",
Gumam akashi tepat ditelinga tetsuya lalu membenamkan wajahnya pada perpotongan leher itu.
