[1/1] Disclosure.

34 5 0
                                        


"Bahwa validasi rasa adalah yang utama. Dan kupikir, kamu pun sudah mengetahuinya sekalipun tanpa kunyatakan secara gamblang."

Suara serak menggema mengikis jarak. Ia terlunjak, sama kagetnya pasti dengan sang pendengar. Namun ia memilih abai, sebab ia paham, sangat paham akan konsepnya ketika ia telanjur memulai, maka ia berkeharusan menyelesaikannya.

"Tetapi, nyatanya aku salah, Kak. Manusia tetaplah manusia. Ada kalanya kealpaan menyelinap di antara lisan yang terucap, di antara makna yang tersirat. Tersebab, perasaan memang selalu menjadi hal yang teramat sensitif, terlebih bila ia gagal diungkapkan secara paripurna. Sehingga kebenaran tersajikan hanya separuhnya, dan sisanya, dibiarkan demikian saja mengendap pada batin yang terlara-lara. Membuatnya jauh lebih menyakitkan ketimbang menenggak pil pahit kejujuran."

Menghidu aroma petrikor yang masih menyisa, ia menguatkan tekadnya dalam-dalam. Kali ini, ia tiba pada bagian pentingnya.

"Oleh karena itu, izinkan aku menyampaikannya meskipun barang melalui untaian kata ini yang kutulis lebih dahulu: bahwa aku, tengah mengatakan sejujur-jujurnya bahwa apa yang terjadi sesungguhnya hanyalah sebatas asumsi yang lahir dari ujaran kebencian mereka-mereka yang berkeinginan menjatuhkanmu. Bahwa aku, seorang pengecut yang betah bersembunyi dalam bayang sepuluh tahun belakangan, diam-diam tengah berusaha melindungimu, menjagamu dari kenistaan yang ingin menyerangmu. Bahwa tidak sekalipun aku berniat dengan sengaja untuk menyakiti pun mengguratkan luka pada diri seorang malaikat yang sungguh-sungguh kusayangi—"

"Yaitu kamu, Kak. Aku harap, perasaanku ini tersampaikan padamu."

Ditutupnya buku itu perlahan, bersamaan dengan hela napas yang mencipta kabut putih di sela musim dingin yang membantai.

Aku berhasil. Batinnya menyorai kelegaan, sekalipun gemuruh di dalam dadanya belum juga surut, ditempa detak kegugupan yang bertalu-talu. Setidaknya, aku berhasil menyatakannya.

Sebab, bukankah itu hal yang terpenting? Pengungkapan dari hati ke hati, ketika satu pun kebenaran tak ada lagi yang ditutup-tutupi. Dan si pemuda sangat yakin akan keabsahan laku yang ia pilih. Kali ini, ia tidak salah melangkah kembali—

"....Kak Jin? Kamu mendengarkanku, kan?"

—meskipun ia tahu, pernyataannya, kata-katanya, tak akan pernah mampu tersuar menembus langit di atas sana.

"Jawab, aku, Kak. Aku tidak terlambat, kan? Masih ada waktu untukku mengulang semuanya dari awal...kan? Kak?"

Sebab ia sendiri pun paham. Pada akhirnya, apakah arti sebuah pengungkapan dalam jujur, bila waktu terburu merenggut segalanya?

Dirasakannya tubuh tegapnya bergetar hebat. Ia menunduk, tak berani menatap cakrawala yang sama sendunya. Lebih buruk, netra jelaganya malah menangkap apa yang masih kokoh tergenggam di tangan. Buku harian merah muda, terisi separuhnya dengan jeri nyata yang menyayat hati. Akan kisah yang ditulis acak tak keruan dengan tinta setengah terkabur oleh kepiluan. Sebuah buku, yang menjadi saksi bisu akan kegagalan sang pemuda dalam merengkuh lengan sang pemilik.

Satu nyawa telah melayang sia-sia karenanya, dan ia terlambat menyadari.

"A-aku.. Maafkan, aku, Kak. Maaf. Maaf. Maaf......"

Bersama dengan langit yang menangis pun tubuh yang menguyup, sejejak air mata penyesalan turut melesak membasahi segunduk tanah kemerahan.

DisclosureCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang