Bagian Satu

47 1 0
                                        

Tok!

Suara jendela kamar seolah diketuk dari luar. Jam di dinding tua menunjukan tepat pukul dua belas dini hari hanya lewat lima menit saja. Dimana semua anggota telah terlelap dalam mimpi mereka. Ayah merasa terusik dengan suara itu, kemudian memutuskan untuk melihat siapa yang berulah.

"Gak ada orang?" ucap Ayah mengecek kiri-kanan dan atas-bawah, tetapi nihil tidak ada apa pun di luar. Hanya kegelapan malam dan kedipan lampu jalan yang terlihat meremang.

Di ruang berbeda Sela yang tengah mengerjakan tugas sekolahnya pun menegakkan tulang punggung. Ikut beranjak mengecek, menyibak tirai tipis yang menutupi jendela kaca itu. Sunyi menelangkup tubuh mungilnya, hawa dingin menghantam saat bibir jendela didorong terbuka oleh tangan Sela. Gadis remaja tujuh belas tahun ini masih terjaga dengan tugas sekolah yang belum usai.

"Belum tidur, Nak?"

Mata Sela membulat sempurna dengan degup jantung tidak teratur.

"Belum, Yah," jawab Sela bersuara serak.

"Cepat tidur! Sudah malam, jangan terlalu larut, ayo, tutup jendelanya dan tidur!" perintah Ayah kemudian langsung dilaksanakan oleh Sela tanpa membantah.

Anak semata wayang itu pun lekas menutup tirai dan membereskan buku-buku yang berserakan di kasurnya. Karena setelah ini Ayah akan memastikan si putrinya benar-benar beristirahat atau tidak. Langkah kakinya mulai terdengar mendekat, sebentar lagi pasti pintu kamar berwarna merah muda terang itu terbuka. Sela lebih mempercepat gerakan dan merapikan tempat tidur, dengan cepat dia langsung berbaring dan mengganti lampu lebih remang untuk tidur.

Setengah jam berlalu ....

Mata masih saja belum terpejam untuk tidur, Sela berkedip-kedip menerawang langit kamar yang terlihat petang.

"Ke mana suara tadi? Apa yang kulihat tadi benar ayah?" pikir Sela memijat pelan pelipis. "Ah, sudahlah lupakan!"

***

"Yah, kemarin suara apa?"

Ayah dan Ibu saling menatap kebingungan dengan topik pembicaraan Sela pagi ini. Lebih tepatnya mereka tidak mengerti apa yang tengah putrinya bicarakan. Di atas meja yang telah berjejeran aneka sarapan pun terhenti disentuh.

"Suara apa? Maksudnya?" jawab Ayah yang malah bertanya. Mengerutkan kening dan mata yang semakin sopir itu menyelisik menatap putrinya.

Sela yang menggigit roti berlapis selai mematung ikut bingung, mengingat bahwa benar-benar semalam dia melihat Ayah keluar dan juga memintanya untuk segera tidur.

"Semalam," ucap Sela memberi penegasan.

"Tidak, kemarin ayah tidak dengar apa-apa."

"Hah?! Bagaimana bisa? Jelas yang kulihat itu bukan mimpi. Aku benar-benar masih bangun dan sadar malam itu," batin Sela.

Pelan-pelan Sela mencoba menjelaskan apa yang tengah dia alami semalam, tetapi kedua orang tuanya tetap saja menyangkal. Namun, Sela yakin dengan apa yang dia lihat itu dan itu bukanlah halusinasi dari efek obat. Iya, baru satu minggu ini dia diperbolehkan rawat jalan di rumah usai kecelakaan dan sudah pasti obat-obatan terapi dia minum, tetapi dia yakin ini bukan efek dari obat itu.

Diperkirakan hampir satu bulan dia tidak masuk sekolah. Jangankan untuk sekolah, sekadar duduk pun dia tidak sanggup waktu itu. Parahnya luka akibat kecelakaan tabrak lari itu membuatnya memiliki tidak hanya sedikit memberi kenangan goresan dan jahitan yang beberapa harus diperban, tetapi anehnya lagi luka itu sangat cepat mengering. Dokter dan pihak rumah sakit pun juga ikut kebingungan. Karena takut akan adanya uji laboratorium abal-abal untuk memastikan keadaan Sela, Ayah langsung meminta permohonan rawat jalan.


Alhasil kini Sela sudah bisa sekolah seperti biasanya. Benar-benar seperti biasanya, tidak ada perubahan atau bekas yang menempel di tubuhnya. Padahal ada kurang lebih tiga belas jahitan di dagunya belum di bagain anggota badan lain, tetapi itu tidak membekas sama sekali dalam kurun waktu yang sangat dekat.

"Sudah, ayo berangkat," ajak Ayah menyudahi cerita Sela sembari menenteng tas kantor dan beranjak berdiri.

Namun, seseorang membisiki telinga kanan Sela. "Hari ini Sela berangkat sendiri saja, Yah," balas Sela mendahului gerak menarik punggung tangan Ibu untuk berpamitan.

"Loh, kenapa?"

Sela hanya tersenyum dan memasukan bekal makan siangnya ke dalam tas. Tingkah aneh membuat kedua orang tuanya bingung dengan perubahan sikap Sela. Lagi-lagi orang tuanya hanya berpikir bahwa itu efek dari obat terapi Sela. Namun, sudah menjadi hal yang lumrah ... meskipun begitu Ibu tetap khawatir.

"Yah, Sela kenapa?" tanya Ibu menatap kepergian Sela dengan iba. Jiwa keibuannya memang sangat pekat sekali, sedikit saja perubahan bisa membuat kekhawatiran, sedangkan Ayah hanya menggeleng kepala walaupun dia juga bingung dengan Sela.

"Apa ada hubungannya dengan yang diceritakan Sela tadi?" batin Ayah tanpa memberitahu Ibu dan dilanjut dengan berpamitan untuk kerja. "Aku harus segera menemui Bapak itu lagi."

RaibWhere stories live. Discover now