01.

158 38 29
                                        

Angin membawa hawa dingin yang bercampur aroma lembabnya tanah. Sementara diatas, awan hitam berarak di kegelapan langit Soul

Lim Yura mendongkak setelah ia turun dari bus. Ia bergidik kecil ketika hembusan angin tiba-tiba menerpa tubuhnya. Dinginnya menusuk tulang. Jaket dan sweater tebalnya tak lagi berguna

Gadis itu bergegas berjalan menuju rumah, sebelum hujan benar-benar turun. Tangannya mulai memerah. Ia ingin segera sampai dirumah, duduk di depan perapian sembari menikmati secangkir cokelat panas.

"Aku pulang!" seru Yura sembari menutup pintu rumah dan melepas sepatunya asal-asalan.

Rumahnya terasa seperti makam, sangat sepi. Hanya terdengar samar-samar suara TV yang dibiarkan menyala. Entah mengapa Yura merasa adegan itu persis seperti film horor tentang pembantaian sebuah keluarga yang pernah ia tonton.

"Ayah? Ibu?" Yura memanggil orangtuanya sembari berjalan. Kini ia mulai merinding. Orangtuanya tak kunjung memperlihatkan batang hidung mereka. Yura melongok ke kamar tidur orangtuanya. Keduanya juga tak ada ditempat. Di mana mereka?

Ia menghela napas panjang dan menghentikan pencarian. Ia mencoba berpikir positif dan mengenyahkan masalah orangtuanya yang secara mendadak menghilang. Akan ia pikirkan lagi setelah mandi. Rasanya badannya sudah cukup lelah untuk bekerja hari ini. Banyak sekali pengunjung ke studio foto tempatnya bekerja, ditambah lagi acara makan-makan ulangtahun temannya di studio hingga harus pulang selarut ini.

Begitu membuka pintu kamar, Yura dikejutkan oleh kedua orangtuanya yang berdiri di depan lemari. Lemari pakaian itu terbuka lebar.

"Apa yang sedang kalian lakukan?" Mata Yura terbuka lebar saat melihat kedua orangtuanya di dalam kamar. Satu per satu pertanyaan muncul di benak Yura. Hampir saja Yura berpikiran yang bukan-bukan.

Yoona, Ibunya, terlihat salah tingkah sementara tangannya mencoba menyembunyikan secarik kertas dibelakang punggungnya. Tindakan ibunya itu membuat Yura semakin penasaran. Matanya yang besar-Seperti mata ayahnya yang orang Indonesia-disipitkan dan kepalanya ia miringkan ke arah tangan ibunya, sementara kakinya perlahan-lahan menghampiri kedua orangtuanya.

"Yura, Kau sudah pulang?" Willi, sang ayah, mencoba mengalihkan perhatian Yura, tetapi gadis itu sama sekali tidak memedulikan ucapan ayahnya. Ia masih ingin tahu apa yang sedang ibunya sembunyikan di balik punggunggnya.

"Ibu, boleh aku lihat?" tangannya yang putih itu ia ulurkan untuk meminta sesuatu yang disembunyikan sang ibu.

"Sudahlah, berikan saja padanya." Willi menghela napas. Kali ini ia berpihak pada Yura. Seulas senyum tersungging dari sudut-sudut bibir Yura yang berwarna merah pucat.

Yoona Menarik tangannya keluar dan memberikan secarik kertas itu pada Yura setelahnya. Detik berikutnya, setelah sang ibu memberikan kertas yang ternyata sebuah surat itu, Yura mulai membaca surat tersebut dengan seksama. Ia tak ingin melewatkan satu kata atau kalimat kecil.

Mata Yura langsung mengarah pada kedua orangtuanya yang masih termangu seperti linglung di depannya, seolah mencari kepastian dari mereka berdua terkait isi surat yang ternyata dari neneknya itu.

"Aku tidak mau! Kalian tahu kan, aku sudah punya kekasih?" suara Yura tiba-tiba saja meninggi ketika ia diminta untuk menuruti kemauan sang nenek oleh ibunya yang kemudian didukung oleh ayahnya, namun dengan cara yang lebih bijak daripada ibunya.

"Kami tahu, tapi masalahnya keputusan ini tidak bisa diganggu gugat." Willi mencoba membujuk Yura, sementara ia tidak tega melihat anak semata wayangnya itu harus menjalani kehidupan diatas skenario sang nenek.

Yoona menghela napas dan menjatuhka diri diatas tempat tidur setelah mendengar keputusan anaknya. Kepalanya berdenyut-denyut tak karuan, dan tiba-tiba saja pasoka udara di dalam rumah seperti menipis, bahkan untuk menghirup udara saja ia harus berjuang sekeras tenaga. Willi menundukan kepala sembari memikirkan jalan keluar dari masalah ini.

Melihat orangtuanya yang kebingungan, mau tak mau Yura harus ikut memutar otak juga. Meskipun begitu, hingga detik ini Yura belum mengerti mengapa sang nenek mempunyai pemikiran untuk menjodohkannya dengan laki-laki yang tak jelas. Kenapa perjodohan? Umurmya saja baru dua puluh satu tahun. Bukankah itu terlalu cepat? Apakah ia terlihat tua?

"Haaah, yang benar saja..." gumamnya sembari menjatuhkan punggung di atas ranjang.

Ia silangkan kedua lengan, lalu memejamkan mata. Ia penasaran, seperti apa laki-laki yang akan dijodohkan dengannya? Tampankah? Atau malah sebaliknya? Entah mengapa, di dalam otak Yura muncul bayangan seorang laki-laki yang sama sekali tidak dapat dimasukkan dalam kategori lelaki tampan ataupun manis, bahkan meski sudah ia usahakan ribuan kali.

"Apa Doyoung perlu tau?"

"Kurasa tidak usah, suamiku."

Apa itu? Baru saja Yura mendengar ayahnya menyebut-nyebut nama Doyoung. Ia membuka mata lebar-lebar, lalu menegakkan tubuhnya. "Apa yang kalian bicarakan? " tanyanya curiga.

"Ayah tanya, apa Doyoung perlu tahu masalah ini?" Willi mengulangi pertanyaannya.

Mendengar pertanyaan itu saja sudah membuat kepala Yura berdenyut-denyut, apalagi jika ia harua mencari jawabannya? Aduh...

"Jangan! Doyoung pasti juga tidak bisa menerimanya!" Yoona bersikeras menolak. Meski hubungan Yura dan Doyoung baru berjalan satu tahun, Yoona sepertinya sudah menyayangi Doyoung layaknya anak sendiri.

Tidak bisa! Yura memang tidak bisa melihat Doyoung kecewa. Ia sudah sangat menyayangi laki-laki itu dan tak bisa membiarkan posisi Doyoung tergantikan oleh laki-laki yang tidak ia kenal di masa depan nanti.

Tidak! Yura tidak mau hal itu benar-benar terjadi. Bagaimanapun ia hanya ingin bersama Doyoung sampai akhir hayat nanti.

Memikirkan jawaban pertimbangan itu saja sudah sangat menyusahkan. Yura harus benar-benar berpikir apa dampak keterlanjutan yang akan ia terima setelah memutuskan jawabannya. Dan pada akhirnya, setelah berpikir panjang, keputusan yang ia ambil ialah...

"Aku akan memberitahu Doyoung."

***

Kim Doyoung

¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.

Kim Doyoung


-


Next?
Vote, Comment&Follow.


©2020.

PERJODOHAN || LtyDonde viven las historias. Descúbrelo ahora