Banyak yang mengatakan bahwa hidupmu sanggatlah berarti bagi kedua orang tuamu, tapi menurutku tidak. Nyatanya aku tak merasakan seberarti itu bagi ibu dan ayahku, aku hidup hanya untuk menjadi pendonor dari ketiga kakak ku yang sedang sakit keras.
Nama ku, Kim Lisa anak bungsu dari 4 bersaudara.
"LISA KENAPA KAU TAK MENJAGA JISOO DENGAN BAIK HA!!"
PLAK!!
"Appo appa hiks hiks mian miane jisoo unnie hiks hiks" aku memejamkan mataku kala rasa perih akibat benda yang dicambukan itu mengenai tubuhku rasanya sakit, tapi tak sebanding dengan rasa sakit yang ada dihatiku.
Sungguh aku tak sengaja meninggalkan jisoo unnie dipinggir jalan, aku hanya mencoba membelikannya minum dan semua kejadian buruk itu terjadi. Unnie ku kembali krtis penyakit jantung Jisoo unnie kembali kambuh yang menyebabkan kakakku itu kini tengah terbaring lemah di ruang ICU.
PLAK CTAS!!
"Appa ampun appa"aku kembali menangis entah sudah berapa kali ayah mencambukku hingga rasanya punggungku mati rasa. Air mataku kian deras keluar, sungguh tuhan ini sanggat lah sakit.
"AKU MEMBIARKAN MU LAHIR BUKAN UNTUK INI LISA. AKU MEMBIARKANMU LAHIR UNTUK MENJADI PENYELAMAT UNNIE MU. DASAR ANAK TAK TAU DIUNTUNG" isakan ku semakin kuat seiring dengan cambukkan yang semakin kuat pula bunyinya, berharap ada seseorang yang membantuku, namun nyatanya tak ada. Siapa yang akan berani menghalangi ayahnya? Bahkan ibuku pun tak peduli akan keadaanku sekarang. Beliau tengah sibuk mengurusi kakak ku.
"Ampun appa lisa janji tidak akan buat salah lagi"aku memeluk kaki ayahku memohon agar ia menghentikan cambukkannya. Sungguh badanku sudah sanggat sakit dan aku tak bisa lagi menahannya ditambah dengan rambutku yang sudah tak lagi tertata rapih.
"Sekali lagi, sekali lagi kamu berbuat ulah Lisa! Appa tidak akan segan segan untuk menghukum mu lebih dari ini" aku mengangguk cepat mengiyakan peryataam ayahku, dan setelahnya badanku didorong oleh beliau hingga terhuyung ke lantai. Kepala ku yang semula pusing menjadi tambah pening sering dengan beturan lantai yang menghatam badanku, hingga akhirnya kegelapan merengut kesadaranku.
Pov end
.....
Di sebuah rumah sakit ternama terlihat tigas orang wanita tengah menangis dalam diam, ketiganya tengah kalut dalam kesedihan yang mendalam
"Pasien mengalami kejang, kami akan berusaha sebaik mungkin nyonya" kata-kata itu bagaikan pusau bermata dua bagi Stiffany. Cemas, takut bercampur menjadi satu didalam dirinya air mata pun tak kunjung berhenti membasahi pipinya. Rasanya sungguh menyesakan ketika dirinya harus melihat anak sulungnya kembali bertarung dengan maut didalam sana.
Ibu siapa yang akan baik-baik saja jika anaknya terluka? Tak ada!
"Eomma, unnie akan sembuh iyakan?"pertanyaan dari anak ketiganya membuatnya tambah kalut, sungguh ia tak tau harus menjawab apa akan pertanyaan tersebut. Hingga yang bisa ia lakukan hanyalah memeluk badan putri ketiganya dengan erat berusaha menguatkan walau dirinya sendiri pun juga lemah.
Sementara itu disamping kirinya gadis bermata kucing yang tak lain merupakan anak keduanya tengah mengigit kukunya cemas, tampak jelas raut kecemasan dan juga ketakutan yang sama seperti sang ibu dan adiknya itu. Hanya saja yang membedakan, tak ada air mata yang mengalir "unnie kau harus menepati janjimu" gumamnya sambil mengegam erat boneka kelinci yang merupakan boneka kesayangan kakak pertamanya tersebut.
Tap tap tap~
Suara langkah kaki berat itu mengema disepanjang lorong rumah sakit. Kim Jinyong tengah memacu cepat kakinya menuju arah ruang icu dimana putrinya pertamanya berada.
"Appa?!" Jennie mendongkak ketika mendengar adik ke tiganya berteriak. Menapakan seorang pria bertubuh bidang yang tengah berdiri didepannya dengan nafas terengah.
"Bagaimana kakak kalian? Apa baik-baik saja?!" Jinyong bertanya dengan raut wajah cemas serta keringat yang mengalir dari pelipis kepalanya.
Stiffany mengeleng pelan
"Jisso dia kejang" ujar wanita berwajah ayu itu sembari menundukan kepala.
Kepala Jinyong seolah berputar, ini sudah yang ke 2 kalinya putri sulungnya itu masuk kedalam rumah sakit sebulan belakangan. Jantung Jisoo yang lemah semakin membuat keduanya takut setengah mati.
Jinyong duduk disamping anak keduanya Jennie memegang kepalanya yang tengah berdenyut nyeri.
"Appa dimana Lisa?" Jennie berucap. Sedari tadi ia tak mendapati sosok adik bungsunya itu, ia mengira ayahnya akan pergi bersama Lisa karena mereka langsung meninggalkan rumah dan membawa jisoo ke rumah sakit bersama dengan ibunya sehingga yang tersisa di rumahnya hanyalah Lisa dan Jinyong.
Pria bermarga Kim itu diam, memikirkan alasan apa yang akan dikeluarkannya agar anak keduanya percaya.
"Lisa dia akan.. se-segar kemari. Appa tadi memintanya membawakan pakaian kakak kalian ke rumah sakit" jennie serta rose mendongkak menatap pria bersatatuskan ayah mereka itu dengan tatapan bingung.
"Appa bukannya eoma sudah membawanya?" Skak mat! Jinyong terdiam tak lagi memiliki alasan ketika anak keduanya Rose berucap.
Jennie serta Rose diam menunggu kembali alasan yang akan dikeluarkan oleh ayahnya yang tentu saja masuk akal.
"Tadi eoma lupa membawa makanan untuk kalian jadi eoma meminta adik kalian membawakannya" ujar Stiffany cepat ketika melihat raut bingung suaminya.
Rose dan juga Jennie menganguk saja dan kembali terdiam dengan suasana canggung.
.....
Lisa mengerakkan tubuhnya pelan merasa perih dengan beberapa bekas luka cambukan yang merupakan hadiah dari ayahnya sore tadi.
Badan kurusnya ia rendam didalam bathtub yang berisikan air hangat.
Setelab hampir sejam pingsan diruang kerja ayahnya akhirnya ia sadar dengan kondisi terbaring pingsan diatas lantai serta keadaan rumah yang kosong.
Memang rumah mereka akan dipadati oleh maid yang akan berkerja tapi tidam pada sore hari karena itu merupakan jadwal istirahat bagi pegawai ayah dan ibunya tersebut.
Dan disinilah ia sekarang mengobati bekas cambukan yang diterimanya dengan obat merah serta saleb yang selalu tersedia dikamarnya.
Memakai pakaian yang agak sedikit longar agar tak menyetuh luka dipunggungnya.
"Hah.. ayo Lisa Hwaiting!" Ujarnya menyemangati sembari memakai sepatu kets miliknya. Malam ini ia akan pergi mengujungi keluarganya dirumah sakit.
Entah hukuman apa yang akan kembali diterimanya dari sang ibu yang jelas sekarang dirinya harus melihat keadaan kakak sulungnya yang tengah kritis karena ulahnya.
...
..
.
.
TBC
Masih bingung ama judulnya
Mendingan Fate atau Im Sorry??🤔
