"Maaf, Apa kau sering duduk disini? "
"Iya, aku suka duduk di sini sambil melihat burung merpati dan melihat senja. "
Hari itu, pertama kalinya aku menyapa pria misterius itu. Memakai topi panjang hitam seperti pesulap dan memakai jas hitam, lengkap dengan dasi kupu kupu berwarna merah. Dia menyebut dirinya sendiri pria senja. Karena memang akupun melihatnya disana, saat sore hari saja.
"Halo.. " Pada suatu sore aku kembali menyapa pria itu.
" Oh, hai.. " Kata pria itu sambil tersenyum.
"Apa aku boleh duduk disini? "
"Oh, silahkan" Sambil pria itu bergeser sedikit.
"Terimakasih" Aku pun duduk disebelahnya.
Aku memakai headset pada telingaku dan mendengarkan musik. Sampai akhirnya pria itu melambai lambaikan tanganya padaku.
"Eh? Ada apa? " Sambil aku melepaskan headset
"Akhir akhir ini aku sering melihatmu disini mondar mandir, sambil mendengarkan musik. Aku sering memperhatikan sampai akhirnya kemarin kamu menyapaku. Sebenarnya akupun sering kali ingin menyapamu. "
Eh? Ternyata dia juga sering memperhatikanku dan aku tidak tahu sekarang harus berkata apa. Lalu pria itu berbicara.
"Menyanyilah, Aku tahu kamu suka menyanyi. Belakangan kamu gelisah karena ingin mengikuti sebuah audisi dan takut tidak akan berhasil bukan?"
Aku terkejut, mendengarnya berkata seperti itu. Kenapa dia bisa tahu? Tiba tiba pria itu berdiri.
"Maaf aku harus pergi sekarang karena hari sudah mulai gelap. Sampai jumpa esok, kita akan bertemu lagi saat senja, karena aku adalah seorang pria senja"
Dia melambaikan tangan sambil tersenyum. Kesiur angin menerbangkan dedaunan, burung burung merpati bertebangan. Aku ingin bertanya dan menahanya pergi, tapi entah kenapa aku tidak bisa dan hanya terdiam. Sampai akhirnya dia meninggalkanku dengan penuh tanya.
Esok harinya, saat sore hari. Hujan turun sangar deras, hari ini apa aku tidak bisa bertemu denganya? Hujan reda saat hari mulai beranjak gelap karena penasaran aku pergi ke tempat itu. Ternyata dia tidak ada.
Sore hari berikutnya, aku tidak bisa kesana karena banyak kesibukan dan berlatih bernyanyi. Memang benar aku ingin sekali mengikuti audisi menyanyi itu.
Sekarang hari sudah gelap, Aku menyempatkan diri kesana. Dia tidak ada. Aku tahu itu. Tapi dengan bodohnya karena penasaran aku tetap kesana. Aku berfikir, sekalipun aku tidak pernah berkenalan denganya. Siapa sebenarnya pria senja itu?.
"Aku? Sebut saja aku pria senja. "
Kata dia pada sore berikutnya. Akhirnya aku bisa bertemu denganya setelah dua hari dan memberanikan diri bertanya siapa dia sebenarnya.
"Ada yang ingin kamu tanyakan bukan? dua hari kemarin kamu pasti mencariku. Apa kamu rindu padaku? "
Katanya sambil tersenyum melirik ke arahku.
"Kenapa kamu tahu aku ingin mengikuti audisi menyanyi?"
"Ikutilah audisi itu. "
"Aku tanya sekali lagi siapa kamu sebenarnya? "
"Sudah kubilang panggil saja aku pria senja. "
Dia membuatku agak sedikit kesal.
"Aku tidak mengerti kenapa... "
Sebelum sempat aku bertanya lagi dia menyuruhku berhenti berbicara denga isyarat tanganya.
YOU ARE READING
Pria Senja
Short StoryTentang seorang perempuan yang bertemu dengan pria misterius yang sering menyebut dirinya sendiri seorang pria senja.
