_Vincent POV_

"BRAK" suara pintu dibanting terdengar sangat keras hingga mengagetkan sekretaris yang tengah sibuk bekerja, sementara security terlihat sangat takut. Pria didepan mereka sudah tidak mau dilarang untuk tidak memaksa masuk. Ada tamu penting didalam ruangan pemilik perusahaan clothing paling terkemuka di Indonesia. Setelah melalui pertengkaran dengan beberapa security pria itu terus menerobos bodyguard CEO perusahaan yang berdiri tepat didepan ruangan. Dua orang bodyguard itu mengunci tubuh pria itu dengan memegangi kedua lengan pria itu. Namun pria yang menguasai karate itu tak tinggal diam. Hanya dalam hitungan detik bodyguard itu jatuh ke lantai. Gelar pangeran penendang memang pas diberikan untuknya. Security dibelakang merasakan rasa takut begitu dalam, mereka memaksa langkah kaki mereka untuk mengejar pria itu bukan karena akan menghentikan pria itu lebih karena takut dipecat karena mereka membiarkan pria itu menerobos masuk begitu saja.

Suara pintu dibanting kembali terdengar, pria itu berhasil menerobos masuk ke dalam. Beberapa pemegang saham tengah duduk membahas tentang kinerja penjualan mereka yang tengah melesat pesat, menatap kaget kepada pria itu. Semua pemegang saham yang hadir tahu pria itu siapa. Pewaris tunggal perusahaan clothing itu. Mata mereka menatap ayah sekaligus pemegang saham terbesar disana. Pria setengah baya itu berusaha tersenyum kepada rekan bisnisnya, memperbaiki jasnya yang sebenarnya tidak berantakan sama sekali. Mukanya merah padam menahan malu. Pria yang tengah berdiri didepan pintu itu sibuk menetralkan nafasnya, sementara security dibelakangnya tertunduk menunggu eksekusi.

"kami permisi pak Jarvis, meeting kita lanjutkan lain kali saja." Pria itu berdiri mengancingkan jasnya beranjak pergi diikuti oleh empat orang pemilik saham lainnya.

Pak Jarvis berdiri sembari membungkukkan badan mengisyaratkan kata maaf. Pria didepan pintu itu memberikan sedikit jalan untuk kelima pria seumuran papanya pergi. Pria itu memasuki ruangan.

"kalian pergilah!" teriak pria bernama Jarvis ketika yakin tamu pentingnya sudah berada diluar ruangan sekretarisnya.

PLAK. Sebuah tamparan mendarat tepat dipipi pria itu.

"VINCENT PRAMANA PUTRA, apa kamu tidak bisa mengontrol emosi dan berhentilah membuat papa mu ini malu?" pria itu terdengar sangat marah, berusaha untuk mengontrol dirinya kemudian kembali duduk, membuka kancing jasnya dan melonggorkan dasinya. Dihirupnya oksigen dengan rakus, emosi tiba-tiba menguras asupan oksigen dalam tubuhnya.

" bagaimana dengan papa? Kenapa papa tidak mau berhenti mencampuri kehidupan ku?" teriak pria itu tak mau kalah.

" mencampuri kehidupan mu?" Jarvis menyipitkan matanya tak terima dengan perkataan anaknya.

" ini bukan pertama kalinya kamu memaksakan keinginan bodoh mu itu. Mau sampai kapan kamu mengembangkan toko figure milik mu itu? Itu hanyalah sebuah toko kecil jika dibandingkan perusahaan yang sudah papa kembangkan selama berpuluh-puluh tahun dan ini semua demi kamu."

"aku bangga dengan toko kecil milikku. Sampai kapanpun aku tak akan pernah menyerah, hidupku disana dan bukan diperusahaan clothing ini. Papa kembangkan saja perusahaan papa ini. Jangan memaksaku untuk mengurusnya dengan menghancurkan toko milikku."

Pria itu pergi meninggalkan ruangan papanya, didalam pria setengah baya itu berusaha mengontrol emosinya yang membeludak. Harus bagaimana lagi dia meyakinkan putra tunggalnya. Umurnya sudah tidak muda lagi, perusahaan itu membutuhkan seorang pemimpin muda yang mampu memberikan inovasi-inovasi terbaru demi meningkatkan kualitas produk clothing mereka.

Sementara putra tunggalnya tidak sedikitpun tertarik dengan perusahaan miliknya. Ditambah semenjak kepergian pacarnya dua tahun yang lalu membuatnya semakin menjauh bahkan memutuskan untuk keluar dari rumah.

The truth untoldWhere stories live. Discover now