BAGIAN KESATU - DONGENG TAKDIR YANG MENGHAMPIRI

60 11 6
                                        



Dalam suatu semesta yang makmur—seorang Raja baik hati dan dicintai semua orang merayakan hari jadi kejayaan wilayahnya bersama seluruh penghuni dunia. Dengan keajaiban sihir ia mengundang tamu – tamu dari berbagai tempat untuk ikut menjadi saksi suka cita; mengajak mereka melewati terowongan yang melintasi ruang dan waktu agar dapat bergembira bersama.

Raja yang berbahagia mengangkat gelas anggurnya di tengah acara makan malam, memohon kepada setiap orang yang menempati kursi untuk bersulang. Rupanya malam itu adalah peresmian kemenangan atas dirinya setelah menaklukkan seluruh daratan yang ada, selama dua setengah dekade. Hatinya yang terbuka menerima puji – pujian mengagungkan kerja keras, sementara telinganya terus dimanjakan oleh ucapan menyanjung paling memabukkan. Dagu berjanggutnya terangkat seiring dengan hilangnya kesadaran yang terbuai oleh kesenangan sesaat, membuat sang penguasa terpicu ingin menerima lebih banyak lagi dari yang sudah ia terima. Akhirnya, malam itu ia memerintahkan para pengawal untuk pergi ke hutan dan membangun sebuah istana baru sebagai tanda kedermawanan.

"Tempat itu akan jadi rumah singgah tamu – tamu terhormatku!" ia berkata.

Berbondong – bondong para prajurit bergegas menuju hutan sisi selatan wilayah kota, ke tempat indah dimana kedamaian hadir setiap hari menemani makhluk yang tinggal di dalamnya. Namun ditengah pekerjaan menebang pohon – pohon, mereka menemukan sebuah pondok kecil tersembunyi dekat kaki gunung yang nampak hidup serta berpenghuni.

Seorang wanita paruh baya yang sedang berduka atas kematian ibunda tercinta membuka pintu; mata sembabnya memandangi para pengantar kabar dari istana dengan bingung—kemudian kesedihannya bertambah ketika orang – orang tersebut menyeretnya pergi.

Ia menangis lagi saat dibawa menjauh dari kediaman. Hatinya terkoyak melihat bangunan itu dirubuhkan, menimpa jasad ibunya yang bahkan belum dikuburkan dan masih bersemayam di dalam peti bersama seribu tangkai bunga lili. Mereka yang berbalut baju zirah membuang serpihan, reruntuhan, serta sang ibu kedalam arus sungai deras di malam yang sunyi. Tepat di depan mata.

"—nya..."  bisik wanita itu sambil meratapi kedua tangan yang terkulai di atas bumi, "...Beraninya..."

Hatinya bergejolak.

Amarahnya telah mengembalikan semua tenaga yang hilang akibat mengemis pengampunan; kedua kaki itu berdiri, melangkah tersaruk – saruk ke ujung tebing berbatu yang ada di puncak bukit. Kemudian sepasang mata penuh dendam memandang ke istana yang bercahaya dipenuhi kehangatan dan otoritas sang penguasa, mengisi nafsu untuk melakukan pembalasan.

Hutannya telah direbut,

Ibunya tidak akan pernah kembali,

Dan tidak ada gunanya ia hidup dibawah kaki seorang pemimpin tak punya hati.

"Lalu untuk apa aku menahan diri?"  tanyanya pada diri sendiri. Setengah mendengus.

Wanita itu sepenuhnya sadar kalau dendam telah menelan seluruh perasaan, membutakan setiap rasa, serta menutup rapat – rapat pintu nurani. Sejurus kemudian ia tertawa. Lepas, keras, bersama dengan air mata yang mengalir melewati pipi. Bibirnya mulai merapalkan mantera – mantera berisi kebencian yang bersatu bersama segenap alam semesta. Awan kelabu bergulung dan menyatu di langit sewarna eboni, membuat kilatan – kilatan serta gemuruh – gemuruh peringatan untuk manusia berdosa yang sudah menghancurkan perasaannya hingga tak bersisa. Lalu, detik berikutnya, satu sambaran dari kegelapan muncul—menewaskan seketika semua prajurit yang memenuhi hutan.

Petir itu menyerap kedalam tanah dan membuat daratan bergetar akibat sengatannya yang tidak terhantarkan dengan baik. Selanjutnya selusin sambaran lain mulai bermunculan di puluhan titik sekitar istana sebagai pengingat kemarahan sang Penyihir yang diperlakukan tidak adil.

Peri alam yang bersedih meringsut ke sisinya, satu persatu berkumpul dari setiap elemen dunia untuk berdiri bersama wanita itu. Bersama – sama saling mendukung dan menolak keserakahan manusia, serta menggumamkan penghukuman besar sambil tersedu – sedu. Sejauh ingatan si Penyihir, para penghuni hutan tak pernah sesedih ini—terlepas dari semua gangguan selama peperangan berlangsung hingga tiba hari kemenangan—semuanya selalu bisa mengendalikan perasaan masing – masing. Berlomba menjadi siapa yang terkuat dalam menghadapi ujian yang sama. Namun kali ini berbeda. Tidak ada gotong royong...

Sebagian kecil semesta justru menangis.

Di tengah badai angin dan petir yang berkecamuk, Penyihir melangkahkan kakinya di atas udara malam, berjalan menyusuri anak tangga tak terlihat yang menuntunnya langsung pada kemeriahan pesta. Gaun hitam berselimut duka yang ia kenakan berkibar, cadar penutup wajah yang menghiasi kepalanya terhempas jauh dan matanya nanar. Tak terasa waktu berlalu, kini dirinya telah berdiri berhadapan dengan puncak menara tertinggi dari bangunan paling megah di kota. Di negeri itu. Di dunia.

Sinar temaram memancar dari dalam ruangan yang dikelilingi jendela persegi panjang ramping dengan kaca warna warni menggambarkan kisah ramalan bintang kuno. Menceritakan sejarah terciptanya dunia, dan kepercayaan bahwa kebaikan selalu menang melawan kekuatan apapun. Cinta...dan semangat untuk berjuang. Sesuatu yang sekarang dianggap omong kosong oleh sang Penyihir setelah ia kehilangan semua miliknya. Tak perlu berlama – lama, satu hentakan petir menerjang semua warna yang ada, menembus langsung pada pemandangan makan malam indah di bawah lilin gantung berhiaskan kristal bagai bintang.

Mata si penyihir melirik deretan yang mengelilingi seribu satu macam hidangan kerajaan, dan merasa tidak senang karenanya. Ia melihat seorang wanita berbalut gaun sewarna darah, ksatria terkuat yang mengenakan baju zirah adamantite hitam, pria tua aneh dengan mahkota, seekor anjing kepala dua yang menjelma menjadi dua manusia berwajah serupa, juga pria berbaju putih lusuh dengan topeng serigala hitam. Sosok – sosok yang tak pernah dilihatnya tersebut, sekutu Raja—bersama sang Raja sendiri kini mendongak padanya yang masih melayang di luar jendela.

Secepat petir menghampiri bumi, manteranya menyapu habis segala yang berada dalam jangkau pengelihatan. Teriakan marahnya begitu mengerikan sampai menjelma menjadi gertakan bencana, satu kibasan tangannya membawa kehancuran, serta setiap tetes air mata yang jatuh telah merampas satu nyawa sebagai bagian dari mimpi buruk. Sihirnya tak tertandingi.

Raja mati oleh kekejaman,

Dalam penyesalan di saat terakhir,

Satu sentuhan keajaiban,

Kutukan sepanjang waktu telah lahir.

Sadar akan kesedihan yang tak berujung, si penyihir pun mengakhiri nasib dengan mengutuk diri sendiri. Ia bersumpah akan terus terlahir untuk membalas setiap keturunan, reinkarnasi, bahkan jelmaan dari sang Raja. Dirinya berambisi untuk membalas semua ketidakadilan dan perlakuan bengis di alam semesta, di semua dunia dalam jangkauan dimensi. Ketika ia merapalkan bait terakhir janjinya pada waktu, tombak panas sang Ksatria Hitam terhormat menembus jantungnya dan membuat wanita itu jatuh seketika.

"Semoga semesta mengampuni kalian..." bisik sang penyihir sebelum percikan api dari peri alam membakar dirinya dan meluluh lantahkan seluruh istana.

Para tamu dari seberang lorong dimensi mengumpulkan segenap tenaga terakhir mereka, menerima kematian, pembalasan, serta membuat perlawanan atas kutukan yang tertanam dalam diri mendiang Raja di bawah bongkahan dinding kekuasaan. Dengan hati lapang, mereka ikut mengutuk diri sendiri agar ditakdirkan melawan perjuangan si Penyhir—dalam nama Tuhan, dan kebaikan. Mereka bersumpah untuk mencegah usaha wanita itu menjelma menjadi bencana yang tertanam di seluruh dimensi, melindungi sang mendiang Raja beserta ketamakannya.

Dinding kemakmuran runtuh oleh amarah.

Menghancurkan ketidakadilan.

Dua janji terlahir.

Membawa setiap harapan terombang – ambing di tengah lautan waktu.

RUDE WITCH TOP KILLTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang