Sore yang cerah di kota Bandung hari itu tak mengurangi sedikit pun kebahagiaan yang terpancar dari sepasang kakak beradik yang sedang bermain riang di taman.
Tawa renyah sangat khas keluar dari keduanya, memancarkan sejuta kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan lagi.
"To-tolong!!!"
Dean, sang kakak dan adiknya, Ara. Terkejut ketika suara itu terdengar. Mereka pun segera melangkah ke arah suara itu berasal.
Dean mendahului adiknya berlari menuju suara minta tolong itu, hingga ia tak sadar adiknya terjatuh karena tersandung di jalan yang mereka lewati.
"Ukh-- Kak Dean sa-sakit hiks." Ara menangis di pinggir jalan karena kakinya terluka, namun Dean tak mendengar itu.
Di lain tempat, Dean sudah sampai ke tempat yang ia tuju. Ia melihat seorang anak perempuan yang menangis sambil menyuruh seekor kucing liar pergi.
"Pergi pergi hiks." Ucap anak perempuan itu sambil terus melempari batu kerikil ke arah kucing yang menghalangi jalannya.
"Hey, gak boleh galak tau sama kucing!" Tegur Dean
Anak perempuan yang tak sadar Dean datang sebelumya pun terkejut.
"Ta-tapi Vania takut, kucing tuh galak udah buat kelinci Vania pergi." Ucap nya lirih.
Entah kenapa Dean yang melihat itu malah tersenyum tipis menanggapinya. Ia lalu menggendong kucing liar tersebut agar tak menghalangi jalan perempuan yang mengaku bernama Vania itu.
"Kalo gitu, nanti biar Dean yang jadi pahlawan Vania kalau ada kucing nakal lagi!" Ucapnya sambil tersenyum.
"Hiks beneran Dean mau jadi pahlawan Vania?"
"Bener kok, nanti panggil aja nama Dean 3 kali pasti Dean datang pas Vania butuh!"
Vania mengangguk paham sambil tersenyum manis ke arah Dean.
"Makasih yah pahlawan."
Dean dan Vania terus bercengkrama sambil bercanda tawa bersama, sampai Dean lupa akan keberadaan Ara yang sudah menghilang sejak tadi.
Petang telah datang, Dean pun izin pamit kepada Vania untuk pulang. Karena rumah Vania tidak jauh dari tempat mereka bertemu, jadi Dean tidak khawatir Vania pulang sendirian.
"Assalamualaikum-- aaaa--- i-ibu sakit ibu kuping Dean." Dean yang sudah sampai rumah terkejut ketika kuping nya dijewer oleh ibu kesayangannya.
"Waalaikumsalam, hmm iya bagus adik kamu jatuh malah kamu tinggalin pinggir jalan." Ucap ibunya dengan nada sangat kesal sambil melepaskan jeweran di kuping anaknya itu.
"Eh Ara jatuh Bu!? Kok bisa!?"
"Kok bisa kok bisa, kan tadi dia main sama kamu! Terus dia pulang pulang nangis katanya dia jatuh tapi kamu tinggal!"
Dean terhenyak, dia lupa adiknya tadi ikut bersamanya. Tanpa berpikir lagi Dean langsung berlari ke kamar sang adik dan tidak memperdulikan ibunya yang masih mengomelinya di ruang tamu.
Sesampainya di kamar sang adik, Dean melihat adiknya sedang tertidur dengan air mata yang masih menumpuk di pelupuk matanya. Ara memang seperti itu, mudah menangis namun mudah juga tenang dengan cara tertidur.
Dean tersenyum, gigi kelinci yang manis menambah keimutan anak 6 tahun tersebut.
Dia tidak jadi menjelaskan semuanya kepada Ara, mungkin besok dia akan bercerita. Melihat adiknya tertidur pulas seperti itu dia mana mungkin tega untuk membangunkan nya.
***
©Asmara
YOU ARE READING
arvandean
Teen Fiction"Ketika pelukan itu tak dapat lagi kurasakan dari kakak ku, ketika itu pula kak Dean menemukan seorang Vania." -Ara- *** Hanya sebuah kisah biasa yang menceritakan kecemburuan sang adik akan perhatian kakaknya yang mulai teralihkan oleh seorang wani...
