We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Lee felix

10 4 0
                                        


"Huuuu suara kayak bapak-bapak ! Masih sekolah suara kayak bapak-bapak huuu" Sorak-sorai para siswa dan siswi sambil melempari gulungan kertas ke seorang siswa yang dengan dingin melewati kerumunan.

Lee felix. Itu namanya. Semua orang mengenalnya berkat suaranya yang berat. Selain itu, sifat cuek dan acuh tak acuhnya mendukung membuat semua orang makin tak suka dengannya.

Langkahnya terhenti di depan kelas yang siapa melihatnya pasti merasa takut. Bukan takut, hanya merasa minder karena penghuni kelas itu memiliki otak yang terbilang cerdas.
Bukan hanya otak dan pemikirannya yang cerdas, tapi mulutnya terlalu cerdas sehingga sekali berkata sangat nyelekit ke ulu hati. Yeahh, mereka memang pendiam tapi yaaa... Taulah....

Lee felix mengambil salah satu gulungan kertas berwarna pink. Dapat diketahui gulungan itu berasal dari kertas origami. Dengan cepat ia membacanya, kemudian ia melipatnya dan menyobeknya tepat di hadapan seorang perempuan yang baru keluar dari kelas.

Perempuan yang di lempari potongan kertas oleh Lee felix hanya diam. Selanjutnya ia menatap Lee felix dengan senyumannya. Ini sudah biasa, sudah biasa ia lagi-lagi di tolak dengan mentah oleh cowok blasteran itu. Ia berusaha  tak peduli dengan kertas origami gulungan yang di lempar tadi berisi kata-kata yang semalaman ia rangkai untuk seorang Lee felix.

"Go out" Suara berat yang di bilang anak sekolahan seperti suara bapak-bapak itu terdengar.

Perempuan tadi hanya bisa mengangguk menuruti. Lagi pula, percuma ia tetap kekeh untuk tak pergi. Cowok itu pastinya akan meninggalkannya begitu saja tanpa menoleh sedikit pun. Walaupun ia di situ dan tak beranjak sedikit pun. Cowok itu tetap tak peduli.

Seperti hari pertama kali ia menyatakan perasaannya dengan terang-terangan di depan Lee felix. Bahkan teman kelas horor yang di huni Felix pun ikut melihat ia tak peduli. Cowok itu dengan tak ada rasa simpatinya pergi meninggalkan cewek itu tanpa bicara selain tatapan malasnya.

Pernah juga, hari kedua ia kembali menyatakan perasaannya. Sampai ia tetap kekeh berdiri di ambang pintu kelas Lee felix, cowok itu tetap tak peduli. Sampai-sampai perempuan itu di tegur guru yang masuk di kelas itu agar ia kembali dikelasnya.

Perempuan tadi pergi meninggalkan kelas Lee felix. Di remasnya ujung rok untuk menahan tangisnya. Semua orang di sekolah yang tadi sibuk menyoraki Lee felix hanya bisa menatap tak suka perempuan itu.

Mereka tak suka. Cewek itu terlalu berlebihan menyatakan perasaannya ke lee Felix yang sudah di pastikan tidak akan di pedulikan cowok itu.
Untuk kasihan ? Itu hanya sedikit. Selebihnya mereka tak suka dan tak peduli.

{}


Perempuan tadi hanya diam sambil memperhatikan setiap penjelasan materi yang diterangkan oleh guru.
Ia juga tak lupa menulis tiap-tiap poin penting yang harus ia ingat. Karena biasanya yang seperti ini akan masuk kedalam ulangan harian ataupun ujian yang akan datang.

Teman sebangkunya menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan membuat perempuan tadi menatap teman sebangkunya sambil melambaikan tangannya. Teman sebangkunya hanya tersenyum dan kembali melihat guru.

Perempuan tadi mengedarkan pandangannya ke jendela kelas saat terdengar langkah kaki. Ia tahu, karena ini jadwalnya kelas Felix akan olahraga. Selain kelas yang akan olahraga, tentunya tak ada lagi yang bisa bebas berkeliaran saat jam pelajaran tengah berlangsung.

Ia hanya bisa tersenyum saat melihat wajah blasteran itu dari sudut pandang sebelah kanan wajah cowok itu. Felix, dengan tatapan dingin dan lurus kedepan. Rambutnya tampak di beri minyak rambut yang membuat kesan cool saat melihatnya.

KITA ( Nct,Skz )Stories to obsess over. Discover now