Prolog

432 35 5
                                        

Kata orang, cinta yang telah lama berpisah bisa jadi, kembali di pertemukan. Sejauh apapun angin membawa daun pergi. Pada akhirnya, ia akan jatuh ke tanah juga. Menjadi kering dan hancur lebur.

Raini Stella Margareta.

POV Raini

Hari kelulusan sudah di depan mata. Aku bersiap hendak mengenakan seragam sekolah yang sudah tersetrika rapi di atas meja. Aku bergegas memakai seragam itu sambil menatap jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan.

Sebelum pergi, aku berdiri di depan cermin panjang yang bisa memperlihatkan seluruh tubuhku dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Aku mengeluarkan sebuah kalung berbentuk hati retak. Hanya separuh. Karena separuh nya lagi ada pada seseorang yang sudah tidak aku temui sejak aku berumur 5 tahun. Aku mencium kalung itu sambil memejamkan mata ku. Lalu, aku kembali menatap diriku sendiri di depan cermin. Aku tersenyum getir.

"Do'akan Rain, Ma. Semoga Rain bisa sukses dan bisa bertemu Mama."

Lalu, aku kembali memasukkan kalung itu ke sela baju ku. Segera aku pergi menuju pintu dan bersiap untuk berangkat ke sekolah ku.

"Hei, makan dulu kenapa? Nanti lo bisa pingsan lagi di sekolah. Lihat tuh, badan lo udah keliatan kurus. Kaya orang yang ga pernah di kasih makan."

Aku tersenyum hangat kalau suara parau dari seorang wanita paruh baya berumur 70 tahun lebih sedang ngomel-ngomel tidak jelas sambil tangannya sibuk menata makanan.

Dia adalah Nenek ku. Dia sekaligus orang tua bagiku. Sejak Mama dan Papa bercerai dan memilih keluarga baru mereka masing-masing, aku mulai di lupakan. Nenek ku adalah hal berharga yang tidak akan bisa terganti. Aku rela menukarkan nyawa ku demi dia. Karena, hanya dia yang tulus merawatku dari kecil hingga besar seperti ini.

Aku duduk sambil tersenyum manis, menampung wajah ku dengan dua tangan yang bertumpu di atas meja.

"Idihh, ngapain lo natap gue begitu?" Wanita tua itu bertanya dengan nada kesal. Meski tua-tua begini, wajahnya masih terlihat sangat cantik. Pada saat remaja dulu, nenek adalah incaran orang-orang belanda. Tetapi, apalah daya kekuatan cinta mengalahkan segalanya. Pada akhirnya, ia jatuh cinta pada Pribumi bernama Panji Sersaka. Itu nama kakek ku. Ia, kini telah menjadi Almarhum. Dia telah meninggal sejak 15 tahun yang lalu.

Tetapi, cinta Farida, Nenek ku ini. Tak pernah pudar. Itu terlihat pada sebuah bingkai foto yang memperlihatkan Nenek dan Kakek ku yang tengah tersenyum sumringah ke arah kamera. Padahal, perang belum usai. Namun, sempat-sempat nya mereka berfoto. Katanya, buat kenang-kenangan. Foto itu terlihat begitu terawat. Menandakan cinta sejati tidak akan berakhir meski waktu telah memisahkan keduanya.

Aku balik menatap nenek. Lalu mulai mencomot pergedel kentang yang terlihat menggoda.

Nenek hanya menggeleng kan kepala nya sambil sibuk menata makanan lagi dan lagi. Sepertinya, dapur ini punya kantong Doraemon. Apa saja yang aku inginkan, selalu nenek wujudkan. Seperti, lemper yang satu ini. Entah di beli entah tidak, rasanya ini adalah makanan terenak yang pernah aku makan.

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan. Sekolah akan memberikan surat keterangan lulus setengah jam lagi.

Aku bergegas pergi. Tak lupa mengalami nenek dan kemudian menunggu pesanan ojek online. Lima menit berlalu, pesanan ku datang. Aku naik ke atas sepeda motor dan tak lupa memakai helm. Sang supir segera melaju pelan dan menambah kecepatan ketika mulai memasuki jalan raya yang kini di penuhi dengan kemacetan.

AFTER MEET YOU[Slow Update✔]Stories to obsess over. Discover now