RANIA

21 0 0
                                        






Rania merebahkan tubuhnya, matanya menatap langit-langit kamarnya. Musik Sasha Sloan mengalun merdu, ia menutup matanya berharap kantuk segera menghampirinya. Tiba-tiba suara asing melintas difikirannya, ia ingat dengan jelas suara siapa ini. Suara itu terdengar semakin jelas seiring dengan bayangan-bayangan masa lalunya. Ia lantas membuka matanya, kesal karna bayangan itu semakin jelas.

Ia mengambil ponselnya, Lagu Dancing with your ghost masih berputar, ia melihat notifikasi, ada pesan singkat berisi emotikon kecup dari seseorang yang menarik perhatiannya, ia membukanya tanpa membalas pesan nya. Ia membaca pesan-pesan yang saling terbalas itu, dadanya nyeri seketika. Otaknya kembali memutar ingatan beberapa saat yang lalu, aktivitas yang ia lakukan dengan laki-laki yang baru ia kenal setahun ini. Ia menghembuskan nafas berat.

"Enak ya jadi kamu mas" Lirih nya.

Debaran dihatinya kian memperburuk suasana, berderet penyesalan menghantam kepalanya. Dikepalanya kini berdesakan ingatan-ingatan masa lalu, cukup menyesakkan tubuh rapuh itu. Mimpi-mimpinya yang harus ia bunuh, hayalan-hayalan yang dulu, terasa makin tidak mungkin terjadi, dia sadar untuk tetap sadar bahwa segalanya sudah tidak lagi sama. Kesalahannya tidak bisa diperbaiki.

Ia membanting ponselnya ke ranjang, merebahkan tubuhnya, ia memeluk lututnya, lalu memejamkan mata memaksa untuk segera tidur.


✨✨✨✨


Rania segera mengangkat telur goreng dari wajan, lalu meletakkannya di piring.

"Rapp!!! Cepetann! Ayo sarapan dulu!" Teriaknya.

"Iya" Suara laki-laki yang tengah berjalan menuju meja makan.

Ini Rafli, adik Rania. Mereka cuma beda satu tahun. Rania pun hanya mengangguk lalu mereka, sarapan bersama tanpa ada percakapan.

"Berangkat sama siapa? " Tanya Rafli

"Zidan udah didepan"

Rafli mengangguk paham,
"udah biarin aja, gue yang cuci. Gih berangkat sono!" Ucap Rafli.

Rania tersenyum lebar
" Ah baiknya adik gue." Ucapnya lalu berdiri tak lupa mengacak-acak rambut Rafli, yang langsung disambut protes darinya.

"Daa dedekkuuhh, ati-ati dijalan ya" Ucap Rania sebelum ia menghilang dibalik pintu. Rafli mendengus kesal, lalu tersenyum kecil.

"Udah sarapannya Ran? " Tanya Zidan saat Rania sudah didepannya.

"Udah kok, lo kenapa sih tumben ga mau sarapan bareng" Tanya Rania yang langsung naik ke motor Zidan.

"Gak enak gue, tiap hari sarapan disini terus"

Rania menoyor Zidan pelan

"Sosoan gaenak hati lo, dah lah berakat kitaa!!"

Zidanpun menyalakan motornya lalu meninggalkan rumah Rania, tak ada percakapan penting diperjalanan, mereka hanya bertukar cerita tentang pagi ini.

Sesampainya di sekolah setelah mengucapkan terimakasih Rania pamit langsung pergi ke kelas, karna Rania tau Zidan ada rapat Osis pagi ini. Rania berjalan santai ke kelasnya, beberapa sapaan dari teman seangkatan juga adik kelasnya ia tanggapi dengan senyum ramah.

Tiba-tiba ada yang merangkulnya dari belakang, Rania yang terkejut langsung menoleh.

"Ah elu mah ngagetin mulu" Gerutunya.

"Ehehe gapapa lah yang, ini kan sapaan sayang gue buat lo" Jawab Fikri cengegesan.

Rania memutar bola matanya tapi tetap membiarkan Fikri merangkulnya sampai dikelas.

"Duduk sama gue lagi ya yang? " Tanya Fikri.

"Engga deh gue pengen duduk sama Yanto, tugas gue belum selesai" Sahut Rania, Fikri mengangkat bahu lalu mereka berjalan ke meja masing-masing.

Tak lama bel tanda masuk berbunyi, guru pengajar pun datang dan belajar mengajar berjalan seperti biasa.

"Yan cape" Rengek Rania.
Yanto menoleh jijik padanya lalu memukul kepala Rania dengan pensil, Rania mengeluh sakit.

"Selesain dulu ini, baru ngeluh capek! " Ucap Yanto gemas.

Rania mendengus kesal lalu kembali menyalin tugas ke bukunya.

"Yang, kemarin malem kok chat gue ga dibales? " Tanya Yanto tiba-tiba.

Rania menghentikan aktivitas nya lalu menatap Yanto intens.

"Lo kenapa natap gue gitu jamilah" Keluh Yanto

"Tumben lo nanyain kenapa chat lo ga gue bales? Mulai suka gue lo ya" Goda Rania.

Yanto mengangkat bahu "emang gue suka elo kan".

Rania diam, " Semalem gue streamingnya drakor. "

"Ohh ga lagi chat an sama yang lain kan? " Tanya Yanto lagi.

"Yang lain siapa? "

"Ya pacar loh lah, siapa lagi? Lo punya pacar lagi? " Tanya Yanto agak ngegas.

"Lah lo kan pacar gue Yan, bego bet"

"Pacar lo kan ga cuma gue anjim"

Rania terkekeh geli "engga kok, gue streaming drakor semalem ga chat an sama siapa-siapa. "

"Ga telponan juga? "

Rania terdiam sesaat, lalu mengangguk.

Yanto mengangguk pelan,
"tapi kok kemarin di panggilan lain?" Tanyanya.

Rania diam.

Yanto menghembuskan nafas pelan,
"lo tau kan gue sayang lo Ran, gue lebih suka kalo lo jujur sama gue. " Ucap Yanto.

Rania langsung merasa tak enak hati.
"Yan" Panggil Rania pelan.

Yanto tersenyum lembut padanya. Lalu mengusap rambutnya " Udah gapapa kok, lain kali jujur aja ya, gue pasti bakal ngerti"

"Iya" Jawab Rania pelan.



-

boyfriendWhere stories live. Discover now