Hari sudah berganti senja, ruang kelas yang tadinya ramai kini telah sepi dan menyisakan beberapa siswa.
Termasuk seorang pemuda yang sedang asik dengan ponsel pintarnya duduk di bangku paling bekang.
"Ck. Sial." Desisnya saat kesal.
"Udah sampe final stege? Lo pake senjata apa sih, tau-tau udah final aja?" Tanya temannya yang kini berdiri disebelahnya dan menonton.
"Lo aja yang kurang pinter."
Kesal dengan kekalahannya, pemuda itu memasukan ponsel pintarnya dan berdiri dari bangkunya.
Pemuda itu berjalan menghiraukan sumpah serapah dari temannya. Ia kesal karena harus kembali mengulang permainan itu dari awal lagi padahal tinggal sedikit lagi ia mendapat peringkat tertinggi.
Setidaknya ia bisa bermain game semalaman karena orangtuanya sedang keluar kota dan besok adalah hari libur.
"Sat! Gue ada game baru. Mumpung besok libur, ada bagusnya kalo kita mainin bareng!"
Pemuda itu sedikit menimbang ajakan Aldi Nugraha alias Ali teman sejak kecilnya.
Satria, pemuda itu kemudian mengiyakan ajakannya mumpung rumahnya sedang sepi.
"Lo bawa gemenya ke rumah gue." Katanya kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan Ali keluar kelas lebih dulu.
Satria Angga Purnama, merupakan seorang pelajar tingkat akhir sekolah mengah atas. Ia bukan murid yang pintar tapi juga bukan murid yang urakan.
Satria memandang langit-langit kamarnya. Pulang sekolah adalah saat yang tepat untuk rebahan.
Menghilangkan sedikit penat dan pusing dengan pelajaran segudang dari sekolahnya.
Rasanya sudah lama sekali rumah ini kosong dan hanya dirinya seorang tinggal di sana. Ayah angkat dan ibunya selalu sibuk dengan bisnis yang mengharuskan mereka pergi keluar kota dengan waktu tak menentu.
Kakak perempuannya adalah seorang peneliti. Ia berada jauh di ibu kota dan hanya pulang saat hari-hari tertentu, itu pun hanya sebentar.
Walau saat pelajaran Satria terlihat malas, tapi ia selalu mendapat nilai yang tidak bisa dibilang buruk. Ia melampiaskan rasa sepinya dengan bermain game untuk mengisi hari-harinya yang membosankan.
From Ali :
Sat, gue udah di depan. 19.15
Pintunya gak lo kunci kan? 19.15
Woi 19.15
Satria pun keluar kamar untuk membukankan pintu temannya itu. Ia sebenarnya sedikit bingung bagaimana ia bisa menemukan orang sejenis Ali, pemuda crewet yang kini menjadi temannya dari dulu hingga kini.
Dengan malas ia membuka pintu rumahnya dan melihat pemuda yang kini memakai kaos hitam membawa sebuah kantong plastik.
"Mana gamenya?"
"Baru aja nyampe langsung ditodong." Ujar Ali kesal.
Satria diam dan membawa temannya itu ke ruang tengah untuk memainkan game yang dikatakan Ali.
Ali sudah paham dengan kondisi temannya yang selalu sendirian dirumah yang lumayan luas, menurutnya. Ia juga paham jika selalu ada orang yang datang membersikan rumah karena ia tahu watak temannya itu.
Juga permulaan Satria menjadi pecandu video game.
"Lo dateng jam segini sekalian biar bisa nebeng makan, modal dikit napa?"
"Gue udah bawain cemilan. Kurang baik apa gue?" Kilahnya.
Ali makan di rumah Satria itu hal biasa. Terutama jika kakak perempuan Satria ada di rumah pasti ia dijamu dengan makanan enak.
YOU ARE READING
Dimension (Revisi)
FantasySatria dan Ali tiba-tiba tertarik masuk kedalam sebuah game yang akan mereka mainkan bersama. "Bagaimana cara kami kembali ke dunia kami?" -Ali "Kalian harus mengalahkan Ratu dan gerbang penghubung dimensi akan terbuka." -Agni "Lagian ini juga sala...
