01. Not guessed

159 22 79
                                        

Sebelumnya kuucapkan terimakasih karena telah berkunjung dan menyempatkan waktu untuk mengenang memori bersamaku. Semoga kamu tidak memiliki keingintahuan yang tinggi perihal siapa aku dan keberadaanku.

Baca saja, nikmati segala prosesnya, maka kamu akan menemukanku dalam ruang kosong yang kelabu. Sendirian diterpa kehampaan yang tak pernah berujung.

── ( ♡ ) ──

"Selamat pagiiii buuuu!!"

Argh, sial.

Sepertinya aku terlambat. Atau memang aku mendapat kutukan dari para pendahulu? Seolah ada saja hari dimana aku terlambat. Sedari menduduki bangku Taman Kanak-kanak aku memang selalu mendapat cap sebagai siswa yang sering terlambat.

Sudah, itu tidak penting.

Lebih baik aku menenangkan napasku yang masih tersengal dan segera memasuki kelas baruku. Padahal hari ini merupakan hari pertama aku memasuki masa putih abu-abu. Masa dimana, kata orang menyimpan sejuta kisah tak terduga.

Selang beberapa saat aku mulai melangkah kembali. Berjalan mendekati ambang pintu dengan jantung yang berdebar hebat. Sial, bisa-bisa aku terkena penyakit jantung mendadak karena hal ini. Kemudian tanganku yang gemetar mulai mengetuk pintu kelas. Membuat seisi kelas menaruh perhatian padaku. Menciptakan keheningan mendadak yang justru membuat bulu kudukku berdiri.

"Kamu? Terlambat?" Pertanyaan singkat dengan nada dingin itu membuatku mengangguk pelan dan mulai memasuki area kelas. "Maaf, Bu, saya terlambat karena──"

"Hari pertama saja sudah terlambat, apa masih ada hari esok agar kamu tidak terlambat?" Beliau berujar sarkas.

Tatapan dingin dengan wajah datarnya membuatku benar-benar merasa terintimidasi. Belum lagi puluhan pasang mata yang menatapku dengan beraneka ragam. Sampai akhirnya guru berusia matang tersebut mengusirku.

"Sudah sana. Membuang waktu berharga saya saja. Bangku hanya tersisa satu, di pojok sana. Bersama laki-laki itu." Guru tersebut menunjukkan dengan jari telunjuknya.

"Cie, ciee!!"

"Uhuyy!"

"Mantep, hari pertama langsung dapet kenalan cowo!"

"Gas ini mah kalo tanda tanda jadian!"

Tiba-tiba keadaan kelas menjadi tidak kondusif. Sorak riuh rendah serta tepukan dan siulan silih berganti. Menciptakan suasana yang mulai mencair. Namun justru membuat guru di sampingku naik darah.

Brak! Brak! Brak!

"Apa-apaan ini?! Kalian pikir saya sedang mengisi jam olahraga sehingga kalian dengan bebasnya bersorak?!" Kesalnya selepas memukul beberapa kali pada meja.

Aku kasihan dengan mejanya.

"Sudah, sana!" Beliau kembali berujar, kemudian mulai mendorong punggungku meski dengan gestur pelan, seolah mengisyaratkan agar aku cepat-cepat menghilang dari pandangannya.

Tanpa menjawab, aku mengangguk sopan serta menarik sudut bibirku segaris. Lalu mulai melangkah kembali, menuju meja yang terletak di sudut kelas. Dan harus memiliki muka tebal lantaran beberapa siswa masih menggodaku meski dengan nada pelan.

Sesampainya aku mulai meletakkan tas berwarna hitam dengan gradasi merah dan putih pada kursi dan mengambil posisi duduk. Kemudian atmosfer canggung menyelimutiku. Ini kali pertama aku memasuki sekolah menengah atas, dan harus mendapat teman sebangku yang sialnya adalah lawan jenisku.

4. For G ✓Stories to obsess over. Discover now