Rasa yang Terlontar Dari Relung

21 6 0
                                        

Kala ditiup atma oleh Sang Pencipta, lara mulai mengintip dibalik tirai.
Menapak di bumantara sedari warsa dua ribu lima.
Digurat pula sudah takdir yang seharusnya.

Angkat kepala, tarik langkah.
Suka dirasa, lara pun dikecap.
Suatu waktu berseru dalam benak,
"Siapa gerangan aku yang sebenarnya?"

Kembali ke pangkuan sempat jadi kehendak,
Sampai-sampai abai dengan tugas dunia
Segala lara menumpuk jadi sesak
Hampir buatku mati tersedak.

Siapa aku?
Mengapa aku diberi kepercayaan hidup di bentala?
Kala rasa-rasanya raga dan atma tak ada gunanya.

Sempat berpikir kembali ke pangkuan
Namun berat hati meninggalkan yang tersayang.
Kembali lagi wanodya ke jalan bertapak
Menyusuri hidup yang panjang kisahnya.

Kini sudah terpatri senyum pada durja
Berusaha kuat diantara semua tekanan
Berpegang teguh pada kepercayaan
Bahwasanya akan kuat menghadapinya.

Inilah aku, sang wanodya pecinta aksara
Berjuang demi menggapai bintang angkasa
Buat senyum terlukis pada durja yang tersayang,
Merupakan hal yang diimpikan.

Tak lagi acuh dengan lidah tajam makhluk fana
Tak lagi peduli dengan hujat yang terlontar keras
Inilah aku sang wanodya pecinta aksara.
Yang hendak menghadapi dunia fana, dengan semua yang digenggam erat.

Akulah wanodya pecinta aksara.

Pelita di Atas Kaki DianStories to obsess over. Discover now