We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Doa 1

1 0 0
                                        

Brukk
Bangku jatuh terdengar
Seketika seisi kelas menoleh kepada Fian. Bukan pertama kali Fian tertidur di kelasnya. Tak peduli kuliah malam, kuliah siang, bahkan pagi matanya selalu sayu dan menyedihkan. Tertoleh kepala Riani di depannya.

'Cuk!'

'Wah parah, di kelas Pak Bargumono berani tidur. Ck ck ck'

'Semalam begadang jaga warnet, lagi full...'

Pak Bargumono adalah salah satu tipikal dosen yang menjadi bahan omongan mahasiswa. Bagaimana tidak, dengan perutnya yang tambun, wajahnya yang murung sampai aturan ketat yang bikin mahasiswa geleng-geleng kepala. Disiplin, Patuh dan Rapi.

Ini adalah sebuah kisah dari seorang pemuda bernama Fian. Jauh dari kata sempurna bila dideskripsikan. Tubuhnya kurus, tingginya hanya 160 cm, dan tampilannya lusuh bila dipandang sekilas. Satu yang membuat orang lain iri padanya. Ia berani. Berani ber-ide dan berpendapat. Banyak orang bisa berpikir luas dengan ide hebat. Tapi, tidak banyak yang berani mengutarakannya.

Pagi itu, udara Jogja terasa panas. 36°C terlihat dari aplikasi cuaca smartphone. Fian berjalan gontai menuju kantin untuk memberi makan cacing-cacing di ususnya.

'Mbok, pecel satu ya. Sekalian sama kerupuk peyek-nya'

'Tunggu sebentar, ya mas...'

Kantin 14 x 10 m terlihat cukup ramai. Tidak cukup luas untuk menampung 300 mahasiswa jurusan secara keseluruhan. Beratapkan plafon putih dengan lubang di pojok kanan setelah bergelut dengan air hujan. Dilengkapi dengan bangku panjang yang bisa muat 3 orang bersamaan. Sekitar 15 bangku ditata berhadap-hadapan. Fian meletakkan tubuhnya di atas bangku pojok dekat warung Mbok Sumi yang terkenal dengan pecel kawi nya.

'Ini mas nasi pecelnya. Oh, iya tadi pesen minum apa ya?'

'Air putih aja mbok. Hehe'

'Nggih, mas'

Diseberang kantin nampak batang hidung Kevin. Sahabat Fian di tanah perantauan. Mereka berasal dari kota yang sama, Kota Apel.

'Vin, sini. Nggak lapar kamu?'

'Ah, lagi kurus dompetku. Aku makan siang nanti saja sekalian...'

'Pesan saja, aku yang bayar...'

'Wah, yang benar? Oke aku pesan soto ya? Hehe'

'Ya, sana...' 

Budaya traktir adalah budaya yang banyak dipakai mahasiswa rantau. Seringkali satu mahasiswa dengan lainnya memiliki dinamika finansial yang tak dapat ditebak. Alhasil, mereka bergantian menyangga kehidupan satu sama lain dengan meminjami uang untuk makan.

Ponsel Fian bergetar. Ini adalah kali ke lima muncul notifikasi tersebut. Pengirimnya ialah seorang pria paruh baya yang biasa ia sebut sebagai Mbah Kun. Pesan yang ia kirim singkat saja

SEGERA TRANSFER UANG BULAN INI.

Mbah Kun adalah seorang penampung anak-anak terlantar di kota asalnya. Hingga mencapai umur 15 tahun setara SMA. Barulah ia menggandeng anak asuhnya ke parit penuh pekerja untuk mengirimkannya emas. Ia mewajibkan mereka bekerja dengan kalimat ancaman, Aku yang mengasuhmu.

Eksploitasi memang marak terjadi di dunia gelap. Banyak yang tahu, namun banyak pula yang bungkam. Di kasus ini, Mbah Kun adalah seorang pendiri Koperasi Simpan-Pinjam yang disegani. Sekali saja kau berurusan dengannya. Tamat riwayatmu saat isi dompetmu terperosok, jatuh.

Fian adalah salah satu anak asuh Mbah Kun yang paling disayangi. Alasannya klasik. Ia cerdas. Sejak SMA ia diterima di toko Kelontong milik keluarga A Kiong seberang pabrik gula. Toko ini terkenal dengan sebutan, Toko Serba Ada. Sebelum ia bekerja disana, Fian pernah memberi solusi atas problem nya. Dagangan makanan ringannya tidak laku sehingga stoknya menumpuk. Padahal, rasanya cukup enak.

'Ko, jajan yang kemarin dimana ya?'

'Jajan yang mana?'

'Jajan Momo, yang bungkusnya warna hijau pandan.'

'Oh itu, sebentar...'

'Ini kan?'

'Nah iya bener, kenapa ada di belakang ko jajannya?'

'Haiyaa, jajan ini nggak laku. Mungkin besok di stop stoknya.'

'Yahhh, jangan di stop dong. Aku masih mau beli.'

'Yaudah ini ambil aja tiga...'

'Wah makasih, Ko'

'Hmm, iya...'

'Kenapa jajan yang ini nggak digantung disini juga, Ko?'

'Itu merk baru, nggak ada yang mau la'

'Coba dua hari semua stoknya digantung sini, Ko. Sekalian ditaruh di baki atas etalase sini. Jajan lama agak dibelakang. Udah pada sering beli yang ini, ditaruh mana aja pasti laku.'

'Hmm, bisa-bisa. Nanti biar Supri yang tata.'

Esoknya setelah pulang dari sekolah, Fian bergegas ke warung A Kiong.

'Loh, kok jajan Momo-nya di taruh belakang lagi?'

'Ditaruh belakang mana la, udah habis yang ada.'

'Cepet banget habisnya'

'Jajannya enak, orang pada suka. Makasih ya buat sarannya kemarin. Ini ada Hok Lo Pan buat kamu.'

'Wah baunya enak. Makasih ya Ko. Hehehe'

'Nanti dibagi ya sama temen-temen di panti...'

'Siap, Ko'

Jadilah saat Fian melamar kerja di toko A Kiong, tanpa pikir panjang ia langsung diterima. Ada banyak jasa Fian di Toko A Kiong. Masalah hitungan, sampai barang yang hilang bisa diatasi oleh Fian dengan bantuan karyawan lawas A Kiong.

Hari ini, Fian terdiam. Ia mulai merasakan bahwa Mbah Kun mulai menyedot intisari kehidupannya. Bertolak ke tanah perantauan agaknya masih belum menjauhkannya dari pengaruh Mbah Kun.

Apalagi saat ia tahu siapa ia sebenarnya dan siapa orang tua kandungnya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Sep 20, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Biru dan KelabuStories to obsess over. Discover now