Bab 1: Der erste

142 15 9
                                        

Begitu Xie Lian merangkul pundak kokoh Hua Cheng, dalam sekejap wujud pria tampan berbaju merah itu memecah menjadi ratusan kupu kupu perak yang berkilauan, terbang menjauh dan lenyap, meninggalkan Xie Lian yang diam terpaku. Berteriak dan menangisi pria itu hingga tenggorokannya terasa kering dan serak.

***

7 maret 2010, *Rudesheim am Rhein, sebuah kota indah di Rhine Gorge, Jerman. Kota yang setiap tahun selalu menarik perhatian banyak orang untuk berkunjung. Keindahan sungai Rhine dan kotanya yang dipenuhi kebun anggur cantik pandangan dibalik kelopak mata tertegun dengan haru mempesona.

*[Rüdesheim am Rhein adalah sebuah kota pembuatan arak di Rhine Gorge dan merupakan bagian dari Situs Warisan Dunia UNESCO.
Kota tersebut berada dalam distrik Rheingau-Taunus-Kreis di Regierungsbezirk Darmstadt di Hesse, Jerman.]

Tak jauh dari pusat kota, disudut kota tepatnya tampak berdiri kokoh bangunan kecil yang dihiasi begitu banyak tanaman *Geranien yang subur. Bangunan bercat serba putih dengan desain klasik dan bertuliskan *Enherzglas Florist adalah toko bunga yang sekaligus juga merupakan rumah bagi pemiliknya.

[*Geranien adalah bunga khas Jerman. Bunga yang biasa diletakkan di balon rumah-rumah tradisional di Jerman, Austria dan Italia (perbatasan)]


Pagi itu sekelebat sosok dengan berpakaian putih rapi keluar dan menuju garasi disamping untuk meraih sepeda yang akan dia pergunakan untuk mengantarnya pergi. Pria dengan wajah chinesenya yang anggun dan cantik itu selalu melontarkan senyuman yang manis saat dia berpapasan dengan orang sekitar yang melihatnya.

Sembari mengayuh sepeda yang ditungganginya, dia berhenti disebuah toko buku. Tampak seseorang dengan berpakaian baju bergaya china dengan aksen klasik pada motif bajunya membukakan pintu dan kemudian menyapanya.

"Ah selamat datang Xie Lian, mencari buku untuk hari pertama masuk kerja?" Ucap orang tersebut pada pemuda yang dipanggilnya Xie Lian.
"Hm, paman aku butuh buku tentang Glaube an die Götter, Die Schulden der Götter. Apa ada?"
"Tunggulah disana, aku akan mencarinya di rak bagian belakang." Tukas pria separuh baya mempersilakan Xie Lian duduk.
"Terima kasih paman." Sembari duduk dan mengambil sebuah buku dengan sampul coklat tua yang kusam diatas meja. Xie Lian membuka halaman depan, terdapat sebuah tulisan pena yang bertuliskan aksara kuno china - Percayalah bahwa ribuan kali manusia bereinkarnasi, benang merahnya takkan terpisah pada pemiliknya -
Seketika Xie Lian terpaku diam memahami tulisan pena dibuku kusam yang dibukanya. Dia seolah penasaran siapa yang menulis buku kusam ini. Tidak ada satu pun nama penulis yang tertera disana. Buku itu benar-benar ditulis tangan. Tidak berapa lama sang pemilik toko, pria paruh baya itu menghampirinya.
"Xie Lian, ini buku yang kau cari." Menyerahkan buku bersampul biru malam ke Xie Lian. Xie Lian beranjak dari duduknya.
"Hmm, ah paman....apa aku boleh bertanya sesuatu?"
"Ya silakan."
"Apa paman tahu, siapa yang menulis buku tua ini? Aku tidak melihat ada nama penulisnya bahkan buku ini benar-benar ditulis tangan. Apa boleh aku membelinya?"
"Buku itu....??!!! Maaf Xie Lian, buku itu tidak dijual. Itu buku peninggalan keluarga paman sudah turun temurun. Buku itu berusia 800 tahun." Sahut Sang Pemilik toko dengan ragu.
"800 tahun???" Sontak Xie Lian seperti memikirkan sesuatu. Dia terdiam seketika. Termenung sembari menatap buku yang sangat tua itu.
"Xie Lian? Nak Xie Lian???"
"Ahhh, Eh Paman, maaf...apa aku boleh meminjamnya?"
"Tunggu, kau bisa membaca aksara kuno?"
"Tentu saja paman. Kita kan sama-sama orang Asia yang tinggal lama disini...."
"Kupikir anak muda sepertimu tidak akan memahami tulisan kuno seperti itu." Potong si pemilik toko.
"Meskipun aku tinggal telah memilih tinggal di negara ini sekarang, tapi aku tidak pernah lupa untuk mempelajari budaya lama kampung halamanku." Ucap Xie Lian dengan melempar senyum.
"Baiklah anak muda, kau boleh meminjam buku itu. Jika sudah selesai membacanya kau bisa mengembalikan." Balas si pemilik Toko dengan senyum.
"Terima kasih Paman Guang." Xie Lian membungkuk memberikan salam, "Kalau begitu saya permisi."
"Oh iya ini hari pertamamu bekerja kan, semangat! Semoga hari pertamamu lancar."
"Sekali lagi terima kasih paman." Xie Lian membuka pintu dan keluar menuju parkiran sepeda, kembali mengayuh sepedanya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Nov 30, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Die rote Schnur der Taube (HuaLian FF)Stories to obsess over. Discover now