Abbiamo aggiornato le nostre Linee Guida sul Contenuto.
Consulta le linee guida più recenti per continuare a condividere storie in sicurezza.

Jangan Sakiti Aku, Ayah

4 0 0
                                        



Aku menatap pria separuh baya yang mengenakan kemeja putih itu. Ia terlihat begitu lemah tak berdaya. Wajahnya tertunduk lesu dan bulir air mata mengalir di ujung matanya yang mulai berkerut. Dadanya naik turun seperti tak tahan menanggung semua yang terjadi dalam hidupnya dan pada akhirnya berujung pada kata "HUKUMAN MATI." Dua orang petugas pengadilan menuntunnya keluar ruang sidang ketika tiba-tiba ia berbalik dan berteriak, "BUKAN AKU PELAKUNYA!" . Lalu kejadian berikutnya berlangsung sangat cepat. Pria itu dibekuk, ruang sidang riuh dan keluarga korban yang tadi turut menghadiri jalannya peradilan histeris. Aku menutup mata dan telingaku, merasakan apa yang berkecamuk dalam hati. Entah rasa apa ini? Sedih? Kecewa? Atau apa?. "Ayah, aku harus bagaimana?" jeritku dalam hati.

****

Namaku adalah Kenanga, seorang gadis berusia delapan belas tahun. Aku terlahir sebagai anak tunggal. Apabila kata orang anak tunggal dikenal manja, tidak demikian denganku. Ayahku telah meninggal ketika aku masih balita. Jadi aku dibesarkan oleh Ibuku yang bekerja sebagai seorang guru honorer di taman kanak-kanak. Untuk menambah penghasilan serta mencukupi kebutuhan kami, Ibu juga memberikan jasa les privat bagi anak sekolah dasar di sore atau malam hari dan menerima pekerjaan cuci gosok pada hari liburnya. Ibuku adalah wanita yang berusaha keras untuk tidak merepotkan keluarga besar. Ia lebih baik membanting tulang siang malam dibanding menerima uluran tangan saudara.

Seperti yang tadi kubilang, walaupun seorang anak tunggal, aku bukanlah anak manja. Terbiasa ditinggal Ibu bekerja sedari kecil, aku tumbuh menjadi gadis yang mandiri. Semua pekerjaan rumah tangga mulai dari membereskan rumah, mencuci baju hingga memasak kerap aku lakukan di samping kegiatan sekolah. Beruntung aku memiliki otak yang lumayan cemerlang. Walau disibukkan dengan pekerjaan rumah, nilaiku di sekolah selalu bagus. Namaku dikenal sebagai salah seorang siswi yang berprestasi dalam bidang akademik. Namun, dalam pergaulan tidaklah demikian. Aku adalah pribadi yang pendiam dan tertutup. Bila remaja seusiaku lebih menyukai menghabiskan waktu bersosialisasi dengan teman, aku lebih memilih langsung pulang ke rumah. Tak jarang teman-teman sekolah mengajakku untuk bermain bersama, tapi selalu kutolak dengan halus. Pikiranku langsung melayang ke rumah yang belum disapu, cucian yang belum diangkat lalu kamarku yang setia menanti tumpukan buku detektif kegemaranku. Belum lagi, aku harus menyiapkan makan malam untukku dan Ibuku.

Aku tak suka melihat Ibu pulang dalam keadaan letih dan kelaparan. Seperti bunga yang layu saja. Aku hanya memerlukan satu hal dari Ibuku, senyumannya. Senyumannya begitu manis, sehingga mampu membuatku melupakan jarak antara kami. Maka, setiap ia pulang kerja, aku memastikan rumah sudah dalam kondisi rapi dan makanan sudah terhidang di meja. Biasanya, Ibuku akan mandi dulu lalu memanggilku untuk makan bersama. Tak ada yang kami bicarakan ketika saat seperti itu. Kami hanya makan dalam diam dan menikmati hidangan. Setelahnya, ia akan berdiri, tersenyum padaku dan membereskan piring-piring kotor. Tugaskupun selesai.

Tapi hari itu ada yang berbeda. Setelah kami selesai makan, ia tak langsung bangkit berdiri melainkan menatapku dengan gugup. "Kenanga," katanya lembut. Aku melihat ke arahnya. Jelas ia nampak salah tingkah. Aku menunggunya untuk melanjutkan kalimat. "Ehm...begini, Nak. Kita kan' sudah hidup berdua selama bertahun-tahun sejak ayahmu meninggal. Kita pun sama-sama tahu bahwa kondisi yang kita hadapi tidak dapat dikatakan mudah. Jadi...ehm..."lanjutnya terbata-bata. Aku tetap diam mendengarkan dengan seksama. Ibu menarik nafas dan menghembuskan dengan berat. "Kenanga, bagaimana kalau Ibu menikah lagi? Apakah kamu keberatan, Sayang?" tanyanya kepadaku perlahan. Aku mencerna kalimat Ibuku yang terakhir. Menikah lagi? Berarti ada orang lain yang berperan sebagai pengganti ayahku? Berarti ada orang lain yang masuk di antara kami? Ibu mendekatiku, paham atas kegalauan yang melandaku. "Kamu tak harus setuju, Nak. Bila Kenanga tidak ingin Ibu menikah lagi, maka Ibu akan menolak lamaran Pak Pram," katanya. Aku memperhatikan wajahnya yang cemas menunggu jawabanku. Jelas ia menyelipkan harap bahwa aku akan menyetujui keinginannya. Walau pendiam begini, aku sangat paham sifat Ibuku. Ibuku yang tidak enakan, ibuku yang berhati lembut dan ibuku yang selalu berusaha tegar serta menyibukkan diri meskipun sebenarnya rapuh dan perlu seseorang yang setia mendampinginya. Kuselami lagi wajah itu. Ibuku masih muda, umurnya masih belum terlalu tua tapi wanita berparas ayu itu penuh luka. Luka yang tak terlihat dan hanya bisa dirasakan. Luka atas jatuh bangunnya bertahun-tahun mencoba dan berjuang membesarkanku. Maka mungkin ini memang saatnya bagiku untuk merubah senyumnya menjadi tawa.

Hai finito le parti pubblicate.

⏰ Ultimo aggiornamento: Sep 12, 2020 ⏰

Aggiungi questa storia alla tua Biblioteca per ricevere una notifica quando verrà pubblicata la prossima parte!

Jangan Sakiti Aku AyahLa tua prossima ossessione. Scoprilo ora