Awan mendung menyelimuti langit sore ini. Membuat suasana sedikit berbeda. Hawa dingin menerobos celah-celah rumah lama yang kutempati. Kaca nako yang sudah usang ini sulit kututup rapat, memberikan jalan pada angin untuk masuk.
Aku yang hanya mengenakan kaos hitam lengan pendek pun merasa kedinginan. Berulang kali mengusap lengan dan memeluk diri. Padahal belum lama ruangan ini terasa panas. Sang surya bahkan masih menunjukkan diri tadi.
Melirik jam dinding. Jarum jam tepat menunjukkan angka empat. Rupanya belum terlalu sore. Biasanya, aku masih melihat anak-anak bermain di depan rumahku.
Di depan rumah ini ada kebun yang cukup luas. Sebagian lahannya sengaja di kosongkan untuk tempat bermain dan jalan setapak. Banyak yang mengatakkan kebun ini angker, namun aku tak begitu peduli. Anak-anak yang bermain aman-aman saja, berarti mereka tak mengganggu.
"Hmm, kenapa hawa terasa semakin dingin?" Mendekap tubuh dan mengusap tengkuk. Angin terasa menggelitik kulit sawo matangku. Kulangkahkan kaki menapaki lantai putih. Bahkan lantai terasa membekukan telapak kakiku.
Drep! Drep!
Listrik padam kala aku memasuki kamar. Bagus, suasana semakin menakutkan. Menghembuskan napas kencang dengan wajah pasrah. Aku benar-benar membenci suasana ini.
Tangan meraba-raba lemari yang berada di samping kiri pintu. Terus berjalan. Netra coklat ini kuedarkan dengan degup jantung tak karuan. Gelap. Hanya itu yang terlihat. Berharap tak ada mereka di sini.
Tangan kumajukan. Meraih pintu lemari kayu jati yang sudah dipenuhi lubang. Terbayang berapa umur lemari ini? Tak usah mengira, cukup katakan saja 'tua'.
Kembali tangan meraba. Mencari keberadaan switer rajut satu-satunya yang kumiliki. Percayalah, ini bukan hal mudah. Mencari pakaian berwarna abu-abu di ruang gelap terasa seperti uji nyali.
Sesekali kumenengok ke belakang. Takut-takut dia datang. Jangan bertanya siapa dia. Cukup bayangkan saja.
Tangan membentang dengan isi perut diperlihatkan. Wajah mengerikan tersenyum lebar sampai mata. Pupil kiri itu menggantung, memperlihatkan darah bercampur lendir. Kuku-kuku yang begitu panjang sampai menyentuh lantai. Menakutkan.
Astaga, kenapa aku memikirkannya? Jangan sampai dia terpanggil. Keringat dingin mulai mengucur. Kucari switer dengan terburu-buru, masa bodoh tentang kerapihan.
Akhirnya benda yang kucari sudah di tangan. Dengan tergesa-gesa aku berjalan kearah pintu.
Tuk!
"Aish." Kepalaku terantuk daun pintu. Memegangi kepala yang terasa sedikit pusing. Tangan kiri kumajukan agar tidak menabrak apapun lagi. Pintu terasa begitu jauh saat gelap.
"Suara apa tadi?" tanya ibuku yang berjalan dari arah dapur. Ditangannya terdapat nampan berisi dua gelas teh hangat dan makanan ringan. Ibu tahu saja aku tengah kedinginan.
"Bukan apa-apa, Bu," jawabku sembari memakai switer. Duduk dan menyeruput teh yang sudah ibu siapkan. Teh ini terasa sedikit berbeda, namun aku suka. Kuangkat kaki menaiki kursi, tak mampu menginjak lantai yang dingin ini.
Kami pun mengobrol, berbagi cerita dan bersenda gurau. Ternyata, suasana ini tak begitu buruk. Ruang tamu yang tengah kutempati mulai terasa hangat. Kulihat kaca besar di depanku. Sengaja tak kututup agar sedikit cahaya masuk.
"Sepertinya, hujan akan reda," ucapku lalu kembali menggigit nastar. Saat mata kembali menatap kaca. Dapat kulihat dua orang berjalan menembus hujan yang kembali besar. Cuaca kali ini benar-benar sulit di tebak.
"Akh!" Suara teriakan perempuan mengagetkanku. Sepertinya berasal dari ujung jalan setapak yang berada di sebelah selatan. Jalan itu juga yang tengah dilewati dua orang tadi.
Kulirik ibuku yang tengah meminum teh dengan tenang. Seolah tak mendengar teriakan tadi. "Dengar tidak, Bu?" Ibu menaikan alis tanda ia tak tahu apa yang kubahas. Suara hujan yang kencang memendam suaraku yang memang rendah.
"Suara teriakan tadi, Ibu dengar tidak!" Sedikit berteriak, maafkan aku, Bu. Ibu hanya tersenyum. Mungkin ia salah dengar. Kuputuskan untuk mencari tahu sendiri.
Berjalan kearah teriakan tadi berasal dengan payung hitam. Ternyata sudah banyak orang berkerumun. Orang tadi kesurupan, itu yang kudengar dari obrolan tetangga. Kuperhatikan semua wajah, merasa ada yang janggal. Dimana orang yang berjalan dibelakangnya tadi?
"Mbak, tadi saya liat mbak juga jalan ke arah sini 'kan?" tanyaku memastikan. Semoga saja apa yang kupikirkan salah.
"Iya, Neng. Tadi saya juga sempet papasan sama dia, trus gak lama dia teriak dan kesurupan gini," jawabnya dengan raut takut yang ditutup-tutupi.
"Iya, tapi tadi dibelakangnya ada laki-laki 'kan?" Kembali bertanya sambil mempersiapkan diri. Sepertinya aku tahu dia akan menjawab apa.
"Ah, Neng jangan bercanda. Bikin saya takut aja." Tawa mengiringi jawabannya. Aku tahu dia tengah ketakutan. Akupun ikut tertawa agar ia tak ketakutan lagi. Biar saja dia menganggapku bergurau.
Kembali memasuki rumah sembari memikirkan kejadian tadi. Bau aneh menusuk indra penciumanku. Mencoba untuk tak peduli dan mencari ibu yang sudah tak di ruang tamu. Aku membutuhkan pelukannya untuk menetralkan detak jantung ini.
Menuju kamar tengah. Listrik kembali menyala. Untunglah tidak sampai malam. Kulihat ibu yang mengerjabkan mata, seperti baru bangun tidur.
"Hujan sudah reda, Nak? Tumben kamu tidak teriak-teriak, sepertinya mereka bosan mengganggumu," tutur ibu sembari mengucek mata. Ibu benar-benar baru bangun tidur, lalu tadi siapa?
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Kira-kira siapa, ya? Lalu tadi apa yang diminumnya? Berikan jawaban sesuai yang kau mau.
Sebagian cerita ini kisah nyata. Ada yang bilang laki-laki itu tetanggaku yang baru saja meninggal. Semasa hidup ia memang tidak menyukai perempuan itu.
YOU ARE READING
Cerpen Random
Randomhanya kumpulan cerpen ampas dari beberapa genre. Diselipkan beberapa puisi yang bisa di copas sesuka hati, tak masalah meski kalian mempostingnya tanpa menyematkan sumber. Anggap saja itu curahan hati kalian. Beberapa cerita kuambil dari kisah nyata...
