Saya tidak tahu harus memulainya dari mana. Karena terakhir perjalanan hidup saya hanyalah seorang bajingan yang membuat seseorang harus kehilangan hidupnya. Bukan maksud saya begitu, hanya saja kami kala itu masih sama-sama muda. Yang terlintas di benak saya, tidak apa melakukannya selama saya pikir saya benar-benar bisa bertanggung jawab untuknya.
Justru itu awal mulai saya harusnya ragu pada diri saya sendiri. Sebuah kesalahan dan penyesalan memang terkadang menjadi teman yang manis. Kalau tidak ada penyesalahan, maka kesalahan pun tak akan pernah saya lakukan. Itu masa lalu kelam yang menjadi kenangan pahit, semakin pahit sebab itu kedua kalinya saya masih bertindak layak bajingan. Sangat lebih lebih rendah dari sampah jalanan.
Sudah lima tahun lebih terlewati. Masa muda saya yang berlika-liku saya lewati dengan berbagai macam drama kehidupan. Sekolah saya tetap lancar, meski harus pindah keluar negeri dan balik lagi setelah menyelesaikan sekalian pendidikan double degree akselerasi kurang lebih 2 sampai 3 tahun. Begitu cepat, nyaris saya sendiri tidak menyangka di usia saya ke dua puluh tiga tahun, saya sudah menjadi double sarjana. Dari sana saya langsung bekerja sesuai dengan apa yang saya bisa.
Tidak mungkin setelah lulus saya menganggur. Saya tidak hidup sendiri, ada satu orang yang saya tanggung hidupnya. Sampai selamanya, itu mutlak. Sebuah kesalahan yang berujung sebagai kado terindah dari Tuhan. Anak saya. Dia lahir berjenis kelamin laki-laki, rupanya sangat sempurna—perpaduan Bundanya sangat kental. Semakin besar, dia tumbuh semakin seperti Bundanya. Wajah mereka setengah persis, setengahnya lagi mewarisi dari saya.
Kalau kalian bertanya tentang Bundanya. Saya tidak akan menjawab. Saya tidak ingin mengingat sebuah luka lama yang telah lama mengering. Biarlah luka itu menjadi rahasia dan aib untuk diri saya sendiri. Catat, aib yang ini bukan buat saya memalukan. Tidak. Namun, aib ini justru menjadi luka paling hebat seumur hidup saya.
Lagi-lagi saya selalu gagal mendapat apa yang saya harapkan. Iya, saya tahu kehendak Tuhan tidak bisa ditebak manusia. Jelas sekali masa kelam saya memberikan saya sebuah karma yang paling menyentak isi kepala saya. Tapi itu sudah berlalu. Tolong jangan ingatkan apalagi sekadar basa-basi bertanya. Saya tidak suka.
Beruntung saya gagal menikah dengan teman lama saya alias gagal dijodohkan. Dia marah saat saya memberi tahu bahwa saya telah melakukan itu pada perempuan lain, jauh dari sebelum saya mengenal Bundanya. Saya sudah pernah melakukannya. Itu juga hal yang menyakitkan buat saya. Saya mohon untuk tidak mengorek lagi, ya. Jantung saya rasanya akan keluar dari tempatnya bilamana ada seseorang yang membawanya kembali di hadapan saya.
Hari itu. Hari dimana saya membongkar kebusukkan saya sendiri. Tidak semua. Hanya sebagiannya dan sebagian lagi masih saya simpan terus membekas dalam ingatan. Jangankan dia—mantan tunangan atau lebih tepatnya mantan calon istri—keluarganya serta keluarga sayalah yang paling kecewa besar.
Mereka marah, tapi tetap kukuh ingin meneruskan ke jenjang yang lebih serius. Mereka masih terus mempertahankan saya pada gadis yang masih perawan, sedangkan saya sudah dipenuhi dengan dosa. Saya tidak mau. Sebelum orang-orang itu semakin jatuh kecewa pada saya. Saya memutuskan pergi dari rumah, menganggap hubungan anak dengan orang tua sudah benar-benar putus. Ya. Sampai sekarang saya tidak tahu kabar mereka padahal saya merindukan Mama saya. Bagaimana keadaannya? Apakah sehat selalu? Saya khawatir, namun saya tahu diri untuk tidak mencari tahu.
Mereka sudah jauh kecewa dengan saya. Maka dengan keputusan yang paling terberat dalam hidup saya. Saya hidup sendiri. Segala akses yang dulu saya punya, saya kembalikan pada Papa saya. Saya tidak berhak masih menggunakannya. Keluar dari rumah seperti orang gembel, saya menjalani kehidupan baru. Tidak benar-benar sendiri sebetulnya, sebab masih ada satu manusia lagi bersama saya.
Yaitu, anak saya sendiri. Anak dari darah saya sendiri. Anak yang katanya terjadi karena sebuah kecelakaan.
Dulu memang saya menganggapnya demikian. Namun semakin lama saya bertahan hidup dengannya. Dia bukan kesalahan melainkan dia ialah separuh hidup saya. Saya bisa hidup hingga di titik sampai saat ini, itu semua berkat dia. Dia penolong sekaligus pemberi kekuatan terbesar buat saya. Meski di beberapa waktu saya sedih melihatnya tumbuh tanpa ada pelengkap. Dia kekurangan sebagian kasih sayang, saya sedih sekali rasanya.
Perkenalkan anak saya, dia sudah berumur hampir menginjak empat tahun, sebab bulan depan dia akan berulang tahun. Hobinya menangis, merengek, dan bermanjaan pada saya. Makanan manis menjadi hal yang dia suka. Padahal saya tahu, saya dengan Bundanya tidak terlalu penyuka makanan manis. Ini lucu. Dia sangat suka gulali, mengingatkan saya pada Bundanya yang pernah saya belikan. Ah, padahal saya tidak suka orang mengungkit tapi saya sendirilah yang mengungkitnya. Maaf. Maklum kenangan saya dengan Bundanya tidak lama namun sangat membekas. Tentu saja saya masih hafal dengan kebiasaan Bundanya dahulu.
Namanya Ceka. Saya senang menyebutnya baby Ceka, meski sekarang dia bukanlah bayi lagi. Tak lupa diselipkan marga saya menjadi nama lengkapnya Arkashen Ceka Jeon Pratama. Karena dia anak pertama, jadi kita sepakat memberikan nama Pratama di akhir seperti nama saya sendiri. Kalau nama Jeon ialah nama marga keluarga besar saya yang berarti anak saya pun berhak menggunakannya. Jelas. Dia darah daging saya sendiri meski lagi-lagi disebutnya sebagai kecelakaan anak muda. Lanjutnya nama Ceka sendiri ialah pemberian dari Bundaya dan tentu saya senang dengan nama lucu itu. Kalau dipikir-dipikir itu hasil perpaduan antara nama saya dan Bundanya, bukan?
Cece, untuk panggilan Bundanya. Jeka, untuk panggilan saya sendiri. Kalau digabungkan menjadi Ceka.
Sebelumnya, Bundanya masih bingung memilih nama, karena dia tidak ingin ada nama saya di sana. Wajar. Saya tahu dia masih membenci saya seumur hidupnya. Tidak apa. Saya tahu diri bahwa saya memang tak pantas dicintai siapapun. Selain diri saya yang telah dicap sebagai bajingan sejati.
Haha. Bagaimana mungkin si bajingan itu sekarang telah menjadi Papa muda? Ceka biasa memanggil saya dengan sebutan Papa J-nya.
Mereka bilang saya terlalu muda memiliki anak yang sudah sebesar Ceka. Mereka—orang-orang luar. Saya paham kalau mereka pasti punya pikiran yang tidak-tidak tentang saya apalagi dengan melihat Ceka sekali. Sungguh tidak masalah besar bagi saya. Selama hidup saya dan Ceka tidak diganggu siapapun—yang paling penting Ceka baik-baik dan sehat-sehat saja, saya tidak pernah mempermasalahkan pandangan orang-orang tentang hidup saya. Saya belajar, lalu merubahnya menjadi lebih baik lagi. Itu poin yang terpenting buat diri saya.
Kisah saya masih panjang, kalau berkenan kalian semua ingin mendengarnya lebih baik lagi. Saya telah berubah. Kembali sebagai Papa muda beserta dengan anaknya yang menggemaskan. Apalagi ketika tengah merajuk, merengek ataupun sedang terlelap dalam tidurnya—buat gemas setengah mati. Sama miripnya dengan Bundanya Ceka. Lagi-lagi Bundanya dibawa-bawa. Hehe.
🐰PAPA J🐰
[SQUEL OF SWEETYLIAR]

PAPA J alias Sarta Jungkook Jeon Pratama

Arkashen Ceka Jeon Pratama
YOU ARE READING
PAPA J
Fanfiction2020. SEKUEL DARI SWEETYLIAR. [THE HIGHSCHOOL SERIES UNIVERSE] 7 September 2020-
