"Seriusan?" Tanya Nia.
"Iya, gua baru aja denger dari Bu Anggi. Katanya bakalan daring selama beberapa bulan ini," jawab Dian.
Aku hanya terdiam saat mendengar pembicaraan teman-temanku. Virus Corona sudah melumpuhkan banyak negara kala itu, termasuk Indonesia. Sekarang pendidikan menjadi sebuah tantangan besar bagi para guru, orang tua, bahkan muridnya sendiri. Selain akan kesulitan dalam pembelajaran, pembelajaran daring ini juga akan membuat para orang tua makin stress. Bagaimana tidak? Pembelajaran daring sudah pasti menggunakan internet dan kecanggihan teknologi. Hal itu otomatis akan menambah pengeluaran orang tua untuk pembiayaan kuota internet.
Aku duduk menunduk dikelas. Sementara beberapa dari temanku tengah asik berbincang, menonton film, bahkan ada yang tengah lari-larian tak karuan didalam kelas. Kelasku memang sudah terkenal riuhnya. Para penghuninya sebagian besar tak bisa diam. Setiap harinya pasti ada saja ulah dari teman-temanku. Entah itu terlambat masuk sekolah, membawa alat make up, memainkan ponsel saat jam pelajaran, atau apapun itu. Dulu, aku tak sekelas dengan beberapa temanku yang sekarang ini, namun sekarang aku bertemu mereka karena pihak sekolah memang sengaja mengacaknya.
Aku ingat betul bagaimana teman-temanku dikelas. Sebenarnya, mereka orang baik. Hanya saja tak bisa diam. Terlebih anak laki-laki. Mereka akan lebih sering mengganggu para guru. Mungkin, jika aku gurunya aku akan menyerah. Tapi, disinilah para guru diuji. Mendapat murid nakal tak hanya pada dijenjang pendidikan TK atau SD saja. Jenjang SMA akan lebih menemukan anak-anak bandel seperti beberapa temanku.
Kerumunan manusia bubar seketika. Mereka semua duduk ke tempat duduknya masing-masing. Aku hanya memandangi semua orang itu masuk kelas.
"Ada apaan sih? Kok pada bubar jalan semua?" Tanya Nia pada Zidan.
"Pak Iwan mau masuk."
Pak Iwan menjadi salah satu guru yang kami takuti di sekolah. Beliau mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia. Suasana kelas akan mendadak sunyi kala Pak Iwan masuk kelas. Semua menunduk. Padahal, biasanya tak bisa diam, ada saja candaan receh dari salah satu temanku. Namun, saat Pak Iwan yang mengajar, semua berubah sekian derajat dari biasanya.
"Ngapain tadi pada lari masuk kelas?" Tanya Pak Iwan tegas.
Semua orang terdiam tak berani menjawab.
"Karena tadi saya liat pak Iwan mau masuk," jawab Zidan ragu.
Aku menoleh kearah laki laki itu. Ku pikir Zidan tak akan berani menjawabi pak Iwan.
"Kalo jam kosong itu lebih baik buat baca buku, kalo nggak ya tetap didalam kelas saja. Jangan bergerumun didepan kelas, ini bukan warung," jelas pak Iwan tegas.
Sepanjang pembelajaran semua orang terdiam. Bahkan sampai pembelajaran usai. Jika pak Iwan belum keluar dari kelas semua orang akan tetap diam.
"Anying lu! Kenapa nggak ngasih tau dari tadi kalo pak Iwan mau masuk? Gua jadi kena marah karena hampir telat," kata Tio setelah pembelajaran pak Iwan selesai.
Suasana kelas kembali riuh tak terkendali. Telingaku terasa pengang mendengarkan semua ocehan anak-anak. Akhirnya, aku lebih memilih untuk turun dari lantai dua menuju Perpustakaan.
"Assalamualaikum Bu Rey."
"Waalaikum salam." Bu Rey tersenyum padaku.
"Saya disini dulu ya Bu? Dikelas rame banget," kataku sambil duduk dilantai perpustakaan.
"Iya, yang penting jangan melanggar aturan saja, lin," jelas Bu Rey.
"Siap, Bu."
Aku berdiri, mencari buku yang menarik untuk ku baca. Setiap rak ku telusuri.
"Kamu disini juga?"
Aku menoleh kearah suara itu.
"Zidan?"
"Iyalah, masa Ranz Kyle."
Aku terdiam membisu. Bukannya apa apa, ini baru pertama kalinya aku berbicara dengan laki laki itu dan pertama kalinya satu kelas dengannya.
"Kok diem?" Kontak matanya berhasil membuat jantungku tak terkendali. Sebenarnya aku sudah biasa berhadapan dengan laki laki, karena temanku sebagian besar laki laki.
"Aku nyari buku dulu ya?"
"Nggak usah, Lin. Mending kamu nonton film bareng aku aja," kata Zidan.
"Nonton dimana?" Tanyaku sopan.
"Sini," ajak Zidan.
Laki laki itu menarik tangan kananku pelan. Ia mengajakku duduk. Ia mengambil ponselnya dari saku celananya dan meletakkan di meja dengan beberapa tumpukan buku sebagai pengganjalnya.
"HP kamu nggak dikumpulin?" Tanyaku.
"Hust... jangan kasih tau siapa-siapa."
Aku tak habis pikir, bagaimana bisa ia berani melakukan hal itu? Jika Bu Intan tahu, pasti akan dirampas dan memberikannya point.
"Kalo Bu Rey kan aman, dia nggak ada urusan apa apa soal beginian," ujar Zidan percaya diri.
Zidan sibuk menggeser layar ponselnya.
"Nah, ini dia filmnya. Kamu pasti suka."
Aku hanya bisa pasrah. Sebenarnya ada rasa takut, malu, dan canggung saat aku bersebelahan dengan Zidan karena aku belum begitu paham dan belum begitu mengenalnya. Sebenarnya aku sudah tak asing lagi dengan nama Zidan, hanya saja aku hanya tahu nama saja karena sedari dulu aku tak satu kelas dengannya.
Hari itu, untuk pertama kalinya aku sedekat itu dengan laki laki yang baru saja satu kelas denganku.
******
Follow follow follow!!!!
See you next time!!
🌟🌟🌟🌟🌟
![Star And Moon [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/239005775-64-k463042.jpg)