MEL - 00

8 1 0
                                        





Aku melangkahkan kaki memasuki tempat yang menjadi saksi bisu bagaimana caraku melihatnya, caraku memujanya dan caraku mencintainya.

Hanya disini aku dapat mengutarakan perasaanku. Melalui melodi lagu yang ku ciptakan sendiri. Langkahku menyusuri tanah berlapis keramik putih itu dengan perlahan, dan mataku berkeliling memperhatikan beberapa perabot perabot yang masih terpasang dan tidak berubah posisi meski sudah tujuh tahun lamanya aku tidak menginjak lantai ini.

Aku berhenti di salah satu perabot yang tidak aku kenali dan aku duga bahwa perabot ini termasuk baru, karena aku tidak melihat adanya goresan atau debu menggunung yang menempel di berbagai sisi. Aku kembali melangkahkan kaki, kali ini berhenti di depan lukisan yang menurutku super megah namun mencerminkan kedewasaan. Aku tahu ini lukisan yang dibuat salah satu mahasiswa, tentu aku tahu karena di sisi sudut kiri terdapat nama yang tidak aku kenali.

Literally, aku tidak punya banyak teman. Aku hanya mempunyai satu orang teman dan itu satu satunya orang dari masa kanak kanak yang aku bawa sampai sekarang. Dia... terlampau baik.

Aku bersyukur, diantara banyaknya orang yang sempurna dia memilih 'aku' untuk menjadi tempat curhatannya. Tempat berkeluh kesah, dan tempat pelampiasan.

Oh, ya. Tentu saja. Hidup itu bukan hanya tentang kesempurnaan sifat dan cara bersikap. Dia juga seperti itu, memiliki kekurangan yang jelas berbeda denganku. Dia sempurna, dan walaupun aku juga sempurna - setidaknya sebelum kecelakaan itu menimpaku - aku tetap tidak akan sama sepertinya. Dia dapat bergaul dengan banyak orang tanpa rasa kecanggungan sama sekali. Orang orang sering menyebutnya friendly and the royal bahkan akupun berfikiran sama seperti mereka.

Aku menerima semua kekurangan yang dia miliki dan berharap dia juga menerima semua kekurangan ku.

Aku berbalik dan kembali berjalan memutari ruangan. Berfikir apa saja yang telah aku lewatkan tujuh tahun ini? Aku sudah lama tidak berkunjung ke tempat tempat umum. Di karenakan salah satu kekuranganku yang tidak bisa berbaur dengan banyak orang atau tidak bisa satu ruangan dengan orang banyak. Itu membuatku sesak. Awalnya itu di mulai dari rasa risi, gelisah, dan merasa bahwa darahku terkuras saat satu ruangan dengan banyak orang, namun tiga tahun belakangan efek yang ku terima menjadi semakin parah hingga membuatku sesak nafas.

Itu hanya salah satu yang terburuk.

Usai memutari ruangan dan mencerna dengan baik ke dalam kepala, aku menuju hal yang dapat mengingatkanku kepadanya. Bermain piano.

Menarik nafas sedalam mungkin dan menghembuskannya dengan pelan. Aku memulai membuka lembaran yang telah lama aku sembunyikan. Tanganku mulai turun dengan perlahan hingga menapak pada dataran tuts tuts piano yang siap aku mainkan.

Pertama, aku ragu ragu dan hanya menekan dengan pelan hingga suara pun enggan mengeluarkan melodinya.

Lalu aku menarik nafas lagi dan menghembuskannya pelan, aku mengulangi sampai tiga kali. Dan saat aku yakin bahwa ini saatnya aku memulai menekan tuts piano hitam putih itu, aku melakukannya.

Menekan tuts itu hingga menimbulkan melodi yang berangsur angsur berubah menjadi lagu.

Mataku terpejam, menikmati rasa yang mulai merasuk ke dalam pikiran, tubuh, dan jiwaku. Air mataku menetes satu demi satu seiring berjalannya melodi sendu yang aku ciptakan. Delapan tahun lalu, aku membentuk sebuah ruang ilusi. Dimana aku mampu bertemu dengannya tanpa halangan. Dimana aku mampu menatapnya tanpa sebuah buku. Dan dimana aku mampu berbicara dengannya... tanpa takut salah berucap.

Di atas kursi, di ruang musik, dan bermain piano.

Aku pertama kali melihatnya disini. Di ruang ini.

Berdiri di samping pintu dengan sepenuh keyakinan melangkah mendekat ke arah barisan kursi dan duduk disana dengan nyaman.

Aku merindukannya.

Walau aku tahu... hatiku tak akan sanggup bertemu dengannya.

Dan inilah kisahku.

MEL(LOW)DIWhere stories live. Discover now