1. Tobat

29 2 2
                                        

Jika ingin berubah, maka lakukan!
Jangan omong kosong saja!

-Vino yang baru niat berubah-

S E L A M A T M E M B A C A

Suanasa terasa semakin panas, ketika jarum jam menunjukkan tengah malam. Semua orang bersorak sambil menghitung detik-detik pergantian hari. Seperti nocturnal, semua yang ada di sini merasa lebih semangat saat tengah malam seperti ini.

Saat jarum menit menunjukkan tepat pukul 12 p.m semua serentak bersorak mengucapkan selamat ulang tahun kepada gadis yang sedang berdiri di samping kolam berenang. Gadis itu terlihat mengangkat gelasnya untuk mengajak semua bersulang. Selanjutnya DJ mulai berperan dalam memanaskan suasana, dentuman musik makin terdengar keras selaras dengan goyangan-goyangan tubuh para tamu yang hadir---benar-benar midnight party yang heboh.

Akan tetapi sepertinya hanya satu orang yang tidak menikmati pesta itu. Dia adalah pemeran utama pada pesta kali ini---Lily. "Vino kemana sih?" tanyanya geram kepada temannya.

Vino yang dicarinya adalah pacarnya yang baru sebulan ini menjalin hubungan. Vino adalah cowok tampan yang selalu dikelilingin banyak cewek ..., bisa dibilang di mana ada Vino maka di situ ada cewek yang menemaninya. Lily sebenarnya tidak suka dengan sifat play boy milik pacarnya itu. Tapi, Lily tetap bertahan karena Vino sangat tampan dan kaya.

"Vino enggak keliatan dari tadi," jawab teman Lily. Lily menghentakkan kakinya geram lalu berjalan meninggalkan kolam renang yang menjadi tempat pesta diadakan.

Lily berjalan masuk ke dalam rumahnya, namun sebelum sampai ke dalam rumah pinggangnya terlebih dahulu ditarik oleh seseorang. "Kamu kemana aja sih?! Jangan bilang kamu abis kencan sama cewek lain!" tuduh Lily saat melihat pacarnya yang telah ditunggunya sedari tadi.

"Aku cuma mau kasih kamu kejutan aja," ujar cowok bernama Vino itu.

Lily mendengus kesal. Ini adalah ulang tahunnya, namun pacarnya malah datang telat dengan alasan ingin memberikan kejutan? Sebenarnya dia sedang bercanda dengan siapa sekarang?! Lily tahu apa yang dilakukan oleh Vino sebelum berangkat ke sini. Bekas lipstik di kerahnya telah menjelaskan semuanya.

Walau begitu, Lily tidak berniat untuk memutuskan Vino atau pun mencintai Vino. Lily hanya berpacaran dengan Vino untuk dibanggakan di depan teman-temannya---hanya itu. Sementara Vino? Palingan dia pacaran dengan Lily hanya untuk menambah koleksi mantan.

"Kamu bawa hadiah, 'nggak?" tagih Lily.

Mata Vino melebar. Dapat dilihat dari reaksinya kalau Vino seratus persen melupakan hari ulang tahunnya. "Emm ... itu ada di mobil." Vino mulai mencari-cari alasan kembali.

Lily menyipitkan matanya, "Bilang aja kamu lupa!"

"Hehe maaf Sayang." Vino berujar sambil mengecup lembut dahi Lily. Lily terlihat bersemu saat kecupan itu mendarat di dahinya. Di saat seperti ini, Lily hanya perempuan biasa yang pasti jatuh ke dalam pesona Alvino Alexander Ginandra.

Vino kemudian mendekat ke telinga pacarnya itu, lalu membisikan sesuatu di sana. "Nanti aku beliin kamu smart phone terbaru deh," bisiknya. Otomatis hal itu langsung membuat sudut bibir cewek itu naik. Harta seorang Alvino memang tidak pernah mengecewakan, apa lagi dia adalah anak seorang pengusaha sukses di Indonesia.

Saat mereka sedang berbincang hangat, tiba-tiba hand phone Vino berdering. Dia mengecek nama penelepon dari layar touch screen-nya---itu adalah mamanya.

"Bentar ya ...." Vino memilih untuk menjauh dari Lily saat menerima telepon dari mamanya. Walau pun Vino bukan anak yang baik, tapi dia tidak ingin mamanya tahu akan sifatnya yang sangat tidak baik itu. Mama Vino selama ini tinggal di luar negeri bersama kakak perempuan Vino. Meskipun Mama Vino tidak berada di dekatnya ... namun Vino paling menyanyangi mamanya lebih dari siapa pun.

"Hallo, Mom!" sapa Vino dengan girang. Sudah lama dia tidak bercakap-cakap dengan mamanya---walau melalui via telepon sekali pun.

"Where are you, son? Kenapa ribut banget? Kamu berpesta lagi?!" tuduh mamanya dengan tepat.

Gawat!

"Em? No, i just ...."

"Apa? Kamu mau buat alasan?" Kan benar, gawat jadinya kalau mamanya tahu Vino sedang berada di pesta lagi.

Memang dari dulu Mama Vino paling tidak suka jika dengan sifat Vino yang suka berpesta di sana-sini. Vino tahu itu, tapi dia tetap melakukannya dengan diam-diam tanpa diketahui mamanya. Namun sepertinya sekarang mamanya mengetahui hal itu. Ini pasti ulah kakaknya!

"Ini, Ma. Vino lagi di ulang tahun temen." Benar, 'kan? Vino sekarang sedang berada di pesta ulang tahun ..., walau pesta ulang tahun pacarnya yang kesekian.

"Temen atau pacar baru kamu?" tebak Mama Vino dengan benar lagi.

"Itu ...."

"Pokoknya kamu pulang sekarang! Mama ada di rumah saat ini."

"Apa?! Ma?"

Tut ....

Sambungan telepon putus, mamanya Vino memutuskan telepon itu secara sepihak. Gawat, Vino harus pulang sekarang. Vino mengambil mantelnya yang sebelumnya diletakkan di atas sofa.

"Kamu mau kemana?" tanya Lily panik.

Vino melihat sekilas ke arah Lily, lalu mengabaikannya tanpa menjawab satu kata pun.

"Kamu pergi sekarang, kita putus!" teriak Lily. Vino menghentikan langkahnya, lalu berbalik. Lily menyungging senyuman, dia merasa kalau ancamannya telah berhasil.

"Yaudah. Putus aja. Selamat lo jadi mantan gue yang ke tiga puluh!" Lily bengong tak bisa berkata apa-apa, sementara Vino langsung berjalan menjauh. Lily hanya bisa menatap punggung lebar itu dari kejauhan, otaknya tidak bisa mencerna perkataan Vino tadi.

Sementara Vino? Dia tidak memikirkan sedikit pun perasaan cewek yang satu menit yang lalu masih menyandang status sebagai pacarnya itu. Toh, dia akan dengan mudah mendapatkan yang lain. Begitulah yang selalu ada di pikirannya.

Vino mengambil kunci motor sport-nya dan langsung tancap gas. Dia sekarang benar-benar panik karena mamanya pulang secara tiba-tiba. Jika boleh jujur, sebenarnya dia lebih panik dengan mulut kakaknya. Dia tahu kalau kakaknya itu suka menceritakan hal buruk tentangnya kepada Mama.

Motor Vino melaju dengan kecepatan tinggi. Memang dasarnya Vino suka ikut balap liar, jadi kecepatan segini adalah kecepatan rata-rata saat dia menunggangi kuda besi itu.

Hanya butuh sekejap, Vino telah sampai di rumahnya. Rumah nan besar dan berinterior modern adalah rumah yang ditingali olehnya dan ayahnya yang super sibuk.

"Selamat datang, Tuan Muda." Para pelayan langsung menunduk ketika Vino turun dari motornya.

"Mama mana?" tanya Vino panik.

"Nyonya besar ada di dalam, Tuan Muda." Vino mengacak rambutnya kasar. Dia melempar helmnya asal. Untung seorang pelayan dengan sigap menangkapnya. Vino langsung berlari lagi masuk ke dalam rumah besarnya itu.

Dia masuk dari pintu samping, ingin menghindari mamanya. Setidaknya dia harus berganti pakaian terlebih dahulu agar tidak tercium bau alkohol dari bajunya.

Vino mengendap-ngendap masuk ke dalam rumahnya sendiri.

"Ma! Ada pencuri!" teriak suara cempreng yang sangat dikenal oleh Vino.

Sial!

"Vani kampret!" gumam Vino sambil melirik ke arah kakaknya yang sedang berdiri di samping meja sambil tersenyum jahil.

-TBC-

Ps: Ini karya comeback aku di wp, semoga kalian suka^^

Tomorrow    Stories to obsess over. Discover now