Bel berdering nyaring, petanda jam istirahat dimulai dan dimulai juga bagiku meringkukkan kepala di meja, berpura-pura tidur dan berharap benar-benar tertidur. Tidak, bukan berarti aku tidak punya teman di kelas dan melewatkan istirahat dengan meringkukkan kepala, yang terlihat menyedihkan.
Sebaliknya, aku tidak mau berteman. Untuk apa. Mencontek PR? Konyol sekali, untuk apa kau sekolah kalau kau datang dan menyontek pr temanmu. Lagi pula, semua anak remaja saat SMA ada dalam masa-masa yang sangat menyebalkan.
Lihatlah dipojokan sana, sekumpulan gadis yang heboh dengan berita artis favorit mereka. Aku yakin satu di antara 5 gadis itu benar-benar tidak menyukai artis tersebut. Mereka hanya ikut-ikutan, tidak ingin tertinggal berita heboh. Lompatlah dari lantai 2 dan kau menjadi heboh.
Sementara di baris belakang, ada sekumpulan laki-laki yang men-stalk sosial media gadis cantik. Mereka berteriak kegirangan ketika mendapati foto gadis tersebut. Di mataku terlihat seperti kera yang kegirangan mendapatkan buah pisang satu ton, dan kau sekarang membayangkan kera-kera itu berteriak.
Mengenai sosial media, aku bahkan lupa kapan terakhir aku menggunakannya. Terutama facebook, sudah lama aku tidak membukanya. Mungkin serakang fb-ku sudah penuh sarang laba-laba, kotor dan lembab, bisa saja ada pengemis yang tiduran di beranda facebook-ku. Terdengar lucu, tapi serius, aku tidak pernah membuka facebooklagi sejak ada yang mengirimiku pesan, “hai, apa kau Arman yang dulu smp di negeri 3.”
Alasan yang kana-kanak, begitulah, ada kisah anak-anak yang suram di balik pesan tersebut. Anggap saja saat itu aku sengaja menempelkan permen karet ke rambut siswi tercantik di sekolah dan karena itu dia harus mencukur rambutnya. Menjadi ejekan kemudian.
Maksudku, sosial media itu memudahkan, untuk apa saja. Sisi buruknya adalah ada orang yang tidak kau sukai tiba-tiba bisa menemukanmu. Mungkin jika aku menyertakan alamat asliku, malamnya akan mengetuk pintuku, saat dibuka, dia bertanya seperti pesan yang dikirimkan padaku.
Dan menjadi penyendiri adalah jawaban untuk hidup tenang. Di mana saat masa-masa SMK ini, kau tahu lah mereka sangat enerjik, membuang energi mereka untuk hal-hal konyol dan aku di sini sebagai contoh orang yang memanfaatkan energi sebaik mungkin.
Kau hanya perlu fokus belajar, mendengarkan guru dan memahami pelajaran. Otak murid SMA adalah saat-saat cemerlangnya. Bisa menyerap pelajaran apa saja. Meskipun itu seperti sebuah busa. Bisa menyerap banyak air. Sanyangnya saat busa tersebut diperas, semua airnya akan keluar. Itulah apa yang kami—mereka alami. Mereka menampung segala pelajaran namun saat ada tekanan, semua pelajaran itu hilang seperti air yang keluar dari busa.
Contohnya adalah temanku, dia sangat pandai namun dia sangat tertekan saat ujian nasional. Nilainya turun dratis seperti kau melompat tanpa paratus dari pesawat, mati. Karena kejadian itu, aku berharap tidak ada lagi ujian nasional.
Maksudku untuk apa? Lulus karena nilai tidak menjamin kehidupanmu di masyarakat. Oke, mungkin kau akan dipuja tapi setelahnya orang-orang akan berkata, ah dia hanya bagus dalam pelajaran, soal pekerjaan dia payah.
Terdengar menyakitkan. Tapi nyatanya memang pelajaran yang didapatkan di sekolah hampir tidak bisa digunakan di masyarakat nantinya, atau bahkan di tempat kerja. Tidak ada bilangan X saat kau membeli gorengan atau bercakap Bahasa inggris saat sedang nongkrong di warkop.
Harusnya sekolah lebih melihat ke bakat dan minat.
Memikirkan itu semua membuatku lelah dan di pelajaran selanjutnya, aku tidak benar-benar fokus. Bersyukur aku ada di bangku paling belakang, tidak terlalu dihiraukan guru.
Ketika sekolah usai, para murid seperti terlihat hidup, bahkan mereka berlarian keluar dari gerbang sekolah yang tingginya tidak lebih dari 150 cm. Aku? Berjalan santai seolah tidak ada yang akan kulakukan di rumah nantinya.
Meskipun berjalan santai tidak benar-benar baik seperti yang ada di artikel kesehatan. Ya, di kota Jakarta ini, suhunya sangat panas. Ah, Cuma segini panas di neraka? Kau bisa membayangkan kalimat itu keluar dari orang Jakarta yang nantinya mampir ke neraka.
Tidak hanya terik matahari yang menyengat kulit, namun juga karena polusi yang tidak karuan. Terutama dari kendaraan-kendaraan di jalan raya. Aku yang berada di trotoar seakan seperti ada atas mesin mobil-mobil tersebut. Panas.
Lagi pula, sudah ada kendaraan umum. Bis, taxi, ojek dan lain-lain. Kenapa mereka masih menggunakan kendaraan pribadi. Ah mungkin mereka cuma pamer mobil tapi serius, untuk apa kau punya mobil jika nantinya macet di tengah jalan. Tidak berguna.
Seperti siang ini, di jalan raya banyak mobil terjebak macet. Mobil-mobil berderet panjang seperti akan bersatu dan menjadi robot raksasa. Selanjutnya menyerang monster dan–
Braakkk!!!
Segera aku berbalik begitu ada seorang yang menabrakku dari belakang. Seorang gadis berjaket kuning langsat dipadu rok selutut berwarna orange, buru-buru mengambil smartphone-nya yang terjatuh di trotoar.
Kau pasti memikirkan apa yang kupikirkan. Ya benar, aku tidak mau mengganti smartphone-nya jika rusak karena jatuh menabrakku. Memang apa lagi yang kupikirkan selain itu.
“Maaf-maaf,” ucap gadis tersebut, membenahi rambut sebahunya yang sedikit berantakan. “Tadi aku terlalu fokus ke hp dan kemudian menabrakmu,” lanjutnya menjelaskan.
“Ya, tidak masalah,” kataku berbalik dan mulai melangkah lagi. Yah, aku tidak mengharapkan kisah cintaku dimulai dari sini, dari tabrak-menabrak seperti yang ada di ftv.
“Tunggu,” ucap gadis itu membuatku harus menoleh ke arahnya lagi. Mungkin benar dia ingin ganti rugi karena ponselnya jatuh dan rusak. “Apa kita pernah berjumpa sebelumnya?”
Fuuh, syukurlah bukan untuk ganti rugi.
“Tidak pernah,” jawabku singkat.
“Tu-tunggu,” sekali lagi gadis itu membuatku harus menoleh ke arahnya. Bahkan aku belum melangkah. Kumohon biarkan aku pergi dan membuat kecewa para pembaca. “Kau…” gumamnya terdiam menatapku.
Bagitu pun juga aku, terdiam memandangi gadis yang kini mencoba mengingat sesuatu. Mungkin orang yang mirip denganku.
Tiba-tiba wajahnya berubah sumringah, mendekat ke arahku dan berkata, “hei, bukannya kau Arman dari SMP NEGERI 3?”
“HAH?” pertanyaan tersebut membuatku terkejut. Pertanyaan yang membuatku tidak lagi membuka facebook dan mungkin juga tidak lagi membuka hidup.
“Kau ingat aku kan? Aku Ria,” ucap gadis tersebut membuatku kembali mengingat masa-masa buruk saat SMP. “Ah, seragam yang kau pakai…”
“A-ada apa dengan seragam yang kupakai?” tanyaku tidak nyaman.
“Aku akan pindah ke sekolahmu.”
“HAH?!”
Bagus, sekarang kisahku benar-benar dimulai dari tabrak-tabrakan. Seperti FTV yang menyebalkan
YOU ARE READING
Jalanin aja
Teen FictionBagiku cara untuk hidup tenang adalah menghindari masalah. Karena itu di sekolah aku tidak punya teman. Bahkan waktu istirahat kuhabiskan dengan meringkukkan kepala. Namun seorang teman lama yang tidak kuanggap sebagai teman pindah ke sekolahku. Keh...
